4 Feb 2014

.sekat.



Ada sekat antara saya dan mereka
itu yang saya amat pahami di kali pertama masuk dalam dunia ini.
baik secara fisik -yang tak perlu kujelaskan apa itu, maupun secara ruhani.

Ada ilmu yang saya pahami,
wawasan yang saya ketahui,
kelebihan yang saya miliki,
...mereka tidak

Ada akhlak yang mereka ketahui,
ilmu yang mereka terapkan,
visi  yang mereka bangun,
...saya tidak

apa itu menjadi dinding pembatas?
saya pikir, 'ya'
dalam beberapa kondisi, i dare to say.

namun, yang membuat saya terperangah. Adalah bagaimana lingkaran itu saling menjaga.

Dalam beberapa kesempatan, saya kerap melihat indahnya sebuah persaudaraan.
Atau beruntungnya memiliki sebuah relasi.
Atau dalam setiap guratan senyum yang menjadi khas mereka.

mereka homogen.
namun mereka membaur.
Aish, jangan memandang sebelah mata.
Ambil sisi baiknya.

kadang mengganggu. tentu saja.
mungkin itu hanya usikan negatif dari sang pengganggu.

..kata insan yang masih perlu banyak belajar dari mereka

Jakarta, 02 Februari 2014

29 Jan 2014

how's the "exact" meaning of time?

"How IS the exact meaning of TIME, based on "my" own perspective?"
note : 23rd August 2013

This question above begin my elaboration and contemplation in order on making this essay as the one who's having a place in social society (thats actually makes the writer seems choosing the wrong major -not to be the anthropologist one). It seeks to highlight the exact meaning of time based on others argument, then compare it to writer's own perspective. Consist of the case in everyday life of thinking from the simple-minded person. While it is interesting to be as an observer of life, as we are, the social human that unconsciously holding a role (whether its important or not) as a social-human person.


27 Jan 2014

menjadi *manusia* part 3


Tanpa sadar, dalam 3 hari ini saya keranjingan menulis blog, rupanya. Sebuah intuisi yang jarang saya bangun *barangkali, kebetulan saja karena di rumah ada akses internet, jadi terbayar sudah puasa hampir2 satu semester, nge-net, melsayakan hal2 tidak berguna seperti stalkerin orang, dimana belakangan ini, saya pikir hal tersebut penting sebagai dalih untuk standar kaderisasi.

Kemudian, saya mencoba melanjutkan sebuah kisah yang mana, penting bagi saya untuk menuangkannya. Sambil membayangkan ini menjadi sebuah memori indah yang akan terkenang, dalam torehan senyum dari wajah saya nanti *futuristik mode on.

bismillahirrahmanirrahim,...

menjadi *manusia* part 2

bismillahirrahmanirrahim

"absurd"

Barang kali, itu kali pertama saya mengawali sebuah perenungan di tengah goresan malam dari lazuardi bertabur gemerlap rasi orion, kalau2 keberuntungan saya di tengah langit perkotaan bisa melihat messier 1. *kita cukupkan pembicaraan astronomi. Di sini kita tidak ingin membuka forum diskusi.

Saya ingat di satu malam, periode awalku memasuki sistem baru, teman saya menceritakan keluh-kesahnya pada saya. Kemudian, saya menjawab *selayaknya orang bijak yang dimintai nasehat*, untuk, "tidak menjustifikasi orang dari kali pertama kau melihat, atau bahkan dalam kali kesekiannya. Karena seberapapun kau mengenalnya, akan banyak hal menakjubkan yang mampu kau temui dari sisi lain seorang insan. Selayaknya kita memposisikannya sebagai objek dengan identitas beragam dan variatif, dan kita sedang memandang tinggi untuk nilai keunikan tiap individu tersebut,"
...bahasa sederhananya sih, kita gak bisa langsung berargumen, "gue gak suka dia... dia orangnya begini," dan sebagainya. Karena barang kali, yang kita lihat hanya refleksi permukaan dari bagaimana 'ekspektasi' dia untuk kita menganggap dia seperti apa? Jika dia berharap kita memandangnya sebagai orang bijak & kita memang betul kemudian berpikir dia orang bijak (nyatanya tidak sepenuhnya), artinya ia sukses membangun model karakter hingga paradigma kita seperti demikian adanya.

er,.. bagaimana? apa penjelasanku cukup jelas?


Kemudian, saya gemar memposisikan diri sebagai seorang observer of life, sebagaimana aku sering berujar pada teman sekamar saya yang senang saya ajak untuk berdiskusi. Bahwa manusia itu variatif. Masing-masing dari mereka unik.

dan poin pokok ke arah mana saya ingin bercerita adalah, bagaimana sistem -yang mana saya mengawali dari semester 3 kemarin, adalah sebuah tempat dimana (bagi saya pribadi) adalah murni didominasi orang2 yang saya memandang banyak pelajaran dari mereka. dan dalam memaknai betapa fitrinya perbedaan -meski sering kali saya merasa diri sebagai sosok minoritas yang tidak terdiskriminasi.


Saya baru mengawali cerita di sini, kawan.

26 Jan 2014

menjadi *manusia* part 1

Saya mencoba mengawali pembahasan ini sambil mengingat celetukan dari seorang senior saya di bawah atap yang sama *yang tak saya sebutkan namanya. Seorang yang membuat saya kemudian terbangkit motivasi untuk menulis hingga kemudian mengawali intuisi menggores blog ini dengan warna dan dinamika hidup baru.

SEsungguhnya, aku ingin mendahulukan 3 posting di evernote saya. KEtimpangan saat berpikir, blog terlalu "publik" sedangkan yang dibutuhkan seorang insan dengan pasang surut semangat dengan segala perenungannya adalah utsuwa yang mampu mengampu segala gagasan yang agaknya terdengar konyol untuk bisa dikritik di publik. Sehingga, alternatifnya ya dengan evernote. Paling tidak, sekonyong-konyongnya saya paham siapa saja yang pantas melihat laman saya dan menerima berbagai perspektif pribadi. forgive me if however i say a rude thing which i did it uncounscioiusly,

Pertama, adalah aku sudah beranjak menuju semester 3.

Kedua, fakta bahwa selama satu semester yang lalu, aku mulai masuk dalam sistem baru, dimana tak pernah terbayangkan sebelumnya untukku.

Ketiga, dan fakta serta lingkungan tersebut membawaku sedemikian rupa sehingga membuatku merasa lebih bersikap seperti ..."manusia"

Mengapa demikian? Izinkan saya mengisahkan segaris perspektif manusia kerdil ini, yang dapatlalh saya katakan tak akan cukup untuk dibahas dalam satu part. Dan di malam yang larut ini, sekitar pukul 22:42WIB dalam perenungan malam oleh manusia berotak dangkal ini, saya mengizinkan diri saya melakukan hal yang lebih bermanfaat selain daripada mengawali sebuah tulisan dengan kontemplasi rendah.

Setidaknya, saya beri satu petunjuk untuk mengawali pembicaraan ke depan :

"Darush Shalihat"

Regards,

7 Des 2013

pendidikan interdisipliner


Dunia dengan jelas mengetahui bagaimana semsta berkembang akibat dari peran berkesinambungan antara -sains dan teknologi. Sebagaimana relasi antara teoritik yang dipadukan dengan sebuah ilmu praktis dalam pengaplikasiannya. Hal sebaliknya pula terjadi dalam pemahaman aplikasi dengan pemaknaan konsep ilmu tersebut. 
Sejalan dengan itu pula, merupakan sebuah apresiasi luar biasa bagi intelegensi manusia yang mampu merangkul kedua gagasan tersebut sehingga dapat mem-progress alam semesta dalam wujud sedemikian adanya kini.
Siapa yang mempedulikan pengamatan spectrum matahari, hingga terpikir kemudian dalam menciptakan gadget portable layar touch screen dalam kurun waktu kemudian? Atau pengataman perilaku benda langit dalam memahami lintasan temput terdekat bagi pesawat terbang mengarungi antar benua. JIka bukan karena saintis yang mampu mengelaborasi seluruh data dan gagasan yang ada, kemudian menciptakan sebuah konklusi yang berfaedah bagi khalayak umum?
Seorang saintis ada, bukan akrena tuntutan mengerjakan soal-jawab. Permasalahan yang diajukan dalam selembar ujian tertulis, tidak dibuat untuk diselesaikan demi menuntaskan standar SKS dan lulus dengan predikat cum laude. ‘soal’, ada sebagai representasi dari permasalahan kecil mengenai prola perilaku alam semesta, yang notabennya bersifat general. Sehingga, adalah sebuah kenisbian untuk setiap individu, -bahkan bukan hanya saintis –dalam memahami konsep interdisipliner.
Pendidikan interdisipliner merupakan pendidikan holistic yang dapat –merangkul sekumpulan ranah pendidikan yang berbeda, dalam sebuah topik diskusi menarik dan mengkaryakan dalam kondisi kontemporer. Penulis mengamati dalam prosesnya, pendidikan ini tidak didapat dari sebuah standar kurikulum semata –yang bagaimanapun jika dipaksa terbentuk dalam sebuah system, agaknya cukup mencenangkan. Melainkan dari sebuah forum diskusi dari sekelompok cendekiawan dengan ranah mereka masing-masing. Dalam perspektif berbeda, serta pengetahuan dan karakter (keunikan) mereka masing0masing. Jauh berkualitasjika forum tersebut terdiri dari kamu intelektual dalam bidangnya, dalam hal ini adalah : mahasiswa.
Forum inilah yang selayaknya dituntut sebagai promoter pengasah pemikiran kritis mahasiswa. Sehingga ranah eksakta tidak hanya mencetak mesin penjawab rumus semata, namun pemikir ulung dalam kontribusinya pada masyarakat, lebih-lebih bertanggung jawab akan ilmu yang diembannya dan totalitas dalam pengabdiannya. 

6 Jun 2013

satu mimpi.

Baik.
Mari kita awali elaborasi ini dengan satu kata. Saya harap tetap konsisten hingga di akhir kisah : "saya sepenuhnya baik-baik saja,"


Anggaplah, saya punya sebuah kisah untuk diceritakan. Tentang seorang pribadi pemimpi, yang orang-orang yakini dia memiliki visi yang -bisa saja ditertawakan oleh kaum realistis, maupun dipuja oleh golongan idealis.

"Visioner", begitulah karakternya. Mari kita sebut pribadi ini sebagai si "A". Individu yang mau membangun kisahnya dari kaki hingga ubun, menata sedemikan rupa tujuannya, dan merajut makna penting dari karakter sebagai refleksi sikap.

Gila visi? Bisa dikatakan iya. Jika harus dituntut pada proses perealisasian tujuan, ia amat giat berkreasi. Namun, saat ia menggabungkan proses itu, kini harus ditantang untuk memilih di antaranya. Ya, antara menuntut konsistensi yang pasti, atau mengabaikan duniawi sambil menikmati hasil dari pelihnya berinovasi?

Maka, boleh kusebut makna 'dewasa' adalah orang yang bisa berpikiran bijak. Waras dalam mengambil keputusan rasional antara intuisi sesaat dengan kondisi kali ini. Sudutkanlah A dalam kondisi seburuk apapun! Tantang dia, mari kita lihat keputusan dia selanjutnya.

Sambil merengut, saya yakinkan diri saya sambil berkata, "hidupmu masih panjang untuk merajut kembali bagian dari mimpimu,"
Kali ini, pikiran waras memang harus bertindak.Mengulum senyum, sontak kujawab, "terima kasih" dan berlalu pergi.

4 Jun 2013

Indahnya Ukhuwah Islamiyah

Qur'an digital.PNG
"maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?"

Setelah beberapa hari sempat dengan emosi fluktuatif, sekarang saya sudah mencoba berpikiran lebih objektif menanggapi berbagai persoalan.

Dalam beberapa minggu ini cukup menjadi satu momen paling complicated. Setelah pasang surut dalam memaknai prinsip -hidup maupun keyakinan (menyikapi kondisi belakangan ini di lingkungan sekitarku), kemudian musibah yang terjadi dalam keluarga besarku. Sesungguhnya, saya hendak menceritakan hal ini.

Jika saya mengawali elaborasi cerita ini dengan ucapan alhamdulillah, bukan berarti saya mensyukuri bagaimana musibah ini terjadi. Namun, di sisi positif pun akhirnya saya bisa menemukan dan memaknai indahnya ukhuwah islamiyah.

23 Mei 2013

sooner or later

well, seems like i just know the exact meaning of my favorite song.

Once, i do remember the first time i know this one, during my first holiday (definitely as the freshgraduate one), trying to finish my 1st essay *remember this hard moment* then feels attractive all at once for this song.   Big applause for Mat Kearney :)


Sooner or later -Mat Kearney

21 Apr 2013

tetap belajar

"anak muda boleh saja berpikir segila mungkin, selama mereka tidak berhenti belajar. Mereka yang berkoar anarkis, adalah mereka yang berhenti belajar karena merasa sudah pintar"

kalimat ini dikutip dari pernyataan KH Achmad Musthofa Bisri, atau yang diakrab Gus Mus. Sekilas, aku melihat sosok bersahaja beliau yang banyak hal unik bisa saya pelajari dari sini.

Setelah cukup lelah terjebak dalam keombang-ambingan masa labil remaja, aku mencoba untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih luas, dan ya! saya menemukan sosok unik yang 'berkarakter'. Tergugah hati saya menonton tayangan ulang kick andy -padahal sudah lama sekali- tentang sosok Gus Mus ini. Beliau juga orang NU, sahabat Abdurrahman Wahid ketika di Kairo dulu, dan 'berkarakter' dengan (pandangan saya) menjalani hidup sedemikian rupa -santai dalam persepektif beliau. Riwayat hidup yang cukup kacau, diterima di al-azhar kairo secara (beliau sendiri berkata) 'iseng nulis aplikasi dan menjawab beberapa pertanyaan, lalu diterima' -saya juga cukup enggan menerima fakta seperti itu.

Saya melihat banyak pula sosok yang bisa menjalani hidup sedemikian adanya dengan bersahaja, namun tetap sukses pada prinsip yang selama ini mereka anut. Mereka memiliki apa yang disebut orang sebagai 'rendah hati', 'tidak pamer', namun tetap konsisten pada 'hobi' yang digeluti. Pencapaian? ikuti saja kata hati.

Setelah mengalami 'pencerahan wawasan pengetahuan kepenulisan' dari mba Iyas (beliau sudah cukup expert di bidang kepenulisan, atau lebih tepatnya beliau dan suaminya) ini, aku mencoba berpikir ulang mereset paradigma yang selama ini kubangun. Iya, aku sadar ada satu pencapaian yang bagaimanapun tak boleh dilupakan 4 tahun ke depan), namun harus ada yang diimbangi oleh konsistensi tersebut.

Toh, dunia tidak sempit. masih banyak kok yang bisa kita jadikan motivator, tetap dalam konteks untuk memotivasi diri sendiri. Aku belajar banyak dari temanku, Fitri Hasanah Amhar, "may, kita pokoknya HARUS jadi orang hebat", atau Annisa Mutiara Maharani, "inget janji kita ya, untuk ketemu s2 di MIT"

Dan bagaimanapun juga, aku sudah menghitung kegagalanku untuk 2 semester ini (sejauh ini). Kegagalan yang cukup banyak untuk menjadikan ini pengalaman berharga untuk belajar. Tiba-tiba saja teringat mapres UGM, kak Faelasufa, kegagalan 7 kali, keberhasilan 8 kali. Aku bahkan ragu, kegagalnku lebih banyak daripada beliau.

Bagaimanapun, hidup itu tetap harus dijalani dengan tenang. Setenang kita mengetahui hobi kita, dan bergelut di situ. Karena remaja boleh berpikiran hal tergila, aku juga sedang menunggu pengumuman (yang seharusnya malam ini) tapi belum ada respon. -kembali ke konteks- karena boleh berpikiran hal tergila, aku mencoba mencari2 cara dimana saya bisa mencari tahu sendiri eksistensi saya harus diletakkan dimana, juga lingkungan yang saya bangun harus seperti apa, dengan karakter apa adanya -tak perlu memaksa jadi orang yang saya kagumi-.

berpikir segila mungkin, ya... *mulai berpikir yang aneh2
-closing-

1 Mar 2013

"idealisme"

sejujurnya, aku sudah -cukup- capek terjebak dalam idealisme mahasiswa. Entahlah. Semangat berkoar tentang kebangkita bangsa? Dunia yang selama ini kutempuh menyuguhkan berbagai realita soal keadaan polemik. Apalagi mengingat lingkungan yang kubangun selalu berisi orang-orang realistis, yang saking realistisnya, selalu merendahkan mimpi besar idealisme orang lain, "udah lah lo jangan mimpi ketinggian. paling nggak buat hidup lo berguna buat diri sendiri, gak perlu mikirin orang lain." barangkali begitu seruannya.

Ah, ya. Waktu itu aku ingat. Masa SMA aku mulai bertemu dengan orang-orang hebat. Luar biasa menginspirasi, dan dia adalah salah satu teman dekatku. Dia nggak berpikiran idealis, memang. Tapi paradigma yang ia bangun selalu berusaha melakukan hal absurd menjadi lazim dengan semangat luar biasa. Dia -yang sekarang berkuliah di Turki itu yang memprovokasi, anak-anak sekelas untuk berkontribusi.

Aku cuma nggak habis pikir, bagaimana kehidupan orang yang selama ini realistis dalam pandangan sumir, tiba-tiba menginisiasikan gerakan kontribusi. Aku ingat betul esensi kami berempat saat pertama kali nongkrong, bukan mendiskusikan persoalan remeh, namun bagaimana prospek kita ke depan dalam menciptakan ke-'absurd'an lainnya. Sungguh, pengalaman luar biasa saat itu, dan mulai dari situ, aku bisa melihat bagaimana lingkungan memberikan respek pada mereka  yang -memang- respek terhadap mereka, bagaimana respon kepada sistem yang berusaha menciptakan perubahan ke arah baik. Tidak ada lagi jurang antara orang 'realistis' atau 'idealis'. mereka semua terbuka matanya, sadar, show must go on.

Sayangnya, kami berempat sudah berpisah. Aku -sungguh- berharap ini bukan sekadar retorika atau gelora kontribusi sesaat. Entah, nyata atau tidak, aku tetap menganggap itu adalah pengalaman terbaik dalam hidupku dalam proses -menuju dewasa.

Dedikasiku : Annisa Mutiara Maharani ; Ria Arni Fajriah ; Qoriatul Azizah.

14 Okt 2012

dengan bangga kupersembahkan ini,

masa kuliah emang gak lepas dari yang namanya kelabilan anak remaja. semester satu kita masih tetap bocah ingusan yang definisi perspektif beberapa orang sih, masih suka ngerubungan dengan tampang 'bloon' muter2 suatu lokasi. jadi langsung dapet kesimpulan "itu pasti maba"

jujur aja,  dari awal masuk kuliah, mungkin aku terserang penyakit idealisme mahasiswa prestatif yang diyakini gak semua orang dapat mengaplikasikannya. ini mengubah pola pandangku mengenai perilaku kayak gimana yang mesti aku terapin di kehidupan sehari2nya.

sampai pada akhirnya, kemarin ayahku datang menjengukku, dan kasih aku sebuah bacaan yang bahkan aku nggak pernah nyangka. imagine kita dalam kondisi bingung untuk bersikap apa pada dunia, terus disodorkan sebuah pengetahuan untuk "just try to totally be urself, dont ever force to be someone thats not exactly who u re because once u remember that moment  ure free as ure, u'll be desperately apologize," melihat ada orang yang kagum pada kamu dengan sosokmu seadanya dan cuma menyadarkan "kamu yang dulu itu unik", karenanya, aku dengan bangga mau kasih lihat cerita ini,


Tiga Puluh Menit bersama Kak X
Oleh
YYY
12 IPA C
Kriiiing!!! Jam telah menunjukkan pukul 18.30. Bel tanda usainya pejaran telah berbunyi. Semua siswa-siswi Primagama keluar dari ruang kelas dan berbondong-bondong pulang ke rumah. Sebagian ada yang masih mengobrol dengan teman-teman, menonton televisi sambil menunggu jemputan, melaksanakan salat magrib dan mengkonsultasikan pekerjaan rumah dengan kakak pengajar atau biasa disebut tentor.
“Kak W, mau nanya tugas Kimia nih, please dikit kok. Sedang tidak buru-buru pulang, kan?” tanyaku dengan wajah penuh harap.
“Iya, aku salat dulu ya. Kamu coba dulu aja tugasnya”, katanya.
Kak W pun pergi mengambil air wudhu lalu salaat magrib di ruang sebelah, tepatnya ruang kepala cabang. Aku pun masuk ke ruang tentor yang tidak terlalu besar dan segera mencoba kembali beberapa nomor yang sebelumnya telah aku lewati. Menghitung kembali di buku sembarang atau biasa disebut buku coretan. Namun, aku tidak juga menemukan jawaban yang tepat dengan pilihan yang sudah tertera.
“Ish, ini apaan sih! Dari tadi jawabannya tidak ada, bukunya salah tuh!” Gerutku.
“Kak Z, mau tanya tugas dong. Saya penasaran banget nih!” Kata seorang anak perempuan berkerudung dan berkacamata yang sedang menghampiri kak Z, kakak yang biasa mengajar Fisika di kelasku sekaligus suami dari kak W.
“Hmm.. pasti kak X tuh” pikirku.
“Riz, udahan belum? Ada tidak jawabannya?”, Tanya kak W yang baru saja selesaai salat.
“Mmm, belum Kak. Susah, eh bukan susah deh. Bukunya mungkin yang salah” kataku memenangkan diri.
“Coba lihat sini! Yah, ini mah gampang! Cari dulu gramnya nanti pakai rumus yang ini”, kata kak W.
“Tadi sudah dicari gramnya, tapi salah pakai rumus hehe”, kataku.
“Eh kak, itu kak X kan namanya?” tanyaku.
“Iya, kenapa? Pernah kenal?” Tanya kak W sambil melihat buku Kimia.
“Baru tahu semenjak dia bolak-balik ke ruang tentor. Hmm dia tertarik sama Fisika ya kak? Dia kalau nanya, malah jawab sendiri, kalau tidak salah waktu menanyakan supernova? Hmm, lupa deh pokoknya semacam itu atau tata surya?” ocehku sepanjang konsultasi tugas.
“Iya,dia itu suka banget sama Fisika”, jawabnya singkat.
“Kenapa dia suka banget sama Fisika?”, tanyaku.
“Dia tertarik sama kak Z hahaha”, jawabnya meledek.
“Memangnya dari SMA apa,Kak?” tanyaku sambil menghitung jumlah pH larutan.
“SMAN 4 Internasional”, jawab kak W dengan nada menegaskan.
“Widii, ckckck keren hahaha. Eh, kak udah ketemu nih. Kenaikan pHnya 4”, kataku dengan senang.
“Udah nih? Ini aja atau ada lagi?”, Tanya kak W.
“Udah kok ini aja hahaha. Sebentar kan? Hehehe”, kataku sambil merapikan dan memasukkan buku ke dalam tas.
“Yaudah, kakak pulang ya!” seru kak W.
“Oke, terima kasih ya kak!” kataku.
“Jadi, pada saat rekasi fusi nuklir tidak terjadi maka bintang tersebut dinyatakan padam”, kata kak X yang sejak tadi masih mengkonsultasikan kejadian supernova yang minggu lalu sempat ditanyakan juga.
“Oke, terima kasih ya kak Z”, kata kak X lalu keluar ruang tentor.
Aku masih duduk sambil membalas sejumlah pesan singkat yang masuk.
“Oh iya, belum salat Magrib!”, kataku kaget.
Aku langsung mengambil air wudhu dan menuju mushola di bawah dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Di sana aku bertemu kak X yang sedang memakai mukena. Segera aku menemukan mukena yang pas dengan kepalaku.
“Hei kak, baru mau salat atau sudah selesai?”, sapaku berbasa-basi.
“Baru mau salat kok”, kata kak X sambil tersenyum.
“Oh yaudah jamaah aja yuk?” ajakku.
“Tapi, kakak jadi imam ya?” kataku lagi.
Aku langsung mengambil posisi di sebelah kiri sedangkan kak X di sebelah kananku. Kita berdiri dalam keadaan diam sangat lama dan aku menunggu kata takbir dari kak X yang tak kunjung terdengar juga.
“Kok kak X tidak takbir ya?” pikirku heran.
“Kan harusnya kak X yang jadi imam, lalu kenapa aku berdiri di sebelah kiri kak X? Berarti aku imam dong?” pikirku lagi.
“Atau aku saja yang memulai takbir? Tapi, bagaimana kalau tiba-tiba kak X takbir? Jadi kacau dong?” pikirku semakin heran.
Akhirnya aku yang memulai walaupun sudah dua menit lebih kami belum mengucapkan kata takbir. Aku melaksanakan salat dalam keadaan bingung dan tidak khusyuk.
“Assalamualaikum warrahmatullah”, ucapku.
“Hahahhahahahahahahaha!!”, tawaku dan kak X.
Kami terus tertawa terbahak-bahak ingin menjelaskan, namun tidak bisa. Kami berdua sama-sama mengerti apa yang telah terjadi. Akhirnya, kami mengulangi salat Magrib kami dengan kak X sebagai imam.
Setelah selesai salat Magrib untuk kedua kalinya dan berdoa sejenak, kami menjelaskan satu sama lain.
“Kak, kakak kenapa? Tadi tuh aku nunggu takbir dari kakak”, kataku sambil tertawa dan melipat mukena.
“ahahahaha, kan tadi kamu bilang kakak imamnya ya?” tanyanya sambil tertawa geli.
“Iya, maksud aku kak X jadi imamnya”, kataku menjelaskan.
“Aku kira kamu itu kakak tentor. Waktu kamu bilang, ‘kakak imamnya’, aku kira kamu yang mau jadi imamnya hahahaha. Kamu kelas berapa sih?” Tanya kak X.
“Aku kelas 11 IPA kak. Memang kakak tidak pernah melihat aku kalau lagi Tanya tugas?aku aja sering melihat kakak”, jawabku.
“Oh hahahaha ya ampun lucu banget sih hahahahaha!!”, katanya yang sejak tadi tertawa tanpa henti.
“Hmm, kenalin aku YYY, kak”, kataku mengenalkan sambil berjabat tangan.
“Kamu dari SMA mana?” tanyanya.
“Aku dari SMAN 55”, jawabku singkat.
Setelah tertawa puas dan sedikit berkenalan kami langsung pulang karena jam telah menunjukkan pukul 19.00.
“Daaah kak X hahaha!”, seruku sambil melambaikan tangan.
“Daaah!” balasnya.
Tak lama kemudian aku mengetahui ternyata kak X diterima di Universitas Gajah Mada dan hal yang membuat aku terkejut yaitu ternyata kak X adalah seorang anak dari bapak Lyang tak lain adalah guru bahasa Indonesia di sekolahku.
--000000000000--

10 Jul 2012

3 Mei 2012

10 jam

belakangan ini,yang namanya "waktu" itu sangat berarti. yaaap,... SANGAT BERARTI


"kak, kasih usul dong. kalo belajar efektifnya gimana ya?"
"minimal 10 jam sehari"
0___0-
"itu versi kakak atau,?"
"itu kata anak yang dapet ptn, minimal belajar sehari. usahain semua pelajaran tiap harinya kesentuh."

pada akhirnya, kesimpulanku cuma satu, "jangan ngevorsir diri,.."

Islam