13 Jun 2014


Later, then,
 Be a good one. Behave properly. Remind ur vision. No excuses for whole the hurdles. For the best moment of ur life, is looking for their smile.

11 Jun 2014

Keberkahan itu Dimana?


Saya sering dianggap skeptis. Senantiasa mengkritisi sistem yang ada. sampai pada titik dimana berpikir lebih baik diam, dan mengamati bagaimana semesta di sekeliling kami beraksi dalam dalam porosnya masing-masing. Dan saya pikir, inilah puncak dimana kita mempelajari ihwal murni soal pelajaran kehidupan, tempat kita berkaca soal sikap yang benar dan salah. Adil dan zalim. Kanan dan kiri. Dan segala konotasi yang sering kali didikotomikan, seolah menunjukkan tidak adanya relasi ekivalen antara kedua oposisi.

Sistem. Sederhananya, itu yang saya kritik. Lambat laun, saya mencoba mengeneralisasi pada dua akar permasalahan. Apakah sistem yang secara perlahan namun berkesinambungan memberikan doktrin pada kita soal ‘kanan’ dan ‘kiri’, atau ‘benar’ dan ‘salah’? atau memang kami adalah anomaly yang terlalu meributkan hal yang sepele? Saya pikir tidak. karena itulah manusia memiliki prinsip dalam hidupnya yang berkembang menjadi sebuah jati diri.

Adalah mencari sebuah keberkahan.

Bagi saya pribadi, mencari sebuah keberkahan dari setiap kegiatan yang kita lakukan adalah hal substansial yang ironisnya, sering kali terabaikan. Atau merupakan sebuah beban moral yang sering kali dianggap enteng.

Ada hal yang rasional dan tidak, menurut perspektif saya. Contohnya saja begini,

Terdapat dua aktor di sini. Sebut saja A dan B. Si A meminjam modem B. Maka A harus menjamin kebermanfaatan modem akan terjaga selama dipegang olehnya. Akadnya harus jelas, mengapa meminjam modem. “saya ingin download materi kualiah di fb. upload surat. Posting notulensi.” Jika si A menyepakati serangkaian agenda yang akan dilakukan B dengan modemnya, maka dapat kita katakan sang keberkahan telah terjamin. Pun tidak dinyatakan, sebuah rasionalitas manusia hendaknya mampu mengkomparasikan secara wajar hal baik dan buruk. Lalu membuat konklusi sendiri bahwa, ‘saya meminjam modem ini, adalah sebuah kemurahan hati dari A. Karenanya, balas jasa saya adalah memanfaatkannya untuk tujuan2 yang baik.’
Sederhana. Dan saya pikir sangatlah rasional. Ironisya, hal ini sering kali terabaikan.

Saat orang tua kita mengamanahi motor atau laptop bagi seorang mahasiswa demi kelancaran proses kuliahnya, sudahkah setiap rute yang kita lalui, atau setiap tuts keyboard yang kita tekan, mampu mengantarkan paket-paket pahala bagi orang tua?

6 Feb 2014

aktor

diversitas/antimeanstream/kritis/berwawasan/unpredictable.

homogen/stagnan/bersama/mainstream/dogma.



saya mencoba memaknai lebih banyak tentang hidup. Kemudian, fakta untuk menjadi seorang observer of life sangatlah sulit,tanpa berusaha bertendensi pada golongan apapun. Barangkali, ini pemikiran radikal yang mengawal dari sitasi seorang politisi (baca: kawan). Saya hanya mencoba menjadi sang narator kehidupan, faktanya, saya tetaplah seorang aktor.

Bagaimanapun, saya tetap kagum dengan para "aktor" tersebut. Siapapun itu. Karena kita hanyalah manusia dengan segala keterbatasan wawasan.

4 Feb 2014

those who memorizing quran

I do remember and miss the moment while i was young, full-of enthusiasm on memorizing every single ayat of Yours, the Glory who kholq samaa wal ard, wa ikhtilaaf fil lail wa an-nahaar. for those ulil albab.


For whom it may concern,

People of the Quran should be like a mirror wherein people see the values and morals of the Glorious Quran and reflected. Ibn Mas'ud (may Allah be pleased with him) said, "The one who learn Quran by heart should be distinguished by his prayer and recitation at night while people sleep, his (earnest) works while people laugh, his silence whille people indulge (in nonsense), and his consciousness (of Allah) while people are conceited. One who memorized Quran, moreover, should be humble and tender-hearted. He should be not hard-hearted, disputant, vociferous, or harsh.
(Yusuf Al-Qardhawi)

.sekat.



Ada sekat antara saya dan mereka
itu yang saya amat pahami di kali pertama masuk dalam dunia ini.
baik secara fisik -yang tak perlu kujelaskan apa itu, maupun secara ruhani.

Ada ilmu yang saya pahami,
wawasan yang saya ketahui,
kelebihan yang saya miliki,
...mereka tidak

Ada akhlak yang mereka ketahui,
ilmu yang mereka terapkan,
visi  yang mereka bangun,
...saya tidak

apa itu menjadi dinding pembatas?
saya pikir, 'ya'
dalam beberapa kondisi, i dare to say.

namun, yang membuat saya terperangah. Adalah bagaimana lingkaran itu saling menjaga.

Dalam beberapa kesempatan, saya kerap melihat indahnya sebuah persaudaraan.
Atau beruntungnya memiliki sebuah relasi.
Atau dalam setiap guratan senyum yang menjadi khas mereka.

mereka homogen.
namun mereka membaur.
Aish, jangan memandang sebelah mata.
Ambil sisi baiknya.

kadang mengganggu. tentu saja.
mungkin itu hanya usikan negatif dari sang pengganggu.

..kata insan yang masih perlu banyak belajar dari mereka

Jakarta, 02 Februari 2014

29 Jan 2014

how's the "exact" meaning of time?

"How IS the exact meaning of TIME, based on "my" own perspective?"
note : 23rd August 2013

This question above begin my elaboration and contemplation in order on making this essay as the one who's having a place in social society (thats actually makes the writer seems choosing the wrong major -not to be the anthropologist one). It seeks to highlight the exact meaning of time based on others argument, then compare it to writer's own perspective. Consist of the case in everyday life of thinking from the simple-minded person. While it is interesting to be as an observer of life, as we are, the social human that unconsciously holding a role (whether its important or not) as a social-human person.


27 Jan 2014

menjadi *manusia* part 3


Tanpa sadar, dalam 3 hari ini saya keranjingan menulis blog, rupanya. Sebuah intuisi yang jarang saya bangun *barangkali, kebetulan saja karena di rumah ada akses internet, jadi terbayar sudah puasa hampir2 satu semester, nge-net, melsayakan hal2 tidak berguna seperti stalkerin orang, dimana belakangan ini, saya pikir hal tersebut penting sebagai dalih untuk standar kaderisasi.

Kemudian, saya mencoba melanjutkan sebuah kisah yang mana, penting bagi saya untuk menuangkannya. Sambil membayangkan ini menjadi sebuah memori indah yang akan terkenang, dalam torehan senyum dari wajah saya nanti *futuristik mode on.

bismillahirrahmanirrahim,...

menjadi *manusia* part 2

bismillahirrahmanirrahim

"absurd"

Barang kali, itu kali pertama saya mengawali sebuah perenungan di tengah goresan malam dari lazuardi bertabur gemerlap rasi orion, kalau2 keberuntungan saya di tengah langit perkotaan bisa melihat messier 1. *kita cukupkan pembicaraan astronomi. Di sini kita tidak ingin membuka forum diskusi.

Saya ingat di satu malam, periode awalku memasuki sistem baru, teman saya menceritakan keluh-kesahnya pada saya. Kemudian, saya menjawab *selayaknya orang bijak yang dimintai nasehat*, untuk, "tidak menjustifikasi orang dari kali pertama kau melihat, atau bahkan dalam kali kesekiannya. Karena seberapapun kau mengenalnya, akan banyak hal menakjubkan yang mampu kau temui dari sisi lain seorang insan. Selayaknya kita memposisikannya sebagai objek dengan identitas beragam dan variatif, dan kita sedang memandang tinggi untuk nilai keunikan tiap individu tersebut,"
...bahasa sederhananya sih, kita gak bisa langsung berargumen, "gue gak suka dia... dia orangnya begini," dan sebagainya. Karena barang kali, yang kita lihat hanya refleksi permukaan dari bagaimana 'ekspektasi' dia untuk kita menganggap dia seperti apa? Jika dia berharap kita memandangnya sebagai orang bijak & kita memang betul kemudian berpikir dia orang bijak (nyatanya tidak sepenuhnya), artinya ia sukses membangun model karakter hingga paradigma kita seperti demikian adanya.

er,.. bagaimana? apa penjelasanku cukup jelas?


Kemudian, saya gemar memposisikan diri sebagai seorang observer of life, sebagaimana aku sering berujar pada teman sekamar saya yang senang saya ajak untuk berdiskusi. Bahwa manusia itu variatif. Masing-masing dari mereka unik.

dan poin pokok ke arah mana saya ingin bercerita adalah, bagaimana sistem -yang mana saya mengawali dari semester 3 kemarin, adalah sebuah tempat dimana (bagi saya pribadi) adalah murni didominasi orang2 yang saya memandang banyak pelajaran dari mereka. dan dalam memaknai betapa fitrinya perbedaan -meski sering kali saya merasa diri sebagai sosok minoritas yang tidak terdiskriminasi.


Saya baru mengawali cerita di sini, kawan.

26 Jan 2014

menjadi *manusia* part 1

Saya mencoba mengawali pembahasan ini sambil mengingat celetukan dari seorang senior saya di bawah atap yang sama *yang tak saya sebutkan namanya. Seorang yang membuat saya kemudian terbangkit motivasi untuk menulis hingga kemudian mengawali intuisi menggores blog ini dengan warna dan dinamika hidup baru.

SEsungguhnya, aku ingin mendahulukan 3 posting di evernote saya. KEtimpangan saat berpikir, blog terlalu "publik" sedangkan yang dibutuhkan seorang insan dengan pasang surut semangat dengan segala perenungannya adalah utsuwa yang mampu mengampu segala gagasan yang agaknya terdengar konyol untuk bisa dikritik di publik. Sehingga, alternatifnya ya dengan evernote. Paling tidak, sekonyong-konyongnya saya paham siapa saja yang pantas melihat laman saya dan menerima berbagai perspektif pribadi. forgive me if however i say a rude thing which i did it uncounscioiusly,

Pertama, adalah aku sudah beranjak menuju semester 3.

Kedua, fakta bahwa selama satu semester yang lalu, aku mulai masuk dalam sistem baru, dimana tak pernah terbayangkan sebelumnya untukku.

Ketiga, dan fakta serta lingkungan tersebut membawaku sedemikian rupa sehingga membuatku merasa lebih bersikap seperti ..."manusia"

Mengapa demikian? Izinkan saya mengisahkan segaris perspektif manusia kerdil ini, yang dapatlalh saya katakan tak akan cukup untuk dibahas dalam satu part. Dan di malam yang larut ini, sekitar pukul 22:42WIB dalam perenungan malam oleh manusia berotak dangkal ini, saya mengizinkan diri saya melakukan hal yang lebih bermanfaat selain daripada mengawali sebuah tulisan dengan kontemplasi rendah.

Setidaknya, saya beri satu petunjuk untuk mengawali pembicaraan ke depan :

"Darush Shalihat"

Regards,

7 Des 2013

pendidikan interdisipliner


Dunia dengan jelas mengetahui bagaimana semsta berkembang akibat dari peran berkesinambungan antara -sains dan teknologi. Sebagaimana relasi antara teoritik yang dipadukan dengan sebuah ilmu praktis dalam pengaplikasiannya. Hal sebaliknya pula terjadi dalam pemahaman aplikasi dengan pemaknaan konsep ilmu tersebut. 
Sejalan dengan itu pula, merupakan sebuah apresiasi luar biasa bagi intelegensi manusia yang mampu merangkul kedua gagasan tersebut sehingga dapat mem-progress alam semesta dalam wujud sedemikian adanya kini.
Siapa yang mempedulikan pengamatan spectrum matahari, hingga terpikir kemudian dalam menciptakan gadget portable layar touch screen dalam kurun waktu kemudian? Atau pengataman perilaku benda langit dalam memahami lintasan temput terdekat bagi pesawat terbang mengarungi antar benua. JIka bukan karena saintis yang mampu mengelaborasi seluruh data dan gagasan yang ada, kemudian menciptakan sebuah konklusi yang berfaedah bagi khalayak umum?
Seorang saintis ada, bukan akrena tuntutan mengerjakan soal-jawab. Permasalahan yang diajukan dalam selembar ujian tertulis, tidak dibuat untuk diselesaikan demi menuntaskan standar SKS dan lulus dengan predikat cum laude. ‘soal’, ada sebagai representasi dari permasalahan kecil mengenai prola perilaku alam semesta, yang notabennya bersifat general. Sehingga, adalah sebuah kenisbian untuk setiap individu, -bahkan bukan hanya saintis –dalam memahami konsep interdisipliner.
Pendidikan interdisipliner merupakan pendidikan holistic yang dapat –merangkul sekumpulan ranah pendidikan yang berbeda, dalam sebuah topik diskusi menarik dan mengkaryakan dalam kondisi kontemporer. Penulis mengamati dalam prosesnya, pendidikan ini tidak didapat dari sebuah standar kurikulum semata –yang bagaimanapun jika dipaksa terbentuk dalam sebuah system, agaknya cukup mencenangkan. Melainkan dari sebuah forum diskusi dari sekelompok cendekiawan dengan ranah mereka masing-masing. Dalam perspektif berbeda, serta pengetahuan dan karakter (keunikan) mereka masing0masing. Jauh berkualitasjika forum tersebut terdiri dari kamu intelektual dalam bidangnya, dalam hal ini adalah : mahasiswa.
Forum inilah yang selayaknya dituntut sebagai promoter pengasah pemikiran kritis mahasiswa. Sehingga ranah eksakta tidak hanya mencetak mesin penjawab rumus semata, namun pemikir ulung dalam kontribusinya pada masyarakat, lebih-lebih bertanggung jawab akan ilmu yang diembannya dan totalitas dalam pengabdiannya. 

6 Jun 2013

satu mimpi.

Baik.
Mari kita awali elaborasi ini dengan satu kata. Saya harap tetap konsisten hingga di akhir kisah : "saya sepenuhnya baik-baik saja,"


Anggaplah, saya punya sebuah kisah untuk diceritakan. Tentang seorang pribadi pemimpi, yang orang-orang yakini dia memiliki visi yang -bisa saja ditertawakan oleh kaum realistis, maupun dipuja oleh golongan idealis.

"Visioner", begitulah karakternya. Mari kita sebut pribadi ini sebagai si "A". Individu yang mau membangun kisahnya dari kaki hingga ubun, menata sedemikan rupa tujuannya, dan merajut makna penting dari karakter sebagai refleksi sikap.

Gila visi? Bisa dikatakan iya. Jika harus dituntut pada proses perealisasian tujuan, ia amat giat berkreasi. Namun, saat ia menggabungkan proses itu, kini harus ditantang untuk memilih di antaranya. Ya, antara menuntut konsistensi yang pasti, atau mengabaikan duniawi sambil menikmati hasil dari pelihnya berinovasi?

Maka, boleh kusebut makna 'dewasa' adalah orang yang bisa berpikiran bijak. Waras dalam mengambil keputusan rasional antara intuisi sesaat dengan kondisi kali ini. Sudutkanlah A dalam kondisi seburuk apapun! Tantang dia, mari kita lihat keputusan dia selanjutnya.

Sambil merengut, saya yakinkan diri saya sambil berkata, "hidupmu masih panjang untuk merajut kembali bagian dari mimpimu,"
Kali ini, pikiran waras memang harus bertindak.Mengulum senyum, sontak kujawab, "terima kasih" dan berlalu pergi.

4 Jun 2013

Indahnya Ukhuwah Islamiyah

Qur'an digital.PNG
"maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?"

Setelah beberapa hari sempat dengan emosi fluktuatif, sekarang saya sudah mencoba berpikiran lebih objektif menanggapi berbagai persoalan.

Dalam beberapa minggu ini cukup menjadi satu momen paling complicated. Setelah pasang surut dalam memaknai prinsip -hidup maupun keyakinan (menyikapi kondisi belakangan ini di lingkungan sekitarku), kemudian musibah yang terjadi dalam keluarga besarku. Sesungguhnya, saya hendak menceritakan hal ini.

Jika saya mengawali elaborasi cerita ini dengan ucapan alhamdulillah, bukan berarti saya mensyukuri bagaimana musibah ini terjadi. Namun, di sisi positif pun akhirnya saya bisa menemukan dan memaknai indahnya ukhuwah islamiyah.

23 Mei 2013

sooner or later

well, seems like i just know the exact meaning of my favorite song.

Once, i do remember the first time i know this one, during my first holiday (definitely as the freshgraduate one), trying to finish my 1st essay *remember this hard moment* then feels attractive all at once for this song.   Big applause for Mat Kearney :)


Sooner or later -Mat Kearney

21 Apr 2013

tetap belajar

"anak muda boleh saja berpikir segila mungkin, selama mereka tidak berhenti belajar. Mereka yang berkoar anarkis, adalah mereka yang berhenti belajar karena merasa sudah pintar"

kalimat ini dikutip dari pernyataan KH Achmad Musthofa Bisri, atau yang diakrab Gus Mus. Sekilas, aku melihat sosok bersahaja beliau yang banyak hal unik bisa saya pelajari dari sini.

Setelah cukup lelah terjebak dalam keombang-ambingan masa labil remaja, aku mencoba untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih luas, dan ya! saya menemukan sosok unik yang 'berkarakter'. Tergugah hati saya menonton tayangan ulang kick andy -padahal sudah lama sekali- tentang sosok Gus Mus ini. Beliau juga orang NU, sahabat Abdurrahman Wahid ketika di Kairo dulu, dan 'berkarakter' dengan (pandangan saya) menjalani hidup sedemikian rupa -santai dalam persepektif beliau. Riwayat hidup yang cukup kacau, diterima di al-azhar kairo secara (beliau sendiri berkata) 'iseng nulis aplikasi dan menjawab beberapa pertanyaan, lalu diterima' -saya juga cukup enggan menerima fakta seperti itu.

Saya melihat banyak pula sosok yang bisa menjalani hidup sedemikian adanya dengan bersahaja, namun tetap sukses pada prinsip yang selama ini mereka anut. Mereka memiliki apa yang disebut orang sebagai 'rendah hati', 'tidak pamer', namun tetap konsisten pada 'hobi' yang digeluti. Pencapaian? ikuti saja kata hati.

Setelah mengalami 'pencerahan wawasan pengetahuan kepenulisan' dari mba Iyas (beliau sudah cukup expert di bidang kepenulisan, atau lebih tepatnya beliau dan suaminya) ini, aku mencoba berpikir ulang mereset paradigma yang selama ini kubangun. Iya, aku sadar ada satu pencapaian yang bagaimanapun tak boleh dilupakan 4 tahun ke depan), namun harus ada yang diimbangi oleh konsistensi tersebut.

Toh, dunia tidak sempit. masih banyak kok yang bisa kita jadikan motivator, tetap dalam konteks untuk memotivasi diri sendiri. Aku belajar banyak dari temanku, Fitri Hasanah Amhar, "may, kita pokoknya HARUS jadi orang hebat", atau Annisa Mutiara Maharani, "inget janji kita ya, untuk ketemu s2 di MIT"

Dan bagaimanapun juga, aku sudah menghitung kegagalanku untuk 2 semester ini (sejauh ini). Kegagalan yang cukup banyak untuk menjadikan ini pengalaman berharga untuk belajar. Tiba-tiba saja teringat mapres UGM, kak Faelasufa, kegagalan 7 kali, keberhasilan 8 kali. Aku bahkan ragu, kegagalnku lebih banyak daripada beliau.

Bagaimanapun, hidup itu tetap harus dijalani dengan tenang. Setenang kita mengetahui hobi kita, dan bergelut di situ. Karena remaja boleh berpikiran hal tergila, aku juga sedang menunggu pengumuman (yang seharusnya malam ini) tapi belum ada respon. -kembali ke konteks- karena boleh berpikiran hal tergila, aku mencoba mencari2 cara dimana saya bisa mencari tahu sendiri eksistensi saya harus diletakkan dimana, juga lingkungan yang saya bangun harus seperti apa, dengan karakter apa adanya -tak perlu memaksa jadi orang yang saya kagumi-.

berpikir segila mungkin, ya... *mulai berpikir yang aneh2
-closing-

1 Mar 2013

"idealisme"

sejujurnya, aku sudah -cukup- capek terjebak dalam idealisme mahasiswa. Entahlah. Semangat berkoar tentang kebangkita bangsa? Dunia yang selama ini kutempuh menyuguhkan berbagai realita soal keadaan polemik. Apalagi mengingat lingkungan yang kubangun selalu berisi orang-orang realistis, yang saking realistisnya, selalu merendahkan mimpi besar idealisme orang lain, "udah lah lo jangan mimpi ketinggian. paling nggak buat hidup lo berguna buat diri sendiri, gak perlu mikirin orang lain." barangkali begitu seruannya.

Ah, ya. Waktu itu aku ingat. Masa SMA aku mulai bertemu dengan orang-orang hebat. Luar biasa menginspirasi, dan dia adalah salah satu teman dekatku. Dia nggak berpikiran idealis, memang. Tapi paradigma yang ia bangun selalu berusaha melakukan hal absurd menjadi lazim dengan semangat luar biasa. Dia -yang sekarang berkuliah di Turki itu yang memprovokasi, anak-anak sekelas untuk berkontribusi.

Aku cuma nggak habis pikir, bagaimana kehidupan orang yang selama ini realistis dalam pandangan sumir, tiba-tiba menginisiasikan gerakan kontribusi. Aku ingat betul esensi kami berempat saat pertama kali nongkrong, bukan mendiskusikan persoalan remeh, namun bagaimana prospek kita ke depan dalam menciptakan ke-'absurd'an lainnya. Sungguh, pengalaman luar biasa saat itu, dan mulai dari situ, aku bisa melihat bagaimana lingkungan memberikan respek pada mereka  yang -memang- respek terhadap mereka, bagaimana respon kepada sistem yang berusaha menciptakan perubahan ke arah baik. Tidak ada lagi jurang antara orang 'realistis' atau 'idealis'. mereka semua terbuka matanya, sadar, show must go on.

Sayangnya, kami berempat sudah berpisah. Aku -sungguh- berharap ini bukan sekadar retorika atau gelora kontribusi sesaat. Entah, nyata atau tidak, aku tetap menganggap itu adalah pengalaman terbaik dalam hidupku dalam proses -menuju dewasa.

Dedikasiku : Annisa Mutiara Maharani ; Ria Arni Fajriah ; Qoriatul Azizah.

Islam