15 Jun 2014


I was born in the metropolitan city of Indonesia, Jakarta. I was living around educated people, in a comfortable family, which I called 'my comfort zone'. I was a senior high school student when my world gets wider and clearer. I’m able to see the differences between how I live and how those who swept the road, or sell newspaper in the road traffic live. Those people are fighters who work hard to make a living to ensure that they’ll have food in their stomach that day.

I was still attending grade 2 of high school when my friends and I founded a charity organization “Pondok Matahari”, a non-governmental organization which is located in a slum area in Pondok Ranji, Bintaro, Tangerang.   

It was on December 9th of 2011, when we set our foot down on muddy footpath, through various steps of land, and paddy field to reach a slum area amidst the densely populated capital city. There were rows of houses with concrete floor. Each of its front yards is decorated with a mountain of garbage. The food vendors jammed their wares in between mud puddles. All of it is a reasonable view of the metropolitan city, where the sovereign society live off of the suffering of marginalized people.

The atmosphere of the capital is always ablaze with dynamism, and discrimination, and ignorance.There 's a certain trend flourishing amongst the metropolis in Indonesia. They build splendor buildings as though they cannot see a slum area just several minutes away.

The growing group of young people are apathetic to charitable actions and are more interested on their personal satisfaction, an inclination that makes their sense of charity to be pathologically ignored.

In an attempt to better understand these issues, I’m wondering, “what’s wrong with the system?” considering that as an archipelago, Indonesia has a very diverse population, as well as having the culture of tolerance and community work.

Firstly, the realization that humans are social beings. It is impossible for an individual to stand alone without relying on others, and it is simply impossible to be a person who's not going to need others’ help.

Secondly, we realize that caring for others is very substantial in life. Ignorance can be seen when parents’ disregard their children’s need for education for the sake of helping the family financial affairs. Ignorance also leads to discrimination and intolerance in this world.

The interesting thing that I’m trying to highlight is, that we cannot conclude that Indonesia was hit by a crisis of concern.

Fortunately, a batch of younger generation who actually care and willing to contribute begins to manifest. There are a number of social-humanitarian organizations that have been established by young scholars, just like Pondok Matahari. People who do and actuate an attempt. Those who observe and not only criticizing rhetorically, but also actively involved as an agent of change. Those who are unwilling to become the 'casualties of today's society'.

Pondok Matahari was originally founded by four people. The first four months are the most difficult phase for us and other volunteers to try to give the best contribution. We wanted to facilitate them as best as we could with meager financial aid that we, as students at that time, can provide.

All of the hard works we did are finally paid back when we were finally able to launch a big event with the help of other social humanitarian organizations. We were finally financially independent after going through a time of hardship. I believe that the contributors who help us also have their own inspiring story.

It proves that the culture of community work has not disappeared in Indonesia. People are still concerned with others, and it proves the lack of apathy in the society. People who do not care and are not touched their conscience to contribute when they see the circumstances around them will create discrimination. We can even say that discrimination is the consequence of people’s ignorance.Thus, an initiator has an important role to make others aware of the importance of contributing, stripped of their personal interests.


In conclusion, even if we are just one of the few people who care and are able do something, take it as a personal role to ignite the spirit of contributing in others.

14 Jun 2014

Maaf. Saya belum bisa menjawabnya.


Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman. Teman  yang suka saya ajak berdialektika, membentuk forum diskusi dalam membahas pergulatan pikiran pada kondisi sekitar. Dia adalah satu dari beberapa orang yang memang saya terbuka untuk berbagi wawasan. Saya belum cukup ilmu untuk menahan emosi pada beberapa orang. Atau belum cukup kata untuk berdebat bagi yang lainnya. Saya hanya mencoba membuka forum yang Sali bertoleransi satu sama lain.

 Tafakkur, berpikir memandang alam semesta pada bagaimana semesta bergerak secara dinamis dan mencoba berdiskusi bagaimana menyikapinya secara bijaksana. Tafakkarun fi khalq as-sama wati wal ardh (berpikir pada pergiliran siang dan malam).

Teman ini adalah teman lama. Lama karena sudah beberapa bulan sejak aku berdiskusi dengannya.  Dan di tengah pergulatan saya menguzlahkan diri untuk mencari tempat nyaman bereksplorasi di dnia virtual,rupanya si teman ini sedang mencari sosok saya untuk berdiskusi.

Dalam pandangan saya, dia adalah sosok dengan pemikiran fleksibel. Hal ini pula yang diterka oleh beberapa orang *dimana ia curahkan perasaannya kepada saya, bahwa pemikirannya pernah dijustifikasi oleh sebagian orang sebagai* pandangan liberal. Soal apa? Saya pikir pembaca bisa menerka sendiri mau dibawa kemana topik bahasan saya kali ini.

Di tengah perbincangan kami dalam siang yang lenggang, ia bertutur. Ada satu aklamasi yang membuat saya sungguh tertekan, dan itu yang jelas, paling saya ingat betul.

Ketika ia melakukan perbincangan dengan kiai di pesantrennya, “Kalian bangga sebagai orang Muslim. Bangga berpayungkan Islam. Memang apa sih yang kalian tahu tentang Islam? Sudah berapa kali syari’at yang kalian amalkan dan kalian langgar? Islam kalian itu sesungguhnya hanya Islam turunan. Islam dari orang tua. Coba renungkan, jika kalian lahir di lingkungan keluarga non-Islam, toh kalian pasti tidak beragama Islam sekarang. Iya, kan?”

Na’udzubillahimin dzalik.

Saya tidak mencoba mengajak segenap pembaca siapapun itu untuk melakukan evaluasi diri. Bergegas menuntut ilmu di agama seberang sambil berguru pada pak kiai sebagai proses muhasabah diri. Tidak, sesungguhnya tidak. Silahkan kalian berasumsi apapun.

Saya hanya berpikir. Coba cermati, dan sikapi sebagaimana seorang berintelektualitas bersikap, menanggapi perspektif yang berbeda.

Sering kali kita memperjuangkan sesuatu tanpa suatu landasan yang kuat. Hanya karena terbawa arus dan emosi. Terbawa kultural dan bawaan budaya. Saya sepakat jika kita harus bergerak, atau tergantikan. Harus memperjuangkan prinsip kita hingga panji kemenangan itu dalam genggaman. Atau konotasi lainnya yang mampu memberikan gambaran heroik seberapa besar urgensi mempertahankan prinsip itu kita internalisasi.
Tapi kadang kita sampai luput dari substansi yang seharusnya menjadi asas. Apa yang kita perjuangkan? Benarkah itu layak diperjuangkan? Bagaimana dengan perspektif orang lain, apakah tidak layak, coba untuk kita pahami dan didiskusikan secara baik-baik?

Kita ini negeri pancasila, katanya. Yang bunyi sila ke-empatnya ; permusyawaratan perwakilan. Kalau Kiai Musthofa Bisri sering menganalogikan agama seperti sebuah jenjang pendidikan. Si kelompok SD SMP punya kontribusi lebih besar dari segi kuantitas. Selain itu, mereka juga turut berkontribusi aktif dalam memperjuangkan hal yang mengambang. Artinya, mereka masih belum cukup ilmu dalam memperjuangkan itu, sehingga mengaklamasikan pernyataan retoris, yang hanya cukup mengubah intonasi untuk terlihat seolah heroik.

Saat itu memang saya belum mampu menjawabnya. Namun, jika kemudian satu malam pikiran ini terbesit dibenak saya, barangkali saya akan menjawab,
“maaf, saya belum punya cuup ilmu untuk menjawab pertanyaan itu. Namun yang saya tahu, sejak kecil lingkungan mendidik saya untuk senantiasa bersyukur akan nikmat Islam. Karenanya setiap usai shalat, berdo’a pada sang Kuasa,  nikmat Islam ”


Inilah nikmat yang sering kita lupakan. Kita terlalu tsiqah pada takdir, atau taqlid pada satu pendapat sampai memuaskan ruhani kita pada fakta kita orang Islam hingga lupa bersyukur padanya? Ini juga sebagai bahan refleksi kita bersama. 

Menginternalisasi Keberkahan


Saya punya teman. Sebut saja Azza.

Azza itu unik. Ya, unik dari perspektif saya. Dia adalah produk imitasi dari bagaimana masyarakat dan budaya metropolitan membentuk karakternya, sedemikian rupa sehingga dari segala atribut kebanggaan, gaya bicara, dialektika tempatnya bergumam, maupun topik diskusi berbau metropolis. Tanpa sadar, saya yang kebetulan duduk bersebelahan dengannya terciprat kultural ini.

Saya paham dari ceritanya saat dia mengalir. Ada hal yang merupakan kelebihan darinya dan selayaknya ia banggakan. Hal yang akan meninggikan derajatnya begitu indah dalam pandangan akhirat. Ini bukan testimoni dari refleksi kiamat. Bukan. Tapi ini adalah pembelajaran bagi saya maupun pembaca, tentang cerita dari masyarakat yang mengabaikan keberkahannya.

Hafalannya banyak. Nyaris 30 juz jika iya konsisten menjadi seorang hafizah.Saya menghormatinya sebagai seorang teman. Namun saya sulit menyatakan pernyataan untuk meneguhkan kompetensinya tersebut. Iya suka memuraja'ahi lagu Taylor Swift, men-ziyadahi film Hannah Montana.

Refleksi kondisi lingkungan saya adalah sekumpulan dari orang orang yang mendekatkan dirinya pada al-Qur'an. Katakanlah Arif. Tidurnya mendengarkan rekaman murattal seorang syekh fasih. Bangunnya diringi kiprah senyuman dan kilasan waktunya mereka pergunakan untuk muraja'ah juz. Meski hanya awal-awal juz 30, 29, 28.

Yang saya pahami di sini adalah, banyak orang dalam dunia saya yang sebelumnya dihadapi. Mereka dengan kapasitasnya, belum mampu menganggap sebuah keberkahan itu ada. Mereka menggenggamnya, namun mengabaikannya. Belum mampu menginternalisasinya.

Saya tidak mencoba untuk meninggikan martabat sisi lainnya. Namun saya suka dengan cara mereka. Sedikit banyak, saya sepakat jika 'usaha' di sini adalah nilai yang ditinggikan. Bahwa seberapa sedikitnya hafalan kita, namun tetaplah masih ada semangat perbaikan.

Kadang juga menjadi bahan refleksi. Saya sadar betul jika harus diakui lahir dan tumbuh pada keluarga yang alhamdulillah mampu memahami agama dengan baik. Masa kecil kami dipenuhi tuntutan menjalankan syariat Islam ataupun bersikap selayaknya muslim. Namun, bagi seorang anak kecil, itu hanya menjadi kebiasaan yang belum bisa dinalarkan dalam logika kami yang masih rendah.

Baik si Azza ataupun Arif tetaplah menjadi seorang teman untuk saya. Teman yang konyol, bahkan. Namun, inilah komparasi dari bahan pelajaran yang dapat saya petik di sini.
Banyak orang yang kompeten, namun mengabaikan kapasitas mereka karena bukan menjadi bagian dari visi hidupnya.
Namun, ada juga yang bersungguh-sungguh meraih kompetensi itu, meski bukan bagian dari kapasitasnya. Terlebih, mereka mencoba menginternalisasinya dalam diri mereka :)

13 Jun 2014


Later, then,
 Be a good one. Behave properly. Remind ur vision. No excuses for whole the hurdles. For the best moment of ur life, is looking for their smile.

11 Jun 2014

Keberkahan itu Dimana?


Saya sering dianggap skeptis. Senantiasa mengkritisi sistem yang ada. sampai pada titik dimana berpikir lebih baik diam, dan mengamati bagaimana semesta di sekeliling kami beraksi dalam dalam porosnya masing-masing. Dan saya pikir, inilah puncak dimana kita mempelajari ihwal murni soal pelajaran kehidupan, tempat kita berkaca soal sikap yang benar dan salah. Adil dan zalim. Kanan dan kiri. Dan segala konotasi yang sering kali didikotomikan, seolah menunjukkan tidak adanya relasi ekivalen antara kedua oposisi.

Sistem. Sederhananya, itu yang saya kritik. Lambat laun, saya mencoba mengeneralisasi pada dua akar permasalahan. Apakah sistem yang secara perlahan namun berkesinambungan memberikan doktrin pada kita soal ‘kanan’ dan ‘kiri’, atau ‘benar’ dan ‘salah’? atau memang kami adalah anomaly yang terlalu meributkan hal yang sepele? Saya pikir tidak. karena itulah manusia memiliki prinsip dalam hidupnya yang berkembang menjadi sebuah jati diri.

Adalah mencari sebuah keberkahan.

Bagi saya pribadi, mencari sebuah keberkahan dari setiap kegiatan yang kita lakukan adalah hal substansial yang ironisnya, sering kali terabaikan. Atau merupakan sebuah beban moral yang sering kali dianggap enteng.

Ada hal yang rasional dan tidak, menurut perspektif saya. Contohnya saja begini,

Terdapat dua aktor di sini. Sebut saja A dan B. Si A meminjam modem B. Maka A harus menjamin kebermanfaatan modem akan terjaga selama dipegang olehnya. Akadnya harus jelas, mengapa meminjam modem. “saya ingin download materi kualiah di fb. upload surat. Posting notulensi.” Jika si A menyepakati serangkaian agenda yang akan dilakukan B dengan modemnya, maka dapat kita katakan sang keberkahan telah terjamin. Pun tidak dinyatakan, sebuah rasionalitas manusia hendaknya mampu mengkomparasikan secara wajar hal baik dan buruk. Lalu membuat konklusi sendiri bahwa, ‘saya meminjam modem ini, adalah sebuah kemurahan hati dari A. Karenanya, balas jasa saya adalah memanfaatkannya untuk tujuan2 yang baik.’
Sederhana. Dan saya pikir sangatlah rasional. Ironisya, hal ini sering kali terabaikan.

Saat orang tua kita mengamanahi motor atau laptop bagi seorang mahasiswa demi kelancaran proses kuliahnya, sudahkah setiap rute yang kita lalui, atau setiap tuts keyboard yang kita tekan, mampu mengantarkan paket-paket pahala bagi orang tua?

6 Feb 2014

aktor

diversitas/antimeanstream/kritis/berwawasan/unpredictable.

homogen/stagnan/bersama/mainstream/dogma.



saya mencoba memaknai lebih banyak tentang hidup. Kemudian, fakta untuk menjadi seorang observer of life sangatlah sulit,tanpa berusaha bertendensi pada golongan apapun. Barangkali, ini pemikiran radikal yang mengawal dari sitasi seorang politisi (baca: kawan). Saya hanya mencoba menjadi sang narator kehidupan, faktanya, saya tetaplah seorang aktor.

Bagaimanapun, saya tetap kagum dengan para "aktor" tersebut. Siapapun itu. Karena kita hanyalah manusia dengan segala keterbatasan wawasan.

4 Feb 2014

those who memorizing quran

I do remember and miss the moment while i was young, full-of enthusiasm on memorizing every single ayat of Yours, the Glory who kholq samaa wal ard, wa ikhtilaaf fil lail wa an-nahaar. for those ulil albab.


For whom it may concern,

People of the Quran should be like a mirror wherein people see the values and morals of the Glorious Quran and reflected. Ibn Mas'ud (may Allah be pleased with him) said, "The one who learn Quran by heart should be distinguished by his prayer and recitation at night while people sleep, his (earnest) works while people laugh, his silence whille people indulge (in nonsense), and his consciousness (of Allah) while people are conceited. One who memorized Quran, moreover, should be humble and tender-hearted. He should be not hard-hearted, disputant, vociferous, or harsh.
(Yusuf Al-Qardhawi)

.sekat.



Ada sekat antara saya dan mereka
itu yang saya amat pahami di kali pertama masuk dalam dunia ini.
baik secara fisik -yang tak perlu kujelaskan apa itu, maupun secara ruhani.

Ada ilmu yang saya pahami,
wawasan yang saya ketahui,
kelebihan yang saya miliki,
...mereka tidak

Ada akhlak yang mereka ketahui,
ilmu yang mereka terapkan,
visi  yang mereka bangun,
...saya tidak

apa itu menjadi dinding pembatas?
saya pikir, 'ya'
dalam beberapa kondisi, i dare to say.

namun, yang membuat saya terperangah. Adalah bagaimana lingkaran itu saling menjaga.

Dalam beberapa kesempatan, saya kerap melihat indahnya sebuah persaudaraan.
Atau beruntungnya memiliki sebuah relasi.
Atau dalam setiap guratan senyum yang menjadi khas mereka.

mereka homogen.
namun mereka membaur.
Aish, jangan memandang sebelah mata.
Ambil sisi baiknya.

kadang mengganggu. tentu saja.
mungkin itu hanya usikan negatif dari sang pengganggu.

..kata insan yang masih perlu banyak belajar dari mereka

Jakarta, 02 Februari 2014

29 Jan 2014

how's the "exact" meaning of time?

"How IS the exact meaning of TIME, based on "my" own perspective?"
note : 23rd August 2013

This question above begin my elaboration and contemplation in order on making this essay as the one who's having a place in social society (thats actually makes the writer seems choosing the wrong major -not to be the anthropologist one). It seeks to highlight the exact meaning of time based on others argument, then compare it to writer's own perspective. Consist of the case in everyday life of thinking from the simple-minded person. While it is interesting to be as an observer of life, as we are, the social human that unconsciously holding a role (whether its important or not) as a social-human person.


27 Jan 2014

menjadi *manusia* part 3


Tanpa sadar, dalam 3 hari ini saya keranjingan menulis blog, rupanya. Sebuah intuisi yang jarang saya bangun *barangkali, kebetulan saja karena di rumah ada akses internet, jadi terbayar sudah puasa hampir2 satu semester, nge-net, melsayakan hal2 tidak berguna seperti stalkerin orang, dimana belakangan ini, saya pikir hal tersebut penting sebagai dalih untuk standar kaderisasi.

Kemudian, saya mencoba melanjutkan sebuah kisah yang mana, penting bagi saya untuk menuangkannya. Sambil membayangkan ini menjadi sebuah memori indah yang akan terkenang, dalam torehan senyum dari wajah saya nanti *futuristik mode on.

bismillahirrahmanirrahim,...

menjadi *manusia* part 2

bismillahirrahmanirrahim

"absurd"

Barang kali, itu kali pertama saya mengawali sebuah perenungan di tengah goresan malam dari lazuardi bertabur gemerlap rasi orion, kalau2 keberuntungan saya di tengah langit perkotaan bisa melihat messier 1. *kita cukupkan pembicaraan astronomi. Di sini kita tidak ingin membuka forum diskusi.

Saya ingat di satu malam, periode awalku memasuki sistem baru, teman saya menceritakan keluh-kesahnya pada saya. Kemudian, saya menjawab *selayaknya orang bijak yang dimintai nasehat*, untuk, "tidak menjustifikasi orang dari kali pertama kau melihat, atau bahkan dalam kali kesekiannya. Karena seberapapun kau mengenalnya, akan banyak hal menakjubkan yang mampu kau temui dari sisi lain seorang insan. Selayaknya kita memposisikannya sebagai objek dengan identitas beragam dan variatif, dan kita sedang memandang tinggi untuk nilai keunikan tiap individu tersebut,"
...bahasa sederhananya sih, kita gak bisa langsung berargumen, "gue gak suka dia... dia orangnya begini," dan sebagainya. Karena barang kali, yang kita lihat hanya refleksi permukaan dari bagaimana 'ekspektasi' dia untuk kita menganggap dia seperti apa? Jika dia berharap kita memandangnya sebagai orang bijak & kita memang betul kemudian berpikir dia orang bijak (nyatanya tidak sepenuhnya), artinya ia sukses membangun model karakter hingga paradigma kita seperti demikian adanya.

er,.. bagaimana? apa penjelasanku cukup jelas?


Kemudian, saya gemar memposisikan diri sebagai seorang observer of life, sebagaimana aku sering berujar pada teman sekamar saya yang senang saya ajak untuk berdiskusi. Bahwa manusia itu variatif. Masing-masing dari mereka unik.

dan poin pokok ke arah mana saya ingin bercerita adalah, bagaimana sistem -yang mana saya mengawali dari semester 3 kemarin, adalah sebuah tempat dimana (bagi saya pribadi) adalah murni didominasi orang2 yang saya memandang banyak pelajaran dari mereka. dan dalam memaknai betapa fitrinya perbedaan -meski sering kali saya merasa diri sebagai sosok minoritas yang tidak terdiskriminasi.


Saya baru mengawali cerita di sini, kawan.

26 Jan 2014

menjadi *manusia* part 1

Saya mencoba mengawali pembahasan ini sambil mengingat celetukan dari seorang senior saya di bawah atap yang sama *yang tak saya sebutkan namanya. Seorang yang membuat saya kemudian terbangkit motivasi untuk menulis hingga kemudian mengawali intuisi menggores blog ini dengan warna dan dinamika hidup baru.

SEsungguhnya, aku ingin mendahulukan 3 posting di evernote saya. KEtimpangan saat berpikir, blog terlalu "publik" sedangkan yang dibutuhkan seorang insan dengan pasang surut semangat dengan segala perenungannya adalah utsuwa yang mampu mengampu segala gagasan yang agaknya terdengar konyol untuk bisa dikritik di publik. Sehingga, alternatifnya ya dengan evernote. Paling tidak, sekonyong-konyongnya saya paham siapa saja yang pantas melihat laman saya dan menerima berbagai perspektif pribadi. forgive me if however i say a rude thing which i did it uncounscioiusly,

Pertama, adalah aku sudah beranjak menuju semester 3.

Kedua, fakta bahwa selama satu semester yang lalu, aku mulai masuk dalam sistem baru, dimana tak pernah terbayangkan sebelumnya untukku.

Ketiga, dan fakta serta lingkungan tersebut membawaku sedemikian rupa sehingga membuatku merasa lebih bersikap seperti ..."manusia"

Mengapa demikian? Izinkan saya mengisahkan segaris perspektif manusia kerdil ini, yang dapatlalh saya katakan tak akan cukup untuk dibahas dalam satu part. Dan di malam yang larut ini, sekitar pukul 22:42WIB dalam perenungan malam oleh manusia berotak dangkal ini, saya mengizinkan diri saya melakukan hal yang lebih bermanfaat selain daripada mengawali sebuah tulisan dengan kontemplasi rendah.

Setidaknya, saya beri satu petunjuk untuk mengawali pembicaraan ke depan :

"Darush Shalihat"

Regards,

7 Des 2013

pendidikan interdisipliner


Dunia dengan jelas mengetahui bagaimana semsta berkembang akibat dari peran berkesinambungan antara -sains dan teknologi. Sebagaimana relasi antara teoritik yang dipadukan dengan sebuah ilmu praktis dalam pengaplikasiannya. Hal sebaliknya pula terjadi dalam pemahaman aplikasi dengan pemaknaan konsep ilmu tersebut. 
Sejalan dengan itu pula, merupakan sebuah apresiasi luar biasa bagi intelegensi manusia yang mampu merangkul kedua gagasan tersebut sehingga dapat mem-progress alam semesta dalam wujud sedemikian adanya kini.
Siapa yang mempedulikan pengamatan spectrum matahari, hingga terpikir kemudian dalam menciptakan gadget portable layar touch screen dalam kurun waktu kemudian? Atau pengataman perilaku benda langit dalam memahami lintasan temput terdekat bagi pesawat terbang mengarungi antar benua. JIka bukan karena saintis yang mampu mengelaborasi seluruh data dan gagasan yang ada, kemudian menciptakan sebuah konklusi yang berfaedah bagi khalayak umum?
Seorang saintis ada, bukan akrena tuntutan mengerjakan soal-jawab. Permasalahan yang diajukan dalam selembar ujian tertulis, tidak dibuat untuk diselesaikan demi menuntaskan standar SKS dan lulus dengan predikat cum laude. ‘soal’, ada sebagai representasi dari permasalahan kecil mengenai prola perilaku alam semesta, yang notabennya bersifat general. Sehingga, adalah sebuah kenisbian untuk setiap individu, -bahkan bukan hanya saintis –dalam memahami konsep interdisipliner.
Pendidikan interdisipliner merupakan pendidikan holistic yang dapat –merangkul sekumpulan ranah pendidikan yang berbeda, dalam sebuah topik diskusi menarik dan mengkaryakan dalam kondisi kontemporer. Penulis mengamati dalam prosesnya, pendidikan ini tidak didapat dari sebuah standar kurikulum semata –yang bagaimanapun jika dipaksa terbentuk dalam sebuah system, agaknya cukup mencenangkan. Melainkan dari sebuah forum diskusi dari sekelompok cendekiawan dengan ranah mereka masing-masing. Dalam perspektif berbeda, serta pengetahuan dan karakter (keunikan) mereka masing0masing. Jauh berkualitasjika forum tersebut terdiri dari kamu intelektual dalam bidangnya, dalam hal ini adalah : mahasiswa.
Forum inilah yang selayaknya dituntut sebagai promoter pengasah pemikiran kritis mahasiswa. Sehingga ranah eksakta tidak hanya mencetak mesin penjawab rumus semata, namun pemikir ulung dalam kontribusinya pada masyarakat, lebih-lebih bertanggung jawab akan ilmu yang diembannya dan totalitas dalam pengabdiannya. 

6 Jun 2013

satu mimpi.

Baik.
Mari kita awali elaborasi ini dengan satu kata. Saya harap tetap konsisten hingga di akhir kisah : "saya sepenuhnya baik-baik saja,"


Anggaplah, saya punya sebuah kisah untuk diceritakan. Tentang seorang pribadi pemimpi, yang orang-orang yakini dia memiliki visi yang -bisa saja ditertawakan oleh kaum realistis, maupun dipuja oleh golongan idealis.

"Visioner", begitulah karakternya. Mari kita sebut pribadi ini sebagai si "A". Individu yang mau membangun kisahnya dari kaki hingga ubun, menata sedemikan rupa tujuannya, dan merajut makna penting dari karakter sebagai refleksi sikap.

Gila visi? Bisa dikatakan iya. Jika harus dituntut pada proses perealisasian tujuan, ia amat giat berkreasi. Namun, saat ia menggabungkan proses itu, kini harus ditantang untuk memilih di antaranya. Ya, antara menuntut konsistensi yang pasti, atau mengabaikan duniawi sambil menikmati hasil dari pelihnya berinovasi?

Maka, boleh kusebut makna 'dewasa' adalah orang yang bisa berpikiran bijak. Waras dalam mengambil keputusan rasional antara intuisi sesaat dengan kondisi kali ini. Sudutkanlah A dalam kondisi seburuk apapun! Tantang dia, mari kita lihat keputusan dia selanjutnya.

Sambil merengut, saya yakinkan diri saya sambil berkata, "hidupmu masih panjang untuk merajut kembali bagian dari mimpimu,"
Kali ini, pikiran waras memang harus bertindak.Mengulum senyum, sontak kujawab, "terima kasih" dan berlalu pergi.

4 Jun 2013

Indahnya Ukhuwah Islamiyah

Qur'an digital.PNG
"maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?"

Setelah beberapa hari sempat dengan emosi fluktuatif, sekarang saya sudah mencoba berpikiran lebih objektif menanggapi berbagai persoalan.

Dalam beberapa minggu ini cukup menjadi satu momen paling complicated. Setelah pasang surut dalam memaknai prinsip -hidup maupun keyakinan (menyikapi kondisi belakangan ini di lingkungan sekitarku), kemudian musibah yang terjadi dalam keluarga besarku. Sesungguhnya, saya hendak menceritakan hal ini.

Jika saya mengawali elaborasi cerita ini dengan ucapan alhamdulillah, bukan berarti saya mensyukuri bagaimana musibah ini terjadi. Namun, di sisi positif pun akhirnya saya bisa menemukan dan memaknai indahnya ukhuwah islamiyah.

Islam