6 Feb 2015

pondok matahari (1)


7 tahun

 Gadis itu duduk di salah satu rest area di stasiun kota Yogyakarta. Seseorang telah menahannya untuk terjebak di tempat tersebut nyaris setengah jam. Sambil mengawasi orang-orang yang berlalu lalang, ia mengamati dengan seksama kalau-kalau orang yang ditunggunya muncul. Sesekali menggeser screen handphone touchscreennya, menshuffle list lagu yang terhubung pada earphone yang terpasang di telinganya hanya untuk membunuh waktu.
Hingga di menit selanjutnya, dorongan ketidaksabarannya membuatnya mulai merapihkan isi tas, mengangkat ranselnya. Hingga dari kejauhan, seseorang memanggil namanya setengah berteriak, “Aya!”
Aya melihat gadis paruh baya itu menghampirinya setengah berlari. Menarik koper sambil menggenggam handphone. Gayanya kasual dengan rok jeans dan jaket merah. Kerudungnya terbalut rapi dengan membungkus wajah putihnya. Satu hal yang mencolok dari dirinya, paras cantik dari wajah blasteran arab.
Ketika mereka sudah berjarak beberapa jengkal, Aya beringsut berwajah masam, sambil melipat tangan, mengeluh, “Aku bertanya-tanya jika kau sudah hilang dari peradaban,”
Tanpa banyak kata, gadis blasteran arab itu langsung memeluknya dengan erat, “aku merindukanmu,” bisiknya.
“Selamat datang kembali, Rehaf,..” timpal Aya.
Untuk beberapa detik kemudian, mereka memberikan ruang untuk menumpahkan rasa rindunya pada 7 tahun lamanya tidak bertemu. Kawan dekat itu terpisah 300.000 kilometer jauhnya oleh 2 benua.
Berusaha mengenyampingkan rasa malunya ketika mereka menjadi point of view di keramaian stasiun, Aya melepas pelukannya sambil menepuk-nepuk pundak Rehaf. Mengajak duduk di kursi sambil merapihkan barang bawaannya.
Diamatinya koper dan jaket yang diikat melingkar di pinggang Rehaf. “Kau baru saja turun dari bandara, dan ke stasiun?” tanyanya menebak.
Perempuan blasteran arab itu mengangkat pundaknya ringan. Matanya menyipit seiring senyum  di bibir tipisnya yang merekah. Sambil memegang pundak temannya yang lelah menunggu, Rehaf memilih mengajak Aya duduk di obrolan pagi hari ini. “Ayo, kutraktir kau es teh,” ujarnya. Ia terlalu lelah untuk berlari di lobi bandara maupun stasiun.
Mereka sesungguhnya adalah rekan sejawat masa remaja. 7 tahun lalu, ya. Meskipun  dulu mereka berbeda kelas, namun mereka diakrabkan oleh sebuah komunitas kepedulian sosial yang mereka bangun.
Selang setelah kelulusnya dari SMA, mereka mengambil jalannya masing-masing. Rehaf melanjutkan studinya ke Kairo, Mesir untuk mempelajari tafsir qur’an. Sementara Aya mengejar cita-citanya menjadi seorang penulis, dan belajar Sastra di salah satu universitas di Yogyakarta.
Dia tahu, Aya sama sekali belum berubah, bahkan hingga saat terakhir mereka bertemu. Satu hal yang ia yakini adalah, kemampuan luar biasa temannya untuk mendapatkan informasi. Hingga jadwal tibanya di Indonesia yang –bahkan –hanya ibunya yang tahu.
                “kau telfon ibuku?”
                “kau tahu? Selama kau pergi, aku sibuk mencitrakan diriku di depan orang tuamu,” ia nyengir mantap sambil menyibukkan diri menyeruput es tehnya.
                “memangnya kau mau melamarku?” candanya. “tidak,.. tidak. Kau sungguh menelfon orang tuaku?”
                “aku memang selalu datang ke rumahmu setiap kali kesempatan kembali ke Jakarta. Liburan kemarin, -tepat saat aku berencana mempersiapkan otakku sebelum membuat tesis –aku kembali ke jakarta dan berkunjung ke rumahmu. Tepatnya Juli, eh?”
                “kau sudah mengambil program pascasarjana?” Rehaf kali ini tersenyum sumringah. Hendak kembali memeluk temannya sebagai ucapan selamat, sebelum akhirnya Aya mencondongkan badannya ke belakang sebagai tanda keengganannya.
                Sambil menghela nafas, seolah pertanyaan itu adalah retorika absurd yang tidak mampu diterangkan secara kausalitas, ia menjawab, “Tepatnya sedang. Kau bahkan tak tahu kapan kelulusan sarjanaku.. Apakah orang yang kuliah negeri di luar, cenderung apatis masalah dalam negeri?” sambil berguyon. 
                Rehaf mengerjapkan mata, merengut seolah meminta maaaf pada temannya. “jika bukan karena aku ditahan oleh supervisorku, aku bisa pulang lebih cepat dari seharusnya.”
Ia tahu betul, tak satupun sikap dari temannya yang berubah. Selain daripada penampilannya dan gaya bicaranya yang mulai santun. Namun, bicara masalah topik candaan mereka masih sama saja. Ini membuatnya bersikap lebih nyaman, sama seperti dulu. Nyaris merasa tak ada yang perlu disembunyikan sejak terakhir kali pengalaman mereka bertemu di bandara, 7 tahun lalu.
“Ayo kita serius kali ini,” ujar Aya menyadarkan dengan tujuan awalnya. “Katakan, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
                “Tidak ada. Tidak ada yang akan kulakukan,” Aya mengangkat alis. Rehaf melanjutkan, “Aku hanya berpikir, kupikir dengan kehadiranku, akan menjadi alasan bagus untuk berkumpulnya kita kembali. Kita semua,” senyumnya santai.
                “Aku rindu Pondok Matahari,...” Rehaf tersenyum. “Aku rindu mereka, Ay,...” ucapnya.
#

2 Feb 2015

#3 Ushul Fiqih -Dalil yang Disepakati

#3 USHUL FIQIH –DALIL YANG DISEPAKATI
Jakarta, 21/01/2015. Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur. Materi keempat belas. Daurah Fiqh Dar Ash Shalihat. Ust. Isnan Anshory [Rumah Fiqh Indonesia].


DALIL 1 –al Quran
Al Quran adalah sebuah kitab yang cakupannya sangat luas –laut yang tak ada tepian pantainya. Siapapun dapat mengambil berbagai macam hal dalam al quran, bahkan para saintis sekalipun menggunakan al quran dalm eksperimennya. Sehingga jika belajar al quran sebagai ogjek kushul fiqh, tujuannya untuk memproduksi hukum dalam al quran. Karena al quran bicara akhlak, aqidah, dan berbagai macam hal. Sehingga ilmu ushul fiqh sesungguhnya mengambil 1/3 hal dari cakupan memproduksi hukum dalam al quran. Bukan akhlak yang dibahas di tasawwuf, dan lainnya.

#2 Ushul Fiqih -Sumber Dalil

#2 USHUL FIQIH
Jakarta, 20/01/2015. Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur.Materi kesepuluh. Daurah Fiqh Dar Ash Shalihat. Ust. Isnan Anshory [Rumah Fiqh Indonesia].


Dalil secara etimologis –bahasa berarti (menunjukkan). Dasar. Sumber dari hukum fiqh yang masuk dalam wilayah agama Islam. Dalam sebuah hadist rasul bersabda “barang siapa yang memberikan petunjuk atau menunjukkan seseorang untuk berbuat kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan pahala tersebut,”
Ulama bahasa mendefinisikannya “seseorang yang memberikan petunjuk kepada sesuatu yang ia tunjuk.” Secara terminologis –istilah ulama ushul fiqh  berkata, “ apa apa yang memungkinkan mencapai suatu hukum khabari berdasarkan analisa yang argumentatif dan benar”

Khabari?

Dalam ilmu balaghah terdapat istilah irsyai dan khabari. Ketika dikatakan waaqimusshalat adalah irsya’i –adalah yang maknanya sudah fiks seperti kata perintah, kata larangan. Karena perintah, jadi sudah jelas. Tidak mengindikasikan kata tersebut benar atau salahnya. Namun, jika khabarinya adalah menyatakan bahwa shalat itu wajib. Sehingga, statement yang masih perlu menguji apakah ada unsur kedustaan atau tidak.
Sehingga, dalil adalah perkataan, bahwa berdasarkan ayat ini, shalat hukumnya ‘wajib’. Sehingga, didefinisan apa yang ingin dituju oleh orang yang menggunakan dalil.

#1 Ushul FIQIH

#1 USHUL FIQIH
Jakarta, 19/01/2015. Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur.Materi keempat. Daurah Fiqh Dar Ash Shalihat. Ust. Isnan Anshory [Rumah Fiqh Indonesia].



MUQADDIMAH USHUL FIQIH
Nabi Muhammad SAW dalam HR Muslim. Man yuridillahu bihi khairan. Jika Allah menargetkan kebaikan pada seseorang, Allah akan memberikan kesempatan baginya untuk belajar perihal urusan agamanya.

Disejajarkan Fiqih dengan yurisprudensi (landasan UU). Bahwa ilmu adalah sebuah keilmuwan, baik terkait masalah agama dan non agama. Kedua, pada dasarnya ilmu umum itu bersumber dari al quran dan sunnah, sehingga dikatakan ulama bahwa ilmu adalah cara untuk mengakui keagungan al Quran. Kaligrafi sendiri, sebenarnya rujukannya adalah al quran.

Dalam al quran, ada tulisan ilmu rasm, (ilmu menulis teks al quran), dimana ilmunya diciptakan setelah mempelajari al quran.

Sehingga, ilmu apapun yang dipelajari, pada dasarnya adalah mempelajari wahyu Allah yang diturunkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga jika diberi kesempatan untuk mempelajari, adalah bentuk pengabdian bagi Allah SWT.
Meskipun setelah itu, ada skala prioritas. Tidak semua orang kemudian mempelajari ilmu agama, pun tidak semua orang belajar ilmu duniawi.

#5 Bibliografi FIQIH -Nisa

#5 BIBLIOGRAFI FIQIH NISA
Jakarta, 24/01/2015. Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur. Materi kedua puluh tiga. Daurah Fiqh Dar Ash Shalihat. Ust. Sutomo [Rumah Fiqh Indonesia].



KEDUDUKAN WANITA DALAM ISLAM
Kalau saja mempelajari maqashid asy syari’ah, hikmahnya, maka akan menyadari bahwa betapa adilnya syariat Allah.

Misal 1. al waris –wanita mendapat setengah dari bagian laki laki. Jika ada seorang yang meninggal punya anak laki2 dan perempuan. Maka, anak yang laki2 akan mendapat dua kali lebih banyak daripada yang perempuan. Ini merupakan syariat yang ditetapkan oleh Allah bukan tanpa sebab dan tanpa hikmah.

Hal ini disebabkan karena laki2 a/ pihak yang di dalam Islam diwajibkan syariat untuk memberikan nafkah. Sedangkan perempuan, adalah pihak dalam Islam wajib diberikan nafkah. Walhasil, harta laki2 akan memberikan nafkah pula pada sang istri. Maka jiak seorang perempuan yan gkaya, adalah berhak jika harta itu punya dirinya, dan suami tidak punya hak untuk mengusik harta tersebut. Pun denga laki2, berhak unuk memenuhi hak hak istri dan anak atas dirinya.
Ini adalah konsekuensi dari hidup berkeluarga. Yakni memisahkan hak atas harta istri dan suami. Semisal dalam dkasus perceraian, bahwa suami akan memback up harta tertentu, pun dengan istri. Sehingga, tidak ada perselisihan ketika status barangnya jelas.

Hal ini akan lebih diperkuat jika diberikan sebuah hadiah –yang statusnya pemindahan tangan statu kepemilikan barang. Jika memang akan diberikan mobil, memberikan nama juga status kepemilikan atas nama istri. Supaya tidak ada persengketaan apapun.

Wanita sangat luar biasa posisinya dalam Islam. Hartanya tidak bisa diganggu gugat kepada siapapun, kecuali atas kerelaan atas dirinya siapapun yang dia kehendaki.

Misal 2. kesaksian. –terjadi pembunuhan di suatu pembunuhan, sendirian. Rasa takut yang dihinggapi wanita, lebih berbahaya dalam mengganggu psikologisnya daipada laki laki.

#3&4 Bibliografi FIQIH

#3&4 BIBLIOGRAFI FIQIH

Jakarta, 23/01/2015. Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur.Materi kesembilan belas. Daurah Fiqh Dar Ash Shalihat. Ust. Sutomo [Rumah Fiqh Indonesia].


Dalam penulisan kitab, ada 3 istilah;
                            1.       Matan –tulisan
                            2.       Syarah –Penjabaran yang ditulis 
                            3.       Hasyyah –saat ulama yang membaca kitab dan syarah, terkadang, sesuatu yang dalam matan                                                  belum dijelaskan secara lengkap di syarah.
                           4.       Taqrir –Kritikan pada matan ataupun syarah. Terletak di pinggirnya hasyyah.

#2 Bibliografi FIQIH

#2BIBLIOGRAFI FIQIH
Jakarta, 20/01/2015. Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur.Materi kesembilan. Daurah Fiqh Dar Ash Shalihat. Ust. Sutomo [Rumah Fiqh Indonesia].



SEJARAH FIQIH
Sebelum masa Rasulullah, kata ‘fiqih’ sudah digunakan sejak dahulu sebagai sebuah ‘kata’ yang dipergunakan orang2 Jahiliyah. Namun, memiliki perbedaan makna ketika turunnya al Quran.

Adapun, pengerucutan makna ‘fiqh’ yang terjadi, mengalami 3 fase perkembangan, yakni;

a.       Pra islam
kata ‘fiqih’ –secara bahasa bermakna sama dengan al fahmu. Mengerti. Memahami.

b.       Zaman rasul dan sahabat
Allah memasukan kata fiqih dalam beberapa ayat.

Misal 1. Doa yang diajarkan kepada nabi Musa "yafqohu qouli"
Yafqohu berasal dari bentuk dasar yang sama dengan fiqih.

Misal 2. "la'alahum yafqohun"..."liyatafaqohu fiddiin"
agar mempelajari sejara mendalam ilmu agama. Fiqih untuk menyebut semua disiplin ilmu. Belum spesifik, namun global, memahami ilmu agama secara keseluruhan.

Misal 3. Rasulullah pernah mendoakan Ibn Abbas –seorang tokoh fuqoha di kalangan sahabat. Ibn Abbas masuk islam sejak kecil, saat itu Rasulullah mendoakan " Allohumma faqihu fiddiin wa 'alimhu takwil..."
faqihu artinya pemahaman. Ibnu abbas terkenal sebagai turjumaanul qur'an. Adapun, turjuman di sini juga menjelaskan maksud yang mendalam –dalam al Quran. Pada saat kecil, ibnu Abbas pernah dibawa Umar bin Khattab ke tempat ulama senior. Lalu para ulama yang ada di sana bertanya, "untuk apa anak kecil dibawa ke sini?". Umar menjawab dengan surat an nashr. Ditanya para ulama senior tafsir dari surat an nashr. Mayoritas ulama senior menjawab hal yang sama, soal kemenangan Islam. Namun, saat ditanya pada Ibn Abbas, beliau menjawab pada hal yang berbeda. Bahwa makna surat an nashr bermakna akan wafatnya nabi. Karena kemenangan Islam sudah dikumandangkan, oleh karena itu, tugas kenabian telah usai, dan sudah di penghujung hal tersebut. Itu artinya, pemberitaan bahwa akan wafatnya Rasulullah.
Makna kata fiqih dalam doa Rasulullah untuk ibnu abbas adalah faqih dalam segala ilmu dalam agama. Jadi tidak hanya ilmu fiqih, namun seluruhnya.

Misal 4. "Panjangnya shalatnya seseorang dan pendeknya khutbah adalah salah satu tanda dari kedalaman ilmu seseorang." (HR. Bukhari) -faqih

Misal 5. "Semoga Allah akan mencerahkan wajahnya seseorang yang mendengarkan haditsku kemudian dia sampaikan hadits ini sebagaimana dia dengarkan. Berapa banyak orang yang mendengarkan secara langsung namun tidak sepaham yang tidak mendengar langsung."
Dari hadits tersebut diketahui bahwa banyak orang yang mendengar langsung hadits dari Rasul akan tetapi mungkin orang yang mendengar tidak langsung lebih paham darioada yang mendengar langsung.

c.        Masa kodifikasi ilmu islam
Fiqih sekarang: kumpulan hukum syar'i, ‘amali yang digali dari dalil-dalil yang tafsiri –terperinci.
Misal 1. Shalat itu wajib –hasil kesimpulan hukum fiqih. Prosesnya disebut ijtihad. Dan proses memahami al Quran dan as Sunnah adalah wilayah para mujtahid. Wilayah kita adalah fatwa para ulama. Jadi kita bukan secara langsung hukum setiap aktivitas namun kita kembali kepada kajian ulama yang matang yang di dalamnya sudah ada informasi. Jadi kalau kita cari sendiri di dalam al quran dan sunnah maka tidak bisa kecuali memang punya kapasitas. Yang kita dapati saat ini adalah hasil dari para mujtahid, ulama. Kita mengaplikasikan berdasar pemahaman para ulama, bukan hanya pemahaman kita. Sebab kita tidak bisa langsung sampai pada alquran dan sunnah, butuh jembatan.

#1 BIBLIOGRAFI FIQIH

#1BIBLIOGRAFI FIQIH
Jakarta, 18/01/2015. Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur. Materi pertama. Daurah Fiqh Dar Ash Shalihat. Ust. Sutomo [Rumah Fiqh Indonesia].


MUQADDIMAH BIBLIOGRAFI FIQIH
Untuk menambah bekal kajian kita ke akhirat, kesempatan apapun harus disyukuri sehingga, hanya kesempatan inilah dimana kita bisa menghapus dosa, dan memperbanyak pahala untuk menjadi bekal. Karena tugas manusia jika diringkas ada dua, yakni ; pertama, mengumpulkan sebanyak apapun pahala selama di dunia, dan yang kedua, yakni mengurangi sebanyak apapun dosa yang kita lakukan. Ketika itu dilakukan, insya Allah, bagi akhirat kita telah memiliki bekal dan beban kita akan semakin berkurang akan dosa2 yang pernah kita lakukan.

Salah satu cara untuk mendapatkan bekal tersebut adalah dengan menuntut ilmu. Dan dalam islam, ilmu adalah suatu wasilah yang dengannya ibadah kita bisa dikatakan sah atau tidak. Dengan ilmu kita bisa tahu ibadah kita secara hukum dapat dikatakan diterima atau tidak. Karena syarat diterimanya ibadah kita oleh Allah SWT, para ulama merumuskannya ada dua; pertama adalah keikhlasan saat beribadah, dan saya rasa saat membahas ini, para ulama tidak mengalami ikhtilaf akan hal ini. Kemudian yang kedua adalah, ibadah harus dilakukan dengan metode yang sudah dirumuskan oleh Allah SWT dan RasulNya, baik yang tertuang dalam al Quran ataupun As SUnnah.  Saat kedua cara ini dipenuhi sesuai dengan prosedur yang ditentukan, maka, insya Allah, Allah tidak akan mengingkari janjiNya.
Ketika membahas keikhlasan, hampir2 tidak ada perbedaan pendapat akan hal ini. Tetapi jika kita membahas kesesuaian ibadah kita akan prosedur yang sudah disusun sedemikian rupa oleh Rasulullah SAW, maka, dalam pembahasan kedua ini, para ulama panjang lebar berbeda pendapat. Dan inilah yang menjadi wilayah yang kita sebut sebagai FIQH.

Sering kali kita mendengar para ulama berpendapat, syarat diterimanya amalan adalah ikhlas dan ittiba’. Tapi saat membahas ittiba’ dari al hadist, mungkin hal ini harus dipertanyakan, sebab pemahaman kita tentang hadist, barangkali berbeda dengan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah SAW.
Pembahasan kita ke depan adalah tentang “Bibliografi FIQH”.
***

29 Jan 2015

Cerpen : Ayah dan Anak Perempuannya Bila Sedang Berdua.
"Ayah, laki-laki yang baik menurut Ayah itu yang bagaimana?", tanya anak perempuannya, puteri semata wayangnya. Sambil menggandeng tangan puterinya yang tak lagi kecil itu, sang Ayah berhenti.

"Laki-laki yang layak dipilih mungkin adalah yang selalu khawatir tidak layak jadi pilihan", sang Ayah menjawab sambil matanya melihat ke langit luas.

"Mungkin?", selidik puterinya.

"Iya mungkin, karena itu hanya salah satu yang Ayah tahu. Selebihnya ayah tidak tahu, karena Ayah tidak pernah menjadi selain itu?", sang Ayah menatap wajah puterinya.

"Menjadi selain itu? Apa Ayah dulu merasa tidak layak?",tanya puterinya sambil mengajak ayahnya duduk di bangku taman.

"Iya, waktu ibumu memilih ayah. Ayah hampir tidak percaya bahwa akan ada perempuan di dunia ini yang bisa menerima Ayah kala itu", sang Ayah menjawab parau. Sambil mengeluarkan foto dalam dompetnya. Foto ia bersama sang Istri.

Puterinya merangkul bahu ayahnya. Ikut rindu pada ibunya yang telah lebih dulu tiada.
"Kalau perempuan yang baik itu yang gimana yah?", tanya anaknya untuk mengalihkan kesedihan.
"Perempuan yang baik bagi ayah adalah perempuan yang sulit dimengerti karena penjagaan dirinya yang bagitu rapi, hingga tak ada celah buat orang lain mengetahuinya", kata Ayahnya.

"Apa seperti Ibu?", canda puterinya.

"Iya kayak ibumu, susah banget dimengerti dulu ketika Ayah mendekatinya, haha. Kamu juga susah dimengerti kayaknya sama laki-laki diluar sana, mirip ibumu", jawab ayahnya.

"Hahaha kan yang bisa ngerti aku cuma Ayah", puterinya memeluk Ayahnya dari samping.

Rumah, 26 Januari 2015 | (c)kurniawangunadi

dikutip dari http://kurniawangunadi.tumblr.com/tagged/cerpen

Dia yang Namanya Tidak Disebut



di sini ada sejuta keheningan tempat Sang Maha Pencipta memberi ruang untuk kita. Ada sebuah dialektika dalam setiap prosa kita mengadu nasib pada Sang Kuasa. Melangkahkan kaki, mantap pada sebuah hidup seolah tanpa ujung saja, namun rindu pesona antuisme yang mampu -kapan saja membuncah. Menjadi saksi keliaran mimpi kita yang agresif. Penuh tantangan! Eksentris! Penuh sensai dan emosional!

Adapun,

akan ada suatu masa dimana mimpimu samar-samar meredup. di sana, kau akan sadari betapa berharganya dirimu dan segala semangatmu kala itu. di sana, akan kau tanggalkan berjuta doa bagi dirimu untuk mampu bangkit kembali. Kau sudah lemah. sudah tua. tak berdaya.

Adapun,

ini dunia maya, bukan realita. dia datang, membawa sepaket kebahagiaan. dialah yang akan menarikmu dari kegelapan. mengulurkan tangan kala kau sedih. dia yang mengingatkanmu bahwa betapa berartinya dirimu. Dia itu, saya tidak tahu.

rasanya, embun pagi begitu sejuk. bukan begitu, kawan?

6 Jan 2015

23 Nov 2014

16 Nov 2014

#Keluarga Ketiga

Saya selalu percaya bahwa hakikatnya, manusia memiliki hak2 untuk bisa hidup sendiri. Membangun paradigma sendiri, visi, dan ada kalanya kepentingan bersama itu mengusik waktu luang kita untuk bisa membangun segala mimpi dan cita cita.

Di bangku kuliah ini mengajarkan saya banyak hal. Pada hal yang terlalu banyak..

Untuk membuka mata melihat kehidupan. Untuk membuka rasa dan berbagi kisah. Untuk membuka wawasan bahwa kita adalah makhluk sosial. Pelabuhan akhir kita adalah keluarga. Pada keluarga tempat kita menghela nafas, menyenderkan pundak, berbagi keluh kesah, canda tawa. Pada keluarga keluarga kecil yang perlahan bisa terbuka. Pada keluarga baru yang perlahan bisa saling mengakrabi. Yang mulai merekatkan kisah dan cerita antar kita dalam sebuah ikatan satu atap.

Keluarga pertama saya adalah orang tua. Ya, keluarga asli. mereka tempat saya harus terus membenahi diri menjadi pribadi yang bisa membanggakan mereka.

Keluarga kedua saya adalah asrama. Asrama tempat saya terbina dan belajar membina. tempat saya belajar cara menjadi seorang yang saling menghargai, mencintai, berbagi. Dan yang terpenting adalah memuliakan mimpi menjadi seorang ibunda para ulama. Tempat saya menanggalkan mimpi menjadi seorang hafizah. Indah sekali, bukan?

Keluarga ketiga ini sederhana, namun bermakna. Ini bukan sekadar lembaga formalitas tempat sebuah alur birokrasi riset dan edukasi berlalu. Lembaga ini berpayungkan kekeluargaan. Bercirikan nuansa keakraban.

 Namanya Lingkar Studi Sains. Saya mengenalnya di awal kepengurusan maba. Awalnya pun, bergabung dalam lingkaran seperti ini tanpa banyak pikiran. sebatas intuisi seorang maba yang mencoba membuka wawasan, memandang dunia dalam perspektif yang luas.

Ini adalah tempat kami berkumpul, melingkar, membuka wacana, berdiskusi, bertukar pikiran, berbagi rasa. Atap kami sama. Atap yang rindang, yang amat meneduhkan. Mereka berasal dari beragam jenis. Ada yang inspiratif, ada yang prestatif, totalitas, sampai yang galau, rempong, atau konyol. Itu yang namanya suasana kekeluargaan, ya? Saling berbagi sifat dan sikap.

Saya rindu masa itu. pertama kali diperkenalkan dalam forum kecil beranggotakan 16 orang. Sore hari di lobi rektorat. Saat itu, saya menyebrangi zebra cross jalan, berlari kecil menyadari keterlambatan saya. Pertama datang bersama keluarga itu, cemas was was. mencoba menjaga sikap. Mereka akan menjadi rekan kerja saya selama satu periode penuh. Untuk sebuah cerita yang akan dibukukan dalam kisah baru dalam  notulensi kehidupan saya. Mengamati satu per satu pada wajah-wajah baru. Beberapa ada yang sudah dikenal, beberapa lainnya agak asing. Beberapa wajah tersenyum sumringah, ada juga yang serius khidmat mendengarkan. Saya bersikap datar, tapi hati membuncah senang.

Sang pemimpin bertugas sebagai protokol yang memimpin kami dalam satu dekade kepengurusan. Pada semangat dan totalitas beliau, pada pembelajaran karakter dari refleksi seorang ketua yang sabar dan totalitas. pada sebuah pengorbanan dan pengabdian. Pun dengan teman2 lainnya. pada kontribusi tiada henti. Pada sebuah cerita hangat di tiap proker yang kami lalui.



3 bulan terakhir menjadi agenda terpadat kami. Pada sebuah rangkaian program kerja yang memadat di akhir kepengurusan. Sedikti banyak, saya justru lebih bersyukur akan itu. Karena dari kepadatan itu, memaksa kami untuk lebih intens untuk bertemu. Lebih akrab untuk bisa mengakrabi rekan yang lama tidak disapa. Atau mempererat persaudaraan pada mereka, rekan seperjuangan. Berbagai agenda yang kami lalui semakin berwarna. Seperti ranger atau pelangi, yang penuh warna. Di akhir periode ini, kami semakin 

Pertengahan desember ini adalah sebuah momentum besar, ya? tempat seluruh cerita itu seharusnya berakhir. Sebuah ikatan kekeluargaan memang tidak selayaknya berakhir begitu saja. Namun, sebuah formalitas memaksa kami menghentikan seluruh rangkaian pertemuan dalam agenda program kerja. Sebuah alur kaderisasi memaksa kita untuk melengserkan sebuah jabatan dan mengamanahkannya pada mereka yang bertanggung jawab. Apakah itu akhir sebuah kisah kekeluargaan kita? Semoga tidak, kawan. Saya sedang sendu, memikirkan akhir cerita kita.


Ada satu hal yang menjadi masalah bagi saya. Sulitnya mengungkapkan perasaan pribadi. Jika rasa ini bisa ditumpahkan dalam luapan emosional kerinduan yang begitu membuncah, ingin rasanya bisa berbagi dengan yang lainnya. Hingga mereka bisa tahu kecintaan yang bercampur dengan rasa duka. Yang saya yakini, semua PH PI pun akan merasakan hal yang sama pada setiap periode kami menceritakan kisah kami. Dalam sebuah buku kecil. di Keluarga kecil bernama LSiS ini.

Bukankah, mimpi kita terlalu indah untuk bisa diabaikan? Atau ingatkan, kawan? Pada semangat kontribusi kita yang terlalu sayang untuk dihentikan?

Semoga doa dan perjuangan kami selama ini untuk sebuah keluarga kecil bisa terbang mengangkasa, hingga semesta mengamininya.
Semoga kontribusi kami bisa membumi, menerbangka asa asa, seperti bunga dandellion yang menyebar, menebarkan inspirasi untuk sesama.
Semoga ikatan kami tak lekang oleh waktu.
Sungguh.
Untuk sebuah keluarga kecil kami,...
Keluarga LSiS.

#salam KPK!

17 Okt 2014

/Dua Ibu/




Ada dua konotasi saat kita menyebutkan ibu.

Satu, adalah orang yang melahirkan dan memberimu kesempatan untuk hidup secara layak. Dua, adalah mereka yang membekalimu seperangkat properti kehidupan tempatmu bisa bercermin tentang akhlak.

Aku mendapatkan kedua hal tersebut dari ibu pertama.

Beliau adalah semesta kehidupan tempatku berlabuh di pangkuannya. Pada kehidupan dinamis kota metropolis yang serba hedon dan skeptis, Beliau adalah matahari bagiku. Aku ingat betul belaiannya yang dengan lembut menyisir rambutku. Senyum lelahnya setiap kali pulang mengajar dari kampus. Aku terkenang masa dimana beliau berdiri di podium mempresentasikan penelitian beliau. Aku berada di barisan terdepan, duduk tersenyum membesarkan jiwanya. Aku hafal betul tartil Beliau senantiasa mengiringi tidur malamku. Atau ceramah Beliau di pagi hari menjelang mengisi kajian di majelis ilmu. Aku duduk menyimak dengan baik, seolah tahu –meski hanya memberikan anggukan atau senyuman.

Sungguh. Beliau adalah matahari bagiku.

Tidak pernah terpikir bagiku untuk mencitrakan sosok Ibu sekaliber Beliau. Di zaman seperti ini, terlahir dari keluarga seperti ini saja sudah merupakan karunia luar biasa. Karenanya, belum pernah terpikir sedikitpun bagiku untuk mencari sosok ‘ibu’ lainnya.

Ini hanya segaris perspektif dari santri yang belum mumpuni, namun mulai terbuka hatinya untuk ta’dzhim pada guru.



Bu nyai adalah sosok yang qowy. Beliau pendidik dari kalangan terdidik tradisionalis. Dari gaya pengajarannya. Orasinya mengisi kelas. Totalitasnya dalam setiap kegiatan. Beliau pernah pulang ke pondok jam 2 pagi mengantar rombongan tamu dan bangun tidur jam 3 untuk membangunkan shalat tahajjud. Perfeksionisnya hingga menyambut majelis kajian hingga memperhatikan standar kerapihan susunan sandal hingga motor. Mengajarkan pada kami cara melipat sajadah, atau membersihkan kompor. Untuk bisa senantiasa tersenyum dan ikhlas. Menginternalisasi rasa kesyukuran dalam setiap peristiwa kehidupan.

Beliau adalah  pengasuh asrama tempatku bermukim sekarang. Darush Shalihat.


Ada banyak cerita di sini. Ini bukan tentang euforia hidup, tapi pada proses menuju sholihah. Tentang bagaimana sekelompok mahasiswa menjadi generasi terdidik yang berakhlak. Kurikulum hidup kami pun membahas pada pusara kehidupan. Bagaimana etika pada orang yang lebih tua, adab menuntut ilmu, fiqh kehidupan, hingga kode etik menjadi ibunda para ulama. Terlalu banyak cerita untuk dikisahkan di sini.

Ya. Terlalu banyak, ya.

Barangkali, cerita ini hanya segaris kisah hidupku yang bersinggungan dengan Beliau. Pada caranya berbicara, pada senyum sumringahnya, pada perkataannya yang menghujam siapapun untuk segera berbenah diri. Beliau adalah sosok yang akan menjadikan seseorang merasa istimewa di matanya. Begitu istimewa sehingga aku mencoba berproses untuk lebih menta'dzhimkan diri padanya.

14 Sep 2014

Cerita Masa Depan

 

Senandung lagu sinden terdengar, meliuk mengalun indah mengiringi proses pelaminan. Pasangan muda itu duduk berdua dalam kursi pelaminan yang disoroti banyak mata dalam penjuru pandangan. Memulai prosesi syahdu dalam suasana khidmat adat Jawa.
Mereka duduk seragam. Berbalut batik jawa berwarna merah bermotifkan kembang. Sang pria menganggalkan keris pada sarung yang diselempangkan pada sepanjang lingkar pinggang. Memakai tuksedo hitam licin ala Jawa. Sang pengantin wanita lebih heboh lagi. Pipinya tampak merona dibalut make up tebal dan rambutnya dihisasi bunga melati menggantung seperti kuncir rambut, dipoles dengan konde besar. Menata diri seelok mungkin di depan  suami pilihan.
Sambil beranjak bersamaan, beriringan melangkah menuju wali mereka. Membungkukkan diri, ta’dzhim di depan sesepuh. Sesekali memejamkan matanya, sang perempuan merunduk khidmat. Dibisikilah mereka wasiat sebelum membangun sebuah peradaban baru. Wasiat sesepuh untuk pasangan  yang masih hijau itu.
Lelaki tua itu adalah ayah dari sang istri. Beliau duduk bersahaja. Tubuhnya tegak dan tegang, berlama-lama menatap nanar sosok ayu berbalut kebaya merah yang duduk bersimpuh di hadapannya. Tangan lembutnya memegang sang ayah. Sementara sang ayah mengusap-usap kepala anaknya, seolah itu kali terakhir ia masih diberi kesempatan memiliki gadis kecil tempatnya menaruh semesta dan kehidupan.
Betapa mudahnya seseorang yang kau kenal bisa lepas dari hidupmu setelah melalui ikatan suci. Meninggalkanmu dan memori tentang masa kecilnya denganmu. Saat kau sedih, marah, tertawa. Tawamu adalah kebahagiaannya. Tangismu adalah kesedihannya. Hidupmu adalah jiwanya.Tentulah ada secuil pikirannya terbersit penyesalan melepasmu untuk diberikan kepada seseorang yang sudah kau pilih. Ia yang telah merebutmu. Membawamu pergi setelah lelah kau didik hingga dewasa.
Tidak. Atau barangkali tidak. Kulihat seksama. Air matanya memang menggenang, matanya memang memerah, atau isaknya memang terdengar samar. Tapi wajahnya cerah, tersenyum. Itu adalah air mata kebahagiaan, kawan. Itu adalah ungkapan dari perasaan lega dan keikhlasan menitipkanmu pada orang yang engkau yakini sebagai pilihan terbaikmu. Begitu lega rasanya sampai air mata itu mati-matian ia tahan dan senyum itu mati-matian ia kiprahkan. Seolah mengatakan, “berbahagialah sana... Kebahagiaanku ada dalam setiap kebahagiaanmu,...”

Tanpa sadar terbawa suasana. Lama aku memandang mereka lekat-lekat. Bukan antara sang Kekasih baru, tapi pada putri dan rajanya. pada dialektika mereka dan menerka memori pada linangan air mata yag tertuang.
Barangkali, akan tiba masanya kau  adalah dia, dan sosok tegar itu tak lain adalah orang yang kau kan kenal betul selalu tampak heroik dalam perspektifmu. Barangkali, kau akan melihatnya terharu biru.
‘Kapan’ itu, ada masanya. ‘Siapa’ itu, biarlah Paduka yang mengurus. Paduka adalah orang yang sangat bijaksana untuk menentukan nasib hambaNya.
Tapi aku tahu satu hal. Jika saat itu tiba, barangkali aku tak akan mampu melihat sosok di hadapanku untuk kali apapun itu.

Islam