30 Mar 2016

Antara Akademisi dan Ahli Herbal

 Ada banyak retorika  yang berkembang di kalangan masyarakat pondok. Mulai dari menganut rasa ta’dzhim kepada ustadz. Meningkatkan rasa kepekaan dan rasa tolong menolong dalam kehidupan satu atap. Sampai dengan kemampuan untuk bisa manajemen waktu di antara rutinitas yang lebih padat dibandingkan anak sekolah umum favorit sekalipun. Dengan beban akademik, hafalan quran, dan tuntutan penguasaan bahasa mereka.

Yang saya ceritakan di sini adalah hal yang membangkitkan intuisi pribadi sampai-sampai tergelitik untuk menuangkannya. Ada satu paradigma yang membuat saya menepuk jidat dan mengelus dada berkali-kali. Sampai saya berkonsultasi pada rekan sejawat.

Tentang pengobatan herbal diutamakan di atas logika kesehatan.

Pertama kali saya menjadi musyrifah, pada malam kedua, pintu kamar saya diketuk oleh santri pada tengah malam sekitar jam setengah satu pagi. Untungnya saya masih tersadar mengerjakan tugas sehingga suara tapak kaki mereka yang ragu mengetuk pintu antara nyata dan redup, samar terdengar olehku.

“ada apa?” aku membuka pintu, melihat kedua santri berwajah cemas.

Mereka menoleh bernafas lega. “Hurin, ukhti,...”

Kemudian aku bergegas ke sana. Meninggalkan kamar dengan rekan saya yang masih tertidur pulas saat itu. Kesibukan kami berbeda, dan kondisi memaksa saya masih terjaga sampai tengah malam. Akhirnya, saya bergegas pergi ke kamar santri.

Gadis kecil itu termasuk kecil untuk usianya. Kelas 1 SMP. Cantik. Sangat cantik dan manis.

Beliau mengeluh sakit. Saya yang menjadi orang baru di sini, tidak habis pikir untuk menghadapi situasi yang begitu rumit, terlebih kala itu saya belum membaca apapun riwayat penyakit para santri. Sejurus kemudian, saya langsung mengambil handphone dan menghubungi teman saya, anak fakes yang kebetulan kami sekontrakan. Meskipun saya paham betul kondisinya beliau sedang pulang kampung ke tempat asalnya, Cilacap.

Satu dering beliau belum mengangkat.  Yang kedua masih belum. Sampai dering ke delapan. Beruntung sekali, tengah malam dan beliau masih terjaga..

“gif.. ini kalau sakit perut gimana, ya? katanya penyakit maag... dia sampai nangis perih banget.” Aku kalap sekali kala itu.

Suaranya masih terantuk setengah sadar. Rupanya dering handphone membangunkannya dari alam mimpi, “oh, Ay.. hm... pakai air hangat saja dikompres perutnya, atau yang hangat-hangat. Sambil dipijitin..”

“ada obatnya, gif? Anaknya sakit banget gif, ini lagi nangis...”

“promaag coba, Ay,..”

Kutanyakan kepada Hurin, apakah terbiasa mengkonsumsi promaag, beliau meggeleng sambil masih terus menangis. Ia duduk kaku sambil memegang perut yang kesakitan dan air mata berderai. Sementara teman teman sekelilingnya semua telah tertidur lelap selain dua orang santri yang membangunkanku. Ada yang berujar, “pakai habbatus sa’udah punyaku, ukhti...”

Saya terdiam sesaat. Tersenyum. Lalu kembali mengalihkan fokus pada si santri. Singkat cerita, malam heroik itu berakhir dengan saya yang tertidur lelap di samping Hurin. Memijit perut sebelah kirinya yang sakit sampai mereda. Tangisnya terbawa tidur. Dan tidurnya membawa saya bernafas lega.

Ini baru satu contoh kasus.

Kemudian, pada tanggal 02 maret tepatnya. Saya pulang dari kampus. Mendadak begitu banyak keluhan dari anak-anak. Apa ada yang salah dengan kondisi kamar santri atau makanan. Yang jelas ada ketidakberesan dengannya.

Pertama,

“ukhti.. Nadia tadi pagi muntah dua kali.. Mencret juga, bolak-balik kamar mandi terus..”

Saya memutar otak, bergegas bertanya pada anaknya yang kondisinya sudah cukup lemas. Meski wajahnya putih, namun kali ini putih pucat.

“sudah diminum obat?”

“sudah.. tadi pakai sarang semut punya noni..”

“sarang semut?”

“itu loh ukhti, obat herbal punya Noni,”

Saya hanya terdiam. Sejenak. Oh. Rasanya seperti nostalgia.

Kedua,

“Ukhti... Jihan pusing, ukhti,”

“oh iya?” sambil mencoba mengecek suhu badan dengan tangan. Suhunya normal. “sudah dikasih obat pusing?”

“nanti coba bekam, ukhti.. sama ibunya mba Ima.”

Saya hanya terdiam. Sejenak. Oh. Ada lagi ...

Ketiga,

“ukhti..mba Dani tadi, bab nya berdarah..”

Oh iya? “iya, Dan?”

“iya, aku ambein, ukhti..”

“punya ambeven?”

“nggak ukhti.. aku biasa pakai obat herbal..”

“obat herbal?”

“iya, spray herbal.”

“terus, gimana cara pakainya?”

“disemprot, dibagian belakang.”

Saya hanya diam. Sejenak. Oh. Sambil menepok jidat.

Dan yang lebih kerennya lagi, semua ini terjadi dalam satu hari. Satu waktu. Maka saya (kembali) mengambil smartphone sambil menanyakan pada salah satu grup yang –alhamdulillah saya berkesempatan berkenalan dengan beberapa anak fakes yang sangat membantu untuk ini.

Satu respon pertama yang saya ingat, ‘bawa ke dokter aja, Ay.’ Rupanya beliau mengira poin penyakit itu dialami satu orang. Padahal, saya tuliskan per poin karena setiap poin dialami orang yang berbeda.

Kemudian, seorang mahasiswi teman kontrakan yang saya kenal sedang menjalani koas segera menjapri saya dan menjelaskan solusi penanganannya.

“ammah Aya, kalau yang diare dan muntah terus, bawa  minum oralit. Kalau nggak ada, coba beli  pocari sweat. Diminta diminum, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Untuk kasus yang babnya berdarah, tanyakan, darahnya merah segar atau tidak. Jika masih merah segar, berarti ada luka di dinding saluran pembuangannya. Bisa jadi karena mengejan terlalu kuat saat defekasi. Kalau darahnya tidak segar, coba bawa periksa ke dokter. Bisa jadi ada penyakit dalam.’

Saya merasa menjadi manusia beruntung saat itu juga.

‘anaknya saya tanya darahnya gimana warnanya? Dia jawab nggak mau,.. nggak mau, ukhti...’
‘namanya juga bocah, Ay...’

Iya, ya. Saya bukan lagi mengurus anak kampus.

Kasus terakhir, terjadi beberapa hari yang lalu. Saat mata saya gatal, saya ditawari ‘pakai propolis saja, ukhti.. tapi agak perih, sih. Katanya juga menurunkan minus di mata,. Supaya ukhti gak perlu pakai kacamata lagi..’

Saya hanya tersenyum hambar.

Malamnya langsung kukumpulkan saja anak-anak. Memberikan sebuah pencerdasan wawasan. Bahwa kebutuhan obat herbal sejatinya merupakan kebutuhan komplementer. Bukan untuk pengobatan total. Eksistensinya untuk menjaga kesehatan dan bumbu tambahan dalam menjaga kesehatan jasmani. Namun bukan solusi yang cerdas untuk pengobatan dalam atau luka yang parah. Betapa paradigma ini ingin sekali kuubah.

Saya tidak menyesalkan ini. Karena dengan ihwal seperti ini, kapasitas ilmu saya semakin holistik menangkan sinyal tambahan sebagai ilmu hidup.

Bahwa jika seorang memiliki asma, mereka biasanya mengkonsumsi obat khusus dari dokter seperti sarbutamol, dan rutin tiap hari memakai bronkodilator beberapa kali semprot.

Bahwa pada maag kronis, bisa diatasi dengan makan temulawak untuk meningkatkan nafsu makan. Orang maag biasanya diakibatkan jarang makan. Boleh jadi karena malas. Hal ini perlu diminimalisasi dengan banyak makan misal mengisi perut setiap sekian jam sekali dengan biskuit. Dan mengkonsumsi antasid sebelum makan.

Bahwa ada obat yang namanya oralit, setara dengan satu gelas air putih ditambah satu sendok gula dan dua sendok garam untuk mengganti cairan tubuh dari orang yang banyak mengeluarkan cairan tubuh.

Bahwa ada obat namanya diazepam untuk menekan sugesti manusia pada kekhawatiran akan sakit. Lebih tepatnya, obat ini dibutuhkan untuk menangani mereka yang punya kekahawatiran berlebih misal punya penyakit kronis padahal yang sugestinya saja.

Bahwa untuk menekan rasa sakit berlebih, bisa karena dismenor atau maag, bisa dengan asam mefenamat.

Bahwa minum air putih harus lebih sering dirutinkan lagi, untuk menghindari konstipasi yang berpotensi merusak saluran pembuangan.

Saya bersyukur untuk segala wawasan kehidupan ini.


Yogyakarta, 09 Maret 2016.

10 Mar 2016

Kepada Ratih dan Ishfi,

Sekitar jam 2 pagi saya terbangun dari tidur. Senyap senyap mata mencoba meraba sekeliling, dan menjangkau yang bisa terjangkau. Kamar saya gelap gulita saat saya tersadar bahwa malam kemarin saya bergumul dengan kelelahan sampai akhirnya memutuskan untuk tidur ke kamar selepas kajian ustadz Sholih.

Saya memang tinggal di pondok, tapi khusus malam jumat. Dan untuk seterusnya, saya meminta izin kepada ustazah untuk mabit di kontrakan lama saya –yang dibangun bersama dengan anak2 pasca asrama saya yang dulu. Inilah kontrakan yang sudah terkondisikan dengan atmosfer  yang membuat saya bisa kerasan di sini.

Kemudian, bukan hal itu yang ingin kusoroti.

Semua karakter warga kontrakan ini unik-unik. Kalian tidak akan bisa membayangkan gambaran dari pribadi yang akan kukisahkan ini. Namun, bukan dalam catatan ini.

Ada dua orang rekan saya. Mereka sudah satu paket. Deal. Tidak bisa dipisahkan. Nama saya samarkan untuk sebuah privasi. Yang jelas, mereka ini ibarat kembar identik. Ada orang yang dalam hidupnya sering kali berinteraksi. Dan hal itu yang membuat mereka kerap dianggap kembar. Padahal, hal itu hanya merupakan konsekuensi logis akibat dari interaksi yang intens. Mengubah karakter mereka menjadi dua pribadi yang saling melengkapi.

Jangan bayangkan pribadi itu saling akur. Kadang akur, ya memang. Tapi kadang juga bertengkar untuk sebuah hal di luar logika saya pribadi. Membuat saya tersenyum saja dalam hati. Lebih sering saya abaikan, karena pertengkarannya agak konyol. Ya sudahlah. Itulah keunikan dalam diri mereka.

Mereka dulu satu kamar sewaktu kami asrama. Dipertemukan dalam ruang seluas 4x4 meter di Jabal Tsur 2. Sewaktu di asrama dulu, saya jarang berinteraksi dengan warga JT2. Saya tinggal di Jabal Nur (JN) yang lokasinya sudah berbeda gedung, meski satu asrama. Hal itulah yang membuat saya kurang akrab mengenal mereka. Dan karena sebuah kontrakan ini, saya jadi semakin mengenal mereka.

Yang satu adalah pejuang wisuda bulan Mei 2016. Beliau mengaku tidak suka terikat perjanjian atau hitam di atas putih. Biarkan beliau bebas memilih kemana intuisi mengarah. Meski sejatinya masuk jurusan pendidikan, beliau tidak suka ngeles dan lebih memilih pekerjaan yang mengembangkan kreatifitas dan seninya. Sebuah pekerjaan yang mengekspansikan pengetahuannya pada seluk beluk kota Jogjakarta.  Sebuah pekerjaan yang anti mainstream.

Yang satu lain cerita lagi. Beliau kelihatannya suka imajinasi dan kaya akan kreatifitas. Dengan usia beliau yang dituntut untuk segera wisuda, beliau bisa menyamankan diri dari tekanan berbagai pihak yang mencoba mendorongnya untuk berjuang bersama dalam barisan pejuang skripsi. Luar biasa. Beliau meninggikan eksistensi kebebasannya dalam hidup terlepas dari berbagai tuntutan eksternal. Sebuah pribadi yang anti mainstream.

Satu kesamaan yang membuat mereka semakin akrab di mata saya. Mereka sedang membangun sebuah usaha. Si pejuang wisuda sedang sibuk mengejar dosen untuk bimbingan. Si pejuang kebebasan sedang sibuk mengajar, ngeles. Dan di kala semua kesibukan itu, mereka berdua tengah membangun sebuah dinasti sendiri. Tempat dimensi mereka bisa bebas berekspresi dalam gulungan-gulungan kertas –yang boleh saja bagi orang tidak berarti. Namun mereka menyulapnya menjadi sumber penghasilan rezeki.

Mereka menyebutnya “paper quilling”.

Saya sedang tidak berpromosi, hanya melilhat refleksi dari kegigihan mereka. Karena di pagi buta saat saya terbangun, saya dapati mereka masih sibuk mempersiapkan untuk hari ini. Tepat jam 10 mereka harus mendirikan stand ke UMY, untuk mempresentasikan mimpi mereka kepada publik. Dunia harus tahu bahwa itu merupakan simbol dari perjuangan dan persahabatan mereka!
Semoga usaha mereka terbalas setimpal dengan perjuangannya.


*semua nama di sini disamarkan, termasuk nama ustadznya.

Lab Fismatel Dept Fisika UGM, 11 Maret 2016

9 Mar 2016

Bobot 'Wakil Ketua'

Rasa itu bernama ‘kekeluargaan’.

Sekarang, giliranku tersenyum sambil memutar otak. Hal baru yang mencoba kubiasakan saat ini. Senantiasa tersenyum sekalipun setumpuk beban dengan segunung tugas dan tanggung jawab menyerang dalam satu waktu. Ini bukan masalah sekompleks menyelesaikan problematika umat. Ini hanya perkara mengayomi 16 orang yang membawahi 236 staff dan 106 proker. Itu menjadi jargon yang selalu terngiang di akhir 3 bulan kepengurusan.

Iri rasanya di kala orang lain sudah berpikir interdisipliner, holistik, ataupun act globally. Sementara aku tetap berada stagnan dalam posisi. Orang yang paling apatis ini dipaksa bertransformasi menjadi makhluk paling peduli dalam satu kepala membawahi 236 staff. Oh ya, sudah beranak 120 orang. Ada potensi yang harus digali pula.

Ada sebuah alasan yang mendasariku berpikir ulang untuk mengambil langkah mengejar idealitas. Memilih menjadi manusia yang hidup dalam realita sambil menyusun sebuah visi yang direalisasikan dalam sepaket buku kecil berisikan targetan-targetan. Sebuah pagar yang membatasi dari tindakan bodoh berupa : pengkhianatan mimpi hidup.

Sebelum membahas substansi pokok kondisi lembaga ini, perlu digarisbawahi kondisi rekan seperjuangan. Mereka adalah pejuang tangguh. Karenanya kami menjuluki diri kami sendiri sebagai “pejuang harian.” Kami berjuang setiap harinya. Berjuang akan tanggung jawab akademis. Berjuang akan tuntutan organisasi. Serta mengingat akan orang tua yang menggantungkan harapan begitu tinggi untuk kebermanfaatan pribadi. Kami berjuang dalam lingkungan kami masing-masing.

Ada posisi dimana harus memimpin. Dialah sosok pemimpin. Saya tidak meragukan jiwa kepemimpinan beliau dengan begitu sistematis dan teratur. Penuh strategi dan matang.

Izinkan kuceritakan satu hal, kawan. Ini bukan sekedar retorika.

Ada sebuah dinamika yang unik dalam setahun kepengurusan. Dan sepanjang itulah, kami yang memahaminya perlu mengenal masa dimana jalinan keakraban itu bisa mulai dirangkai, atau masa dalam menata hati dari perasaan egois untuk menarik diri dari lingkungan dan mengabaikan amanah. Atau masa saat kami harus menutup kisah dengan tangisan bercampur kelegaan luar biasa? Semuanya bercampur baur menjadi satu.

Memang pada akhirnya, dibutuhkan orang yang tetap stagnan. Dalam arti begini. Beliau menjadi sosok yang selalu ada. Senantiasa menjadi penyemangat, pendorong moral serta pemantik intuisi. Tidak perlu dituntut untuk bisa menjadi problem solver. Namun, dia sosok yang selalu bisa hadir saat kejenuhan itu melanda. Dialah yang memberikan perhatian lebih, seolah semua diistimewakan tanpa mereka saling tahu bahwa semuanya diperlakukan istimewa.

Dan dalam posisi ini, aku melihat refleksi dari bagaimana senior terdahulu bersikap. Dan mencoba belajar.

Mari berpikir. Ketika mengambil jalan untuk mengasah kompetensi dan terbang melangit sebagai sosok prestatif dengan segala inspirasi yang moga-moga terciprat, para rekan pun akan sulit untuk menyapa. Apalagi bergurau dan bercanda. Lain hal saat memposisikan diri sejajar dengan mereka. Sebagaimana orang yang memiliki waktu kosong dalam hidupnya untuk bisa nongkrong dan bercakap sambil mengomentari karakter orang.

Sedikit-sedikit aku mulai memahami bahwa konsep kekeluargaan membutuhkan proses yang lama. Waktu. Uang. Tenaga. Menguras otak. Emosi. Dan ekspresi. Itu bukanlah seperti PKM yang bisa dikerjakan seminggu penuh hingga kau absen jam malam asrama. Bukan pula seperti engkau menggarap skripsi yang menghabiskan puluhan gelas kopi dalam semalam suntuk selama satu tahun penuh. Atau bahkan paper yang bisa kau kerjakan sambil mendiskusikan tema bersama dosen dan rekan penelitian.

Itu membutuhkan kesediaan diri untuk menjadi sosok yang sederhana. Yang mau menunda sebagian dari targetan hidupmu untuk bisa duduk di sekre. Kadang kala berusaha memproduktifkan waktu. Lalu saat itu, kau lihat suasana keramaian satu-dua orang berdatangan. Ada yang main catur. Ada yang berdiskusi. Ada yang mengerjakan laprak. Ada yang ngenet. Sampai kemudian ada satu-dua orang datang menghampirimu. Mereka berkeluh kesah. Menyampaikan rasa dan meminta saran. Atau sekedar bercerita.

Akan banyak lagi warna yang ada. Dan aku mulai menikmatinya. Semoga bisa bertahan untuk 3 bulan berikutnya.


Yogyakarta, 24 September 2015

Namanya Erma

Namanya Erma. Putri Ermawati.

Adinda hanya satu dari sekian orang yang senantiasa berkorban. Berkorban untuk mengingatkan kepada mereka yang fana bahwa akhir itu pasti ada. Bahwa akan ada sebuah hari akhir dari rangkaian kisahmu di dunia nyata. Itulah alam yang kekal abadi. Yang katanya, hidup di dunia hanya dua setengah menit dibandingkan dengan pembalasan di hari kekal nanti.

Saya belum pernah bertemu dengannya. Jangankan bertemu. Mengenal orangnya saja belum pernah. Kami berbeda lembaga. Beliau berkontribusi di da’wah, konon katanya. Saya bekerja di ranah kelompok studi.

Beberapa minggu yang lalu tersiar kabar. Broadcast dari sesama pejuang tangguh sebuah grup sosial media. Menyiarkan kabar tentang kondisi beliau yang sedang diopname. Sebuah penyakit yang melumpuhkan seluruh fungsi tubuh. Adalah virus yang menyerang otak. Belum teridentifikasi.

Betapa hina, kali pertama saya membaca, saya mengabaikan. Semakin lama, berita tersiar semakin gencar. Saking seringnya, saya mencoba tanya pada salah seorang adik kelas. Begitu rupanya. Sampai satu hari, mereka membuat sebuah jadwal jaga Erma. Luar biasa. Saya bertanya, ‘separah apa kah kondisnya?’. Saat tersiap broadcast donasi pun saya hanya membaca sekenanya. Lelaki perempuan, semuanya bergerak.

Sampai satu saat, saya ikut menjaga beliau. Tepat selasa pagi. Saya menjapri salah seorang penanggung jawab yang saya tahu, betapa bertanggung jawabnya beliau. Saya berniat memberikan donasi ketika memang tahu betul kondisinya. Betapa luar biasa bodohnya saya.
Saya berangkat jam 7 saat baru membuka handphone. Betapa ramai grup. Membicarakan turut berduka cita. Saat itu, saya tahu saya sudah terlambat. 

Beliau telah tiada. Pada jam 05.00 shubuh, tersiar kabarnya.

Sejenak terhenti sesaat. Awalnya saya pikir adalah hal biasa. Begitu banyak informasi berlalu lalang. Itu hanya satu dari sekian banyak kejadian di sekitar saya. Namun, rasanya berbeda. Karena saat itu, kematian terasa begitu dekat dengan saya. Hanya selisih 3 jam sebelum saya bertatap muka melihatnya, dan beliau sudah tiada.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un... allohummaghfirlaha warhamha wa’afihaa wa’fu’anha,

Mendadak semua orang menyesal. Belum bisa memberikan yang terbaik. Dan saya menyesal, belum memberikan apapun. Namun beliau begitu besar memberikan pengertian pada kami. Pemahaman. Bahwa tiga jam saja langkah melihat sebuah kematian. Bahwa itu adalah sebuah keniscayaan.

Ada satu hal lagi yang paling penting. Kesadaran saya bahwa sebuah rasa ketulusan untuk menolong sesama begitu penting dibangun. Bahwa rasa kepekaan saya mulai tergerus, dan nurani saya mulai mengeras. Bahwa mata saya mulai buta dan telinga saya mulai tuli karena kebodohan. Bahwa saya semakin meninggikan ego dan merenggangkan tali silaturrahmi.

Luar biasa, bodoh sekali.  

Semoga beliau ditempatkan di tempat terbaik di sisiNya. Amin Ya Rabb,

Yogyakarta, 08 Maret 2016


14 Des 2015

PASCA amanah

Seorang mahasiswa berprestasi yang saya kenal, pernah berkata, “setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya.” Hal itu kemudian yang melandasi saya pribadi dalam setahun berkontribusi di LSiS untuk bekerja optimal dan tidak mengkomparasikan zaman dimana baik satu dan lainnya memimpin.


Ibarat pohon teduh, LSiS sudah seperti keluarga. Tempat dimana kehangatan bisa didapatkan dalam ruang sakral yang disebut “sekre”. Saat prestasi dipandang sebagai sebuah kontribusi. Dan norma menjadi bagian dari kultur kekeluargaan. Tiga setengah tahun saya berkontribusi di LSiS, melihat begitu banyak wajah silih berganti. Yang lama menggantikan yang baru. Yang tua tergantikan yang muda.

Tepatnya tanggal 12 sd 13 Desember 2015 bertempat di ruang M2.09, saya melihat begitu banyak cerita di sana. Adalah hari dimana kami, Pengurus Harian LSiS 2015 membacakan laporan pertanggungjawaban kami selama setahun kepengurusan. Tanpa sadar, setelah ini, segala cerita ini akan usai.

Ada satu hal yang saya pelajari. Seiring dengan kepengurusan kami bergulir, pasca itulah kita akan memasuki fase kontribusi yang sesungguhnya. Fase profesionalitas yang sesungguhnya. dan fase pencarian kompetensi yang sesungguhnya.

Fase kontribusi di LSiS selama ini hanyalah sedikit dari replika pembelajaran KPK yang bisa kita dapati. Saya belajar dari pengurus harian di tahun sebelumnya. Saat inspirasi bisa didapat dari rekan seperjuangan yang bisa saling menguatkan karena sebuah amanah ini. Namun, pasca amanah ini, yang belum ada persiapan untuk menghadapinya, akan begitu saja kehilangan arah dan tujuan. Yang sebelumnya punya kesibukan menyapa staff, menyusun proker, menjalin relasi dengan kawan, mendadak semuanya terhenti. Tidak ada lagi kesibukan. Tidak ada lagi aktivitas yang menuntut deadline. Saat itulah kita berdiri sendiri. Benar-benar merasa sendiri dan terserah bagaimana kita membawa cerita hidup kita kemudian.

Yang mengaku ingin fokus kuliah, mendadak dituntut untuk mulai membuat agenda, Bagaimana kuliah kalian menjadi produktif. Yang mengaku ingin berbakti dengan orang tua, harus segera membuat rencana bagaimana dengan banyaknya waktu luang yang telah dimiliki, bisa berbakti pada orang tua secara optimal. Yang mengaku ingin sibuk merajut mimpi, silahkan untuk memanfaatkan kekosongan waktu untuk merajut mimpi dan menagih realisasi akan semua itu. Tidak ada lagi orang yang akan mendesak deadline. Tidak ada lagi BEM atau dekanat yang menagih realisasi mimpi atau kesuksesan program. Semua benar-benar terserah kita.

Dan saat itulah kita dituntut untuk mencari kompetensi masing-masing.

LSiS telah memberi masing-masing dari kita pembelajaran berharga dari interaksi kultural. Bahwa penting untuk menjalin komunikasi antar rekan kerja untuk memperkuat jaringan. Bahwa penting  membangun kemandirian finansial untuk bisa menyokong kebutuhan pribadi dalam merealisasikan mimpi. Bahwa penting memiliki kemampuan mengayomi dan peduli sesama, jika ingin dihargai orang lain. Bahwa penting untuk berfokus pada akademis dan kemampuan bahasa, karena itulah yang akan menjadi modal kita berekspansi lebih luas ke tingkat berikutnya.

Kini kita memasuki tahap kontribusi sesungguhnya. Saat ilmu yang kita punya dituntut untuk bisa diaplikasikan dalam setiap mimpi kita. Teman teman harus bersiap menjalani hidup normal bagi mereka yang memilih di jalan itu. Adapula yang memilih untuk berekspansi mencari pengalaman baru, selamat berkontribusi. Kita akan melihat masing-masing dari kita berjalan pada tujuannya masing-masing.. Namun, tetap ingatlah satu hal. Bahwa dulu kita pernah berada di kereta yang sama. yang mengantarkan kita memiliki satu pemikiran dan paradigma yang sama. LSiS. Di fase inilah saya semakin memahami makna KPK sesungguhnya.

Semoga waktu kita semakin produktif. Semoga kita tetap berkarya dalam prestasi.

9 Okt 2015

PROLOG -Desa Mabat

#BukanNegeriLaskarPelangi
 
Rasanya, merupakan sebuah anugerah luar biasa besar untuk dapat memijakkan kaki di desa ini : Desa Mabat. Sebuah desa kecil yang ukurannya tak lebih dari tiga kali luasnya UGM, berlokasi sekitar satu jam perjalanan dari Kabupaten Bangka Induk, Sungailiat. Untuk pertama kalinya dalam hidup kami, diperkenalkan dengan sebuah desa –yang boleh jadi namanya tak tertulis dalam Atlas Indonesia. Namun, sungguh, Mabat memberikan sebuah kesan yang sangat berarti di hati kami. Dalam berbagai warna yang akan dituangkan dalam kaleidoskop catatan KKN BBL -01 UGM.

PROLOG –Desa Mabat

Saya punya keluarga besar di kota Jakarta. Karena enyak (panggilan nenek dalam bahasa Betawi) punya banyak anak, barangkali saya hanyalah satu dari puluhan cucu yang besar dan tinggal di Jakarta. Sudah 17 tahun tinggal di sana, tidak membuat lantas menghafal seluruh nama sanak saudara.

Namun, 2 bulan saya tinggal di desa kecil yang jaraknya hampir satu jam perjalanan dari Kota Sungailiat. Desa yang jumlah penduduknya tak kurang dari 300 orang –setidaknya menurut data dari perangkat desa, ada setidaknya seperdelapan nama penduduk saya hafal. Barangkali bukan hanya saya, namun rekan satu unit KKN menghafal nama dan wajah warga desa dengan segala kecakapan mereka membangun relasi dengan masyarakat. Mulai dari yang masih cilik –anak-anak PAUD, SD, Madrasah, SMP, SMA, ayuk-ayuk (panggilan ‘mba’ dalam bahasa bangka), abang-abang, emak, apak, hingga encik sekalipun. Dibungkus atas nama ‘akademik’, KKN sesungguhnya memberikan arti besar bagi kami untuk bisa terjun ke dunia sosial.

Barangkali bukan karena KKN saja. Namun, juga karena masyarakat Mabat-lah yang membuka cakrawala kami.
Pertama kali mendengar nama ‘Mabat’  sudah seperti hal asing yang menggelitik di pikiran. Cerita para senior fisika yang baru saja pulang dari negeri antah berantah, menjalankan tugas suci KKN, katanya. Mereka seakan mengagungkan sebuah peradaban penuh warna dari kondisi sosiologis negeri penuh euforia :

Pertama, peradabannya maju akan moral dan tata krama.

Perhatikan. Sekonyong-konyong saya bermukim di kota metropolitan, belum pernah saya rasakan keramahtamahan dari ketulusan sapaan sebagaimana yang saya rasakan dari masyarakat Mabat. Mereka menyapa tanpa pamrih. Hanya untuk singgah di rumahnya sesaat dan menyeruput segelas fanta (rasa melon) atau makan semangkuk pempek.

Mereka menyediakan untuk kami makan dan minum. Belum habis kami mengunyah bulat-bulat pempek, ditawarkannya kembali satu piring sesajian dengan menu berbeda. Sotong. Lepet. Kepiting. Kerang. Awal kami bersilaturrahim ke rumah warga, kami terdiam membisu. Jetlag. Biasanya, kultur di Jawa itu orang mempersilahkan mampir hanya sekedar wacana. Formalitas, kata mereka. Biar dianggap punya sopan dan santun. Untungnya, sebelum berangkat kami diberikan wejangan oleh kakak senior. Mereka berkata dengan nada bergurau, “kalau kalian ditawari singgah, harus benar-benar singgah! Kalau ditawari segelas teh, harus diminum! Apalagi makanan! Makanya, kalau musim lebaran, siapkan perut kalian kosong! Harus, itu!”. Saat itu saya hanya manggut-manggut mengiyakan. Sekarang, saya paham kenapa mereka terlihat bertambah gemuk selepas KKN.

Peradabannya sangat memanusiakan manusia. Kehangatannya memberikanmu kenyamanan terbaik hingga enggan rasanya untuk angkat kaki di penghujung masa bakti KKN. Keramahannya membuatmu menemukan keluarga kedua di sini. Tradisi yang berlaku di sini akan menggelitik siapa saja yang mengaku masyarakat kosmopolitan sekalipun.

Bagaimana tidak?

Kami mencuci di sungai yang jaraknya ribuan meter berlokasi di pinggir desa. Untuk berjalan kaki saja sudah menempuh waktu setengah jam perjalanan. Belum dihitung ongkar ongkir sambil membawa gerobak beroda tiga berisikan ember-ember penuh pakaian kotor. Kondisi jalanan masih sepi kala berangkat di waktu fajar. Dua minggu pertama kami tinggal di Mabat, kami sempat vakum dari program, sampai lupa diri akan eksistensi kami di sini untuk melaksanakan kegiatan pembangunan desa sebagaimana amanat universitas. Saat itu, kerjaan kami hanya main, makan, dan nyuci baju. Kalau di jogja kami berangkat jam setengah tujuh pagi untuk kuliah, di sini, kami berangkat jam setengah enam pagi untuk mencuci baju di sungai. Produktif sekali.

Rekan satu KKN saya ada yang seorang pengamat. Hobinya memperhatikan kondisi sekitar dan menciptakan berbagai konklusi dalam diskusi kami di cafe pohon (baca: tempat nongkrong anak KKN). Ia berkata, “trend yang ada di sini tu, mau motornya scoopy, supra x, vega-r, metic, gigi, kopling, honda. Pokok e, apapun motornya, tujuannya tetep aja dibawa ke sungai, kebon. Kalo pergi ke sungai, dandanannya pake handuk diselendangin, sama bawa ember isinya alat mandi sama kemben ato gak sarung.”

Segala aktivitas mereka awali dengan pergi ke sungai: sebelum berangkat ke sekolah, setelah ngebon, selepas pulang dari PT. Segala ritual itu mereka lakukan di sungai. Mandi, nyuci baju, piring, karpet, ikan, hingga gorden menjelang lebaran. Apalagi kalau ada orang yang baru selesai manen sahang. Bau busuknya mengudara, menyengat, memantik emosi siapapun yang ada di sana. Mereka hanya akan meneriaki sambil tertawa, “bau duit, og!”

Di sanalah pusat kehidupan masyarakat. Dan menjadi katalis bagi kami, para perantau KKN untuk bisa melakukan pendekatan kultural dengan warga desa.

Kedua, atmosfer kekeluargaannya terbangun di sudut manapun.

Jujur saja, pertama kali mendengar kisah dari kakak kelas, saya menduga ini adalah karangan fiktif mereka yang konon pandai berdialektika. Mereka berkisah bahwa perlakuan masyarakat kepada mereka layaknya artis yang dielu-elukan. Bakti tulus layaknya bunda yang mengayomi anaknya, selalu diberikan di sana, hingga kami nyaris lupa kepemilikan sanak saudara di kampung halaman. Ini bukan kasih sayang semu yang terputus begitu periode KKN usai. Namun, kehangatannya masih tetap dirasakan hingga telekomunikasi ribuan kilometer jauhnya, dari warga desa yang selalu menelpon kami setiap malam.

Jadi begini, kawan.

Program utama KKN kami meliputi pendidikan dan pertanian. Sehingga, sudah menjadi rutinitas harian kami mengajar di PAUD, SD hingga madrasah. Di sini kami punya banyak fans yang mayoritas bocah-bocah petualang (baca: minion) berusia 4 hingga 12 tahun yang hiperaktif. Baru berjarak beberapa puluh meter, nama kami sudah dielu-elukan, “kakaaaaaak,... kakaaaaak,...”. Sekalipun saat disamperin, ada juga yang tidak kenal nama saya –sekedar memanggil siapapun dengan sebutan ‘kakak’.

Ada yang selalu mengekor kemanapun pergi –ke desa sebelah sekalipun. Ada yang sering menginap di pondokan laki-laki. Ada yang gemar berantem. Ada yang gemar main lompat tali. Ada yang gemar gelantungan di mobil pick up. Ada yang sukanya nyeduh mie di pagi hari. Ada yang ketagihan diantar pulang kalau main di tempat kami sampai larut. Ada yang datang bawa buku pelajaran, katanya mau belajar, nyatanya main-main saja. Ada yang kerjaannya malu-malu kucing hanya bisa duduk di bawah pohon menanti sampai ada yang menghampiri. Ada yang cuma bisa sms-an dalam sunyi. Ada yang gemar mengirim surat cinta. Sampai ada pula yang gemar main drama kisah cinta konyol antara dia dan rekan KKN saya.

Ada lagi untuk pemudanya.  Hampir setiap malam, cafe pohon di pondokan desa selalu dipenuhi pemuda desa yang turut meramaikan jadwal ronda anak-anak KKN. Sambil membawa sarung dan gitar, sekotak ceret rokok, mereka keluar masuk dapur kami sambil membawa segelas kopi ABC mocca seperti rumah sendiri. Kadang kala buka layar tancap pula. Kami tinggal menyediakan LCD, biarlah tembok jadi layarnya. Di bawah cafe pohon tinggal digelar terpal. Kami membuat bioskop pribadi beratapkan bintang di langit.

Bicara soal langit, pemandangan langit malam di sana luar biasa indah. Saya sering menengadah ke atas dalam perjalanan pulang seusai shalat taraweh di masjid, pada sebuah pemandangan yang nyaris sulit kau temukan di tanah Jawa. Kita ibarat terjebak dalam dome raksasa yang berlokasi di lapangan luas pada nadir sebuah desa terpencil. Di antara batas horizon dan titik alzimuth, terhampar lazuardi malam berselimutkan jutaan bintang yang mengisi suasana. Hingga goresan nyata dari segaris tipis galaksi bimasakti di langit selatan. Seperti mimpi indah saja mengingat itu.

Saya ingat betul satu waktu di bulan Ramadhan. Saat itu, para minion menemani kami pergi untuk berangkat sholat taraweh ke masjid selepas buka puasa bersama. Bilangnya sok jantan, “aku mau nemenin kakak!”. Nyatanya juga kami yang menemani mereka. Jemari mungilnya menggenggam lengan saya. Tangan kami saling bertautan dan berayun-ayun mengikuti irama langkah kaki. Kami berteriak menyanyi sepanjang perjalanan.

“Rukunnya, iman itu. Ada enam perkara. Pertama, mengimankan pada Allah yang Kuasa. Kedua malaikat. Ketiga kitab-kitab. Keempat para Rasul. Kelima hari kiamat. Keenam mengimankan takdir baik dan buruk. Itu semua dari Allah.”

Di antara ratusan rumah yang ada di Mabat, semua memperlakukan pendatang baru sama saja. Pintu terbuka selebar-lebarnya, senyum merekah seramah-ramahnya, sambutan hangat tiada henti kami rasakan.

Ada setidaknya empat keluarga yang saya jumpai dan saya merasakan sudah seperti rumah sendiri. Makan tidur mandi di sana. Nyamankan dirimu, mereka tak kenal rasa takut menyertaimu menjadi bagian dari kehidupan mereka. Tidur di sana. Bangun di pagi hari, lalu memasak bersama. Sarapan satu meja dalam lingkaran yang penuh canda tawa. Ikut bergabung dalam barisan geng motor bersorban handuk untuk pergi mencuci ke waduk sungai. Keliling kampung dengan wajah bermasker tebal hanya untuk beli segelas jasjus rasa jeruk. Silaturrahim keliling kampung dan pulang bawa oleh2 hasil panen warga. Berceloteh berbagi kisah hingga malam larut sambil menunggu bayinya tertidur nyenyak beratapkan kelambu. Kebanyakan pertanyaan yang mereka ajukan tentang kehidupan di kampus maupun kota. Pertanyaan kami? Kisaran kehidupan harian mereka, hingga saat pasangan suami istri masih muda.

Setiap rumah ada kisahnya, dan setiap kisah ada orangnya. Boleh saja mereka tinggal di desa yang sama dengan rutinitas yang sama. Namun, mereka semua istimewa sebagaimana mereka mengistimewakan kami. Jika ingin dirimu dihargai setinggi-tingginya manusia, Mabat akan memberikan yang terbaik bagimu hingga merasa seperti artefak berharga.

Pada akhirnya, saya tak tahu apa yang lain juga akan ikut mengagungkan desa ini sebagaimana halnya gambaran di atas. Namun, saya pikir kami sepakat. Mabat menjadi sebuah nama yang sangat istimewa dalam benak kami semua. Sebagaimana saya melihat tangis haru, baik kami unit KKN, maupun warga Mabat sendiri di penghujung periode. Saat semua generasi berkumpul mengantar kepergian kami. Memeluk, merangkul, dan menjabat. Berfoto bersama dalam senyum pahit bercampur emosi rindu yang membuncah. Kami mengabadikan momen ini dalam empat kata penuh makna, “terima kasih, Sahabat Mabat.”

#catatan Setengah Tahun

Ada sebuah perspektif baru yang orang coba bangun, begitu kali pertama mendengar sebuah amanah. Apa itu amanah? Awalnya saya juga rancu dalam mendefinisikannya.

Kita boleh saja membangun sebuah dinasti baru dengan paradigma dan gaya khas kita dalam mengatur sebuah kultur tertentu dalam sistem. Boleh saja kita membawa sebuah peradaban sesuai dengan pemikiran dan gagasan cemerlang kita. Namun, sebrilian apapun ide kita, tidak bisa berlabuh di kekumuhan bumi sosial jika tidak diimbangi dengan sebuah pemahaman akan konsep kultur dan budaya setempat. Inilah yang kemudian disebut proses membumi.
*** 

Saya mengenal istilah ini sudah sejak lama. Namun sebagai sebuah teori, baru saya kenal di masa saya dididik di asrama. Sebuah asrama luar biasa dengan kurikulum kehidupan yang –boleh saja ditertawai oleh orang lain, namun ketahuilah, inilah hal-hal sepele yang banyak orang melupakannya dan luput akan hal itu.

Pada suatu hari, hidup saya berubah untuk satu tahun ke depan. Itulah hari dimana saya dibebani amanah baru. Untuk sebuah amanah yang saya yakin, bukanlah lingkungan tempat saya seharusnya. Dengan segala macam visi hidup yang sudah dibangun sedemikian rupa, saya yakin ada kurikulum hidup yang harus saya ubah, pun juga dengan cita-cita yang perlu ditunda untuk beberapa tahun mendatang.

Dalam kisah ini, ada hal unik bagi saya. Menjadi sebuah kekhawatiran di mata orang tertentu. Meski menjadi sebuah kelegaan tersendiri pada kacamata yang lainnya.

Saya bergelut bersama seorang tokoh. Saya yakin dia akan menjadi tokoh besar suatu saat nanti. Dengan brandingnya sang pengendali forum, semangat inspirasi luar biasa, visi tertata dengan motivasi tinggi yang terbangun untuk menjadi sosok berbeda.

Ada saat dimana saya mencoba memantaskan diri berdiri di sampingnya. Satu dua, sampai kapanpun, saya tidak bisa mengimbanginya. Dia punya caranya sendiri yang membuat saya kerap kali tersenyum sumringah, merasa keunikannya adalah anugerah. Sungguh, semakin lama semakin besar sekali rasa kesungkananku dengan beliau.

Amanah memaksa saya menjadi pribadi yang berubah. Pun demikian usahanya. Seorang apatis yang didesak untuk menjadi seorang yang  paling peduli. Dari seorang yang tak peka, dipaksa menjadi seorang dengan tingkat kepekaan tinggi. Sejatinya, ini bukanlah saya, bagaimanapun itu. Seorang yang selalu bergantung, bagaimana mungkin menjadi seorang independen tanpa ketergantungan apapun? berbagai stigma mulai bergentayangan, tergubris seluruhnya oleh usaha beliau tanpa banyak keluhan. Saya memantapkan diri, dari kali pertama sampai seterusnya akibat keyakinan belilau. Ini baru kisah awal, dan masih banyak inspirasi yang saya refleksikan dari diri beliau.

Bagaimanapun, ada satu dua hal yang membuat saya menjaga jarak. Mundur beberapa langkah dari beliau. Tentang perbedaan sebuah paradigma.

Sejatinya, saya tidak suka menjadi pribadi terikat. Hakikatnya saya independen tanpa ada tendensi pada apapun. Ketidaksukaan saya akan keberpihakan, secara sederhana didasari karena belum ada orang yang secara cerdas mau dan bisa menunjukkan pada saya tentang urgensi keberpihakan sesungguhnya. Katakanlah, seorang tokoh meminta saya dengan amanah yang saya pegang untuk mengendalikan forum dan berkata A. Saya hormati itu sebagai sebuah pendapat, namun akan saya pertimbangkan hal itu untuk kemudian diaktualisasikan.

Saya hanya khawatir menjadi pribadi yang menerima ini dan itu. Banyak dari mereka menjadikan itu sebagai sebuah proses penerimaan secara mentah. Sebuah gelas terisi penuh akan lebih sulit kembali menerima air lagi, jika bukan karena kondisinya kosong sedari awal.

6 Feb 2015

pondok matahari (1)


7 tahun

 Gadis itu duduk di salah satu rest area di stasiun kota Yogyakarta. Seseorang telah menahannya untuk terjebak di tempat tersebut nyaris setengah jam. Sambil mengawasi orang-orang yang berlalu lalang, ia mengamati dengan seksama kalau-kalau orang yang ditunggunya muncul. Sesekali menggeser screen handphone touchscreennya, menshuffle list lagu yang terhubung pada earphone yang terpasang di telinganya hanya untuk membunuh waktu.
Hingga di menit selanjutnya, dorongan ketidaksabarannya membuatnya mulai merapihkan isi tas, mengangkat ranselnya. Hingga dari kejauhan, seseorang memanggil namanya setengah berteriak, “Aya!”
Aya melihat gadis paruh baya itu menghampirinya setengah berlari. Menarik koper sambil menggenggam handphone. Gayanya kasual dengan rok jeans dan jaket merah. Kerudungnya terbalut rapi dengan membungkus wajah putihnya. Satu hal yang mencolok dari dirinya, paras cantik dari wajah blasteran arab.
Ketika mereka sudah berjarak beberapa jengkal, Aya beringsut berwajah masam, sambil melipat tangan, mengeluh, “Aku bertanya-tanya jika kau sudah hilang dari peradaban,”
Tanpa banyak kata, gadis blasteran arab itu langsung memeluknya dengan erat, “aku merindukanmu,” bisiknya.
“Selamat datang kembali, Rehaf,..” timpal Aya.
Untuk beberapa detik kemudian, mereka memberikan ruang untuk menumpahkan rasa rindunya pada 7 tahun lamanya tidak bertemu. Kawan dekat itu terpisah 300.000 kilometer jauhnya oleh 2 benua.
Berusaha mengenyampingkan rasa malunya ketika mereka menjadi point of view di keramaian stasiun, Aya melepas pelukannya sambil menepuk-nepuk pundak Rehaf. Mengajak duduk di kursi sambil merapihkan barang bawaannya.
Diamatinya koper dan jaket yang diikat melingkar di pinggang Rehaf. “Kau baru saja turun dari bandara, dan ke stasiun?” tanyanya menebak.
Perempuan blasteran arab itu mengangkat pundaknya ringan. Matanya menyipit seiring senyum  di bibir tipisnya yang merekah. Sambil memegang pundak temannya yang lelah menunggu, Rehaf memilih mengajak Aya duduk di obrolan pagi hari ini. “Ayo, kutraktir kau es teh,” ujarnya. Ia terlalu lelah untuk berlari di lobi bandara maupun stasiun.
Mereka sesungguhnya adalah rekan sejawat masa remaja. 7 tahun lalu, ya. Meskipun  dulu mereka berbeda kelas, namun mereka diakrabkan oleh sebuah komunitas kepedulian sosial yang mereka bangun.
Selang setelah kelulusnya dari SMA, mereka mengambil jalannya masing-masing. Rehaf melanjutkan studinya ke Kairo, Mesir untuk mempelajari tafsir qur’an. Sementara Aya mengejar cita-citanya menjadi seorang penulis, dan belajar Sastra di salah satu universitas di Yogyakarta.
Dia tahu, Aya sama sekali belum berubah, bahkan hingga saat terakhir mereka bertemu. Satu hal yang ia yakini adalah, kemampuan luar biasa temannya untuk mendapatkan informasi. Hingga jadwal tibanya di Indonesia yang –bahkan –hanya ibunya yang tahu.
                “kau telfon ibuku?”
                “kau tahu? Selama kau pergi, aku sibuk mencitrakan diriku di depan orang tuamu,” ia nyengir mantap sambil menyibukkan diri menyeruput es tehnya.
                “memangnya kau mau melamarku?” candanya. “tidak,.. tidak. Kau sungguh menelfon orang tuaku?”
                “aku memang selalu datang ke rumahmu setiap kali kesempatan kembali ke Jakarta. Liburan kemarin, -tepat saat aku berencana mempersiapkan otakku sebelum membuat tesis –aku kembali ke jakarta dan berkunjung ke rumahmu. Tepatnya Juli, eh?”
                “kau sudah mengambil program pascasarjana?” Rehaf kali ini tersenyum sumringah. Hendak kembali memeluk temannya sebagai ucapan selamat, sebelum akhirnya Aya mencondongkan badannya ke belakang sebagai tanda keengganannya.
                Sambil menghela nafas, seolah pertanyaan itu adalah retorika absurd yang tidak mampu diterangkan secara kausalitas, ia menjawab, “Tepatnya sedang. Kau bahkan tak tahu kapan kelulusan sarjanaku.. Apakah orang yang kuliah negeri di luar, cenderung apatis masalah dalam negeri?” sambil berguyon. 
                Rehaf mengerjapkan mata, merengut seolah meminta maaaf pada temannya. “jika bukan karena aku ditahan oleh supervisorku, aku bisa pulang lebih cepat dari seharusnya.”
Ia tahu betul, tak satupun sikap dari temannya yang berubah. Selain daripada penampilannya dan gaya bicaranya yang mulai santun. Namun, bicara masalah topik candaan mereka masih sama saja. Ini membuatnya bersikap lebih nyaman, sama seperti dulu. Nyaris merasa tak ada yang perlu disembunyikan sejak terakhir kali pengalaman mereka bertemu di bandara, 7 tahun lalu.
“Ayo kita serius kali ini,” ujar Aya menyadarkan dengan tujuan awalnya. “Katakan, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
                “Tidak ada. Tidak ada yang akan kulakukan,” Aya mengangkat alis. Rehaf melanjutkan, “Aku hanya berpikir, kupikir dengan kehadiranku, akan menjadi alasan bagus untuk berkumpulnya kita kembali. Kita semua,” senyumnya santai.
                “Aku rindu Pondok Matahari,...” Rehaf tersenyum. “Aku rindu mereka, Ay,...” ucapnya.
#

2 Feb 2015

#3 Ushul Fiqih -Dalil yang Disepakati

#3 USHUL FIQIH –DALIL YANG DISEPAKATI
Jakarta, 21/01/2015. Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur. Materi keempat belas. Daurah Fiqh Dar Ash Shalihat. Ust. Isnan Anshory [Rumah Fiqh Indonesia].


DALIL 1 –al Quran
Al Quran adalah sebuah kitab yang cakupannya sangat luas –laut yang tak ada tepian pantainya. Siapapun dapat mengambil berbagai macam hal dalam al quran, bahkan para saintis sekalipun menggunakan al quran dalm eksperimennya. Sehingga jika belajar al quran sebagai ogjek kushul fiqh, tujuannya untuk memproduksi hukum dalam al quran. Karena al quran bicara akhlak, aqidah, dan berbagai macam hal. Sehingga ilmu ushul fiqh sesungguhnya mengambil 1/3 hal dari cakupan memproduksi hukum dalam al quran. Bukan akhlak yang dibahas di tasawwuf, dan lainnya.

#2 Ushul Fiqih -Sumber Dalil

#2 USHUL FIQIH
Jakarta, 20/01/2015. Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur.Materi kesepuluh. Daurah Fiqh Dar Ash Shalihat. Ust. Isnan Anshory [Rumah Fiqh Indonesia].


Dalil secara etimologis –bahasa berarti (menunjukkan). Dasar. Sumber dari hukum fiqh yang masuk dalam wilayah agama Islam. Dalam sebuah hadist rasul bersabda “barang siapa yang memberikan petunjuk atau menunjukkan seseorang untuk berbuat kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan pahala tersebut,”
Ulama bahasa mendefinisikannya “seseorang yang memberikan petunjuk kepada sesuatu yang ia tunjuk.” Secara terminologis –istilah ulama ushul fiqh  berkata, “ apa apa yang memungkinkan mencapai suatu hukum khabari berdasarkan analisa yang argumentatif dan benar”

Khabari?

Dalam ilmu balaghah terdapat istilah irsyai dan khabari. Ketika dikatakan waaqimusshalat adalah irsya’i –adalah yang maknanya sudah fiks seperti kata perintah, kata larangan. Karena perintah, jadi sudah jelas. Tidak mengindikasikan kata tersebut benar atau salahnya. Namun, jika khabarinya adalah menyatakan bahwa shalat itu wajib. Sehingga, statement yang masih perlu menguji apakah ada unsur kedustaan atau tidak.
Sehingga, dalil adalah perkataan, bahwa berdasarkan ayat ini, shalat hukumnya ‘wajib’. Sehingga, didefinisan apa yang ingin dituju oleh orang yang menggunakan dalil.

Islam