18 Apr 2016

Mahrom

Perbedaan penggunaan bahasa;
                Muhrim                : memakai pakaian ihram,
                Mahram               : orang yang haram untuk dinikahi,

Urgensi untuk mengetahui siapa mahrom kita?
                Supaya kita tahu batasan dalam bersikap kepada orang lain.

Terdapat tiga jenis mahrom;

(a)    Mahrom nasab –perhubungan darah [QS. an-Nur : 31]
Yang haram untuk dinikahi adalah;
1.       Ayah (ayah/ kakek/ buyut, dst). Ayah angkat tidak termasuk mahrom
2.       Anak lelaki (anak lelaki/ anak perempuan/ cucu dari anak lelaki/ cucu dari anak perempuan, dst)
3.       Saudara leaki (saudara kandung/sebapak/seibu, dst)
4.       Keponakan (keponakan dari saudara lelaki/keponakan dari saudara perempuan)
5.       Paman (baik dari ibu /bapak)

(b)   Mahrom persusuan –mahrom karena persusuan [QS. an-Nisa’ : 23]
Syaratnya ; (1) Telah terjadi proses persusuan 5 kali;  (2) Terjadi selama bayi menysui (2 tahun sejak kelahiran).
Yang haram untuk dinikahi adalah;
1.       Bapak persusuan
2.       Anak lelaki/anak perempuan persusuan
3.       Keponakan persusuan
4.       Paman persusuan

(c)    Mahrom pernikahan [QS. an-Nur : 31, an-Nisa : 22-23]
Yang haram untuk dinikahi adalah;
1.       Ibu tiri
2.       Anak tiri

Yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan mahrom sepersusuan :
              1.       Boleh melihat,
              2.       Boleh berkholwat,
              3.       Boleh bersafar,
              4.       Tidak boleh menikah,
              5.       Tidak ada hubungan saling mewarisi,
              6.       Tidak ada kewajiban menafkahi,
              7.       Persaksian tidak akan ditolak jika dia seorang yang benar dan menguntungkan, (dalam 
                    persidangan, biasanya saudara kandung persaksian tidak akan diterima. Artinya saudara
                    sepersusuan masih bisa diterima persaksiannya)

Hukum wanita dengan mahrom secara umum
              1.       Tidak boleh menikah,
              2.       Boleh menjadi wali,
              3.       Tidak boleh bersafar kecuali dengan mahrom,
              4.       Tidak boeh memperlihatkan aurot /perhiasan kecuali dengan mahrom
              5.       Boleh berkholwat,
              6.       Boleh berjabat tangan,
              7.       Ada hubungan saling mewarisi,
              8.       Ada kewajiban menafkahi,
              9.       Persaksian akan ditolak dalam persidangan 

     sumber : kajian singkat Ustadzah Fathin Azkiya :)

14 Apr 2016

Mengobral Pendidikan

Hierarki dalam masyarakat memiliki distribusi yang unik bicara soal trend. Trend yang ada di masyarakat sosialita berbeda dengan kalangan pedesaan. Mulai dari pejabat publik sampai pejabat rumah tangga. Penikmat pajak sampai yang paling terpaksa membayar pajak. Setiap lapisan masyarakat punya trend sendiri. Termasuk dalam dunia pendidikan.

Sadar atau tidak. Mengaku atau tidak. Terenyah atau tidak. Pada banyak kalangan akademisi, terjebak dalam paradoks dimana trend dalam institusi pelajar adalah Pendidikan Kognitif.

Analoginya seperti gedung pencakar langit.

Sebuah gedung tinggi menjulang hingga atapnya menyentuh awan-awan di puncaknya. Untuk mencapai puncak tertinggi, Anda disajikan pada berbagai opsi. Menaiki tangga dengan catatan akan mengalami kelelahan. Atau mencapai puncak dengan menaiki lift, dengan kesadaran penuh bahwa kapasitas lift terbatas. Hanya sedikit orang yang memilih –atau diberikan kesempatan untuk memilih cara lain yang lebih ekstrim seperti dengan katrol petugas kebersihan kaca, semisal. Atau helikopter. Atau meminta sedikit bantuan superman jika ia hidup dalam imajimu.

Dunia mempersempit kualitas individu dengan mengelompokkannya dalam kasta-kasta institusi favorit dan yang biasa. Sebuah lift disulap oleh tangan para teknokrat akal sehat sebagai pengelompokkan kasta manusia unggul dan tidak. Sepertinya lembaga SNI pindah haluan masuk ke ranah pendidikan, sehingga muncul standardisasi institusi favorit dan institusi yang dikeduakan. Institusi favorit sering kali digeneralisasi sebagai sekumpulan bibit unggul tempat bagi perusahaan elit multinasional menarik kader penggubah PT. Institusi lainnya dipandang sebelah mata

Istilah PT dalam dunia pendidikan bukanlah Perseroan Terbatas. Tetapi Perguruan Tinggi. Dan ini  bukan hanya tentang Perguruan Tinggi saja, namun fase pendidikan secara struktural. Ia juga masuk ke ranah SD. SMP. SMA. Semua ada label ‘favorit’nya. Dan pelabelan itu ditentukan oleh sebuah proses. Pendidikan Kognitif.

Dengan pendidikan kognitif, kualitas individu dihargai lewat angka normatif. Saat standar itu menyajikan kisi-kisi dan para penikmat pendidikan terpaku menyelesaikan ‘sebatas’ dalam lingkup kisi-kisi saja. Saat sebuah soal disajikan dengan harapan para pengerja soal memahami proses berpikirnya, namun secara ajaib diberikan cara cepat. Apa namanya. Smart solution?

Saya katakan ini karena saya adalah mahasiswa MIPA sebuah universitas berlabel. Melihat dengan jelas bagaimana dinamika yang ada soal kebutuhan kami dan kebutuhan orang lain terhadap kami. Sering sekali ada broadcast di grup sosial media bertemakan ‘dibutuhkan guru ini dan itu.’ Umumnya karena melihat label kami anak MIPA, seharusnya terbekali pelajaran matematika dan ipa. Hanya untuk memuaskan standar mereka untuk tahu bahwa background kita MIPA dan merupakan mahasiswa, maka cukup bagi saya untuk mengandalkan jasa Anda. Mereka tidak mau tahu IPK kita berapa atau makanan favorit kita apa –toh itu juga tidak penting. Yang jelas, anak mereka bisa memenuhi apa yang menjadi standar umum. Yang jelas, nilainya meningkat dan anak saya ‘kalau bisa sih’ masuk ke sekolah favorit. Become a common person in today’s society, achieving common achievement in the expectation of common society.

Saya tidak akan mengeneralisasikannya, karena kisah klasik di atas hanya partisi dari sekian banyak retorika dalam hidup.

Di sisi lain, seorang dosen yang ikut menjadi kontributor pembuat soal snmptn (waktu zaman saya namanya masih snmptn) bercerita dalam sebuah mata kuliah. Bahwa harapan beliau dalam proses mengerjakan soal –yang dibuatnya, lebih daripada apa yang bisa diselesaikan oleh smart solution. Bahwa ketika Anda masuk ke dalam di dunia perkuliahan –sebagaimana menjadi alasan kenapa Anda mengikuti snmptn, penting untuk memahami konsep dasar dari ini dan itu. Karenanya, seharusnya proses berpikir secara logis lah yang digunakan. Meski realitanya, hanya satu dari sekian orang yang mampu mengerjakan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Sebagai seorang pengajar paruh waktu, awalnya saya berpikir naif bahwa seorang pengajar bukan mendatangi murid. Justru sebaliknya, murid yang mendatangi tempat guru sebagaimana hal itu yang terinternalisasi selama saya duduk di bangku pendidikan. Namun akhirnya saya mengikuti arus. Dan ini adalah kesempatan kedua saya dan kembali timbul lagi pergolakan ini. Pemikiran ini memuncak, sampai klimaksnya adalah saat saya dituntut untuk membuat soal, persis sebagaimana kisi-kisi yang sudah dilegitimasi pembuat soal.


Barangkali ini bagian dari kejenuhan saya. Karena ada pula golongan manusia yang memilih jalan hidupnya masing-masing. Mereka yang belajar ilmu agama. Mereka yang menggemari seni. Mereka yang beraksi dengan hobinya masing-masing. Mereka yang cinta dengan hidup dan memilih tidak mau ambil pusing soal paradigma formalitas seperti ini. Mereka adalah orang yang percaya bahwa masih ada cara lain selain dari memperebutkan satu lift untuk sampai ke puncak gedung.

12 Apr 2016

Lembaran Kosong

Anak-anak adalah lembaran kosong. Namun mereka bukan bagian dari buku tulis. Bukan pula bagian dari tumpukan kanvas. Mereka adalah lembaran kosong yang bebas terisi. Namun bukan berarti bebas terwarnai. Seorang pengajar yang baik paham bahwa hak mereka sebatas  memperkenalkan beragam warna dan memberikan pengetahuan soal hidup. Namun mereka akan bergerak sesuai intuisi. Sesuai ego. Sesuai dengan rasa keingintahuan. Demi sekedar menjawab tanda tanya dalam hati.

Karena kreativitas mereka begitu melambung tinggi, sering kali orang tua kerepotan memenuhi segala tuntutannya. Pada akhirnya berlabuh pada menyerahkan segala pertanyaan kepada tenaga pendidik. Mereka dituntut untuk menjawab segala pertanyaan anak yang tak berpijak dengan realita. Kadang kala juga mereka dituntut untuk menjadi sosok ideal serba bisa. Dengan fakta domain mereka sebagai manusia yang memiliki segala keterbatasan dan kekhususan dalam bidang ilmu, namun di lain hal dituntut untuk menjadi apa yang mereka tidak bisa.

Saya jadi ingat satu kesempatan.

Pada semester ini saya dihadapi oleh dua dunia tempat saya menjadi pengajar. Yang satu, menuntut saya menjadi pribadi serba tahu karena rasa keingintahuan luar biasa besar dari seorang anak. Orang tuanya adalah dosen yang begitu memukau. Tanpa sadar, sang anak berharap bisa mengejar sosok orang tuanya dan melabuhkan segala pertanyaan yang menuntut komparasi tokoh antara saya dan sosok idamannya. Jelas jauh sekali. Masing-masing dalam pilihan hidupnya sendiri. Saya tidak iri terhadap sosok idamannya, sama besarnya seperti orang tuanya tidak iri hati pada kompetensi mahasiswa yang masih terseok di tahun keempatnya. Namun tuntutan moralnya besar. Ketika begitu besar ekspektasi dari pelajar, dan saya tetap berharap menjadi diri saya dengan segala visi yang dimiliki.

Yang kedua, menuntut saya menjadi pribadi yang sepenuhnya memikirkan soal mereka. Mereka adalah sekelompok anak labil yang berharap selalu diayomi. Ini lebih berat lagi. Mereka terang-terangan memberikan penghormatan pada mereka yang dirasa layak untuk mereka, yakni mereka yang lebih berilmu dibandingkan mereka. Tidak sedikit pada beberapa kesempatan, saya menangisi ego mereka. Karena mereka dituntut banyak hal dan menyebabkan kompetensi mereka di atas standar seusianya. Namun, tenaga pengajar tetaplah tenaga pengajar. Butuh penghargaan dan rasa hormat.

Beberapa kesempatan saya mengelus dada. Karena realitanya begitu besar. Anda tidak berharap dihargai, namun paling tidak cukup didengarkan saja. Tetapi, saat tidak ada seorangpun yang mengapresiasi, rasanya lebih baik tenggelam dari fakta. Sampai pada titik saya berpikir, bagaimanapun mereka tetaplah lembaran kosong. Yang butuh diisi. Yang butuh dibina.

Barangkali, saya bukanlah tenaga pendidik sejati. Yang belum paham pahit manis sebagai seorang komunikator manusia. Karena tiap profesi menuntut tantangan yang berbeda. Dan pada tahap ini, saya sadar betapa berat menjadi seorang tenaga pengajar. Terima kasih luar biasa, guru. 

Kuliah Umum : Kebijakan Publik dan Etika Publik oleh Sri Mulyani Indrawati

Saya rasanya lebih berat berdiri di sinidaripada waktu dipanggil pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karenea konten dari moral dan etikanya jelas berbeda, dan itu yang membuat saya jarang sekali biasanya grogi, sekarang menjadi grogi.

Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki laki. Hati kecil saya tetap mengatakan bahwa sampai saat ini saya adalah pembantu laki laki itu. Dan malam ini saya akan sekaligus menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami. Pada saat saya menjadi pembantu, secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal buruk tentang siapa yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf ika agak berbeda dan aspirasinya agak berbeda dengan yang ada di malam ini.

Tapi saya diminta untuk bicara kebijakan dan etika publik. Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai Menteri di Kabinet, di Republik Indonesia itu.

Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran. Dengan segala upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara, yang di dalam dirinya setiap hari adalah melakukan tindakan membuat pernyataan, membuat keputusan yang semuanya adalah dimensinya untuk kepentingan publik.

Disitu letak pertama dan sangat sulit bagi orang seperti saya karena saya tidak belajar seperti anda semua, tentang filosofi.

Tapi saya dididik untuk memahami etika dalam pemahaman yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus tahu untuk membuat garis apa yang disebut untuk kepentingan publik, dengan kepentingan pribadi saya, keluarga, atau kelompok. Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Roki Gerung di Filsafat UI untuk pintar tentang itu.  Karena kita belajar 30 tahun di bawah rezim Soeharto, dimana begitu acak hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Dan itu merupakan modal awal saya untuk  memahami konsekuensi menjadi pejabat publik yang setiap hari harus membuat kebijakan publik, dengan domain saya sebagai makhluk yang juga punya privacy atau kepentingan pribadi.

Di dalam ranah itulah kemudian hari-hari pertama dan lebih dari lima tahun saya bekerja untuk kepemerintah ini. Topik mengenai ‘Apa itu kebijakan publik’, dan bagaimana kita harus berpikir, merasakan, membuat keputusan, menjadi sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut apa yang disebut,  tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak, Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Jadi, kebijakan publik dibuat dengan tujuan melayani masyarakat. Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis, karena dia merupakan produk dari suatu proses politik, dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya. Di situlah letak persinggungan, atau yang disebut ingredients dari kebijakan publik, yaitu ‘unsur kekuasaan’. Dan kekuasaan itu sangat mudah menggelincirkan kita. Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa ada pengendalian dan sistem pengawasaan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua.

Namun, pada saat anda berdiri sebagai pejabat publik,  memiliki kekuasaan dan kekuasaan itu dipastikan membuat kita corrupt, maka pertanyaan ‘kalau saya ingin jadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?’

Oleh karena itu, di dalam proses proses yang saya lalui, dari hari pertama. Karena begitu khawatirnya, tapi di saat yang sama ada perasaan anxiety namun tidak ingin tergelincir kepada korupsi. Maka, pada hari pertama Anda masuk kantor, Anda tanyakan dulu pada sistem pengawasan dan staff Anda. Apalagi waktu itu, jabatan dari bappenas menjadi Menteri Keungan. Dan saya sadar sesadar-sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan, pada saat saya tidak berpikir corrupt pun, orang sudah berpikir ngeres tentang hal itu.

Bayangkan seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar mulai dari 400 triliyun sampai sekarang di atas 1000 triliyun. Itu omset. Total asetnya mendekati 3000 triliyun lebih.

Saya sudah melihat banyak sekali –apa yang disebut tata kelola atau governance pada saat seseorang memegang suatu keuangan begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang tidak tergiur atau apalagi terpeleset. Sehingga tergoda, bahwa apa yang dia kelola menjadi seolah-oleh aset miliknya sendiri.

Dan di situlah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri, dan bahkan dalam pikiran dan perasaan kita. Untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dan penuh perhitungan, dan tidak memperbolehkan perasaan ataupun godaan apapun, untuk bahkan berpikir untuk meng-abusenya.

Barangkali itu istilah yang disebut teknokratik. Tapi saya sih menganggap bahwa banyak juga orang yang katanya berasal dari akademik, disebut teknokrat, tetapi baunya tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi, lebih-lebih. Jadi saya biasanya tidak mengklasafiikaan label, tapi sebagai genuine, produknya dia seperti apa. Tingkah laku yang esensial.

Di dalam hari-hari dimana kita harus membuat kebijakan publik, dan tadi disebutkan kewenangan menyangkut sebuah, atau nilai resources yang begitu besar. Kita mencoba menegakkan rambu-rambu internal dan juga eksternal.

Mungkin contoh untuk internal, hari pertama saya tanyakan pada inspektorat jendral saya, ‘tolong berikan list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri.’ Biasanya mereka bingung, ‘tidak ada menteri yang tanya begitu, bu. Karena menteri boleh semua, termasuk boleh mecat saya.’ Kalau seorang menteri menanyakan apa yang boleh dan tidak boleh, menurut mereka menjadi sebuah pertanyaan yang sangat ganjal. Untuk kultur birokrat, hal itu sangat sulit dipahami.

Di dalam kewenangan yang sangat besar, kita membuat rambu-rambu. Kita membuat standard operating procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance. Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan konflik kepentingan.

Saya bisa cerita berhari-hari kepada Anda, banyak contoh dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang pada jabatan Menteri Keuangan mudah tergoda. Dari korupsi kecil, sampai besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan retail, sampai korupsi yang sifatnya apstrim dan hulu.  Dan bahkan dengan kewenangan dan kemampuannya, dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan kewenangan yang besar, dia sebetulnya juga bisa membeli sistem. Dia bisa menciptkan network. Dia bisa  menciptkan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa yang menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya. Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu Anda tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti.

Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan peraturan, membuat rambu-rambu dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa dilewati. Di situlah apa yang kemudian muncul, unsur ‘etika’. Karena etika menempel di dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas. Apakah sesuatu itu mengkhianati atau tidak mengkhianati kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang mengkhianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita. Dan kemudian, kalau kemudian kita bicara tentang ‘total’, atau agregat. Setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang sifatnya agregat atau publik. Pertanyaannya adalah, ‘apakah di dalam domain publik ini, setiap etika pribadi kita bisa dijualkan dan menghasilkan barang publik yang diinginkan, yaitu suatu rambu-rambu normal yang mengatur dan memberikan guidance yang pada kita? ‘ saya termasuk yangbanyak mendapat penderitaan menjadi menteri, karena itu tidak terjadi.

Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam jam, duduk di DPR. Di situ anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura sungguh-sungguh. Mereka mengkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan, ‘ini adalah panggung politik, ibu.’

Waktu saya dulu masuk Menteri Keuangan, pertama. Saya masih punya dua dirjen yang sangat terkenal. Dirjen pajak dan dirjen keungan saya. Mereka sangat powerful. Karena pengaruhnya, dan juga respectability,  saya tidak tahu karena apa, kepada anggota dewan, mereka luar biasa.

Dan waktu saya ditanya, segala macam. Setiap keputusan, statement saya, selalu ditanya sangat keras. Saya dulunya begitu naif mengatakan, ‘oh ini ongkos demokrasi yang harus dibayar’ saya legowo saja dengan tenang saya menulis. Waktu saya sudah ditulis, mereka keluar ruangan, tidak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian, saya dinasehati dirjen saya, ‘ibu nggak usah  dimasukkan ke hati, bu, hal seperti itu. Itu hanya episode. Satu drama saja’.

Tapi kemudian itu menimbulkan suatu pergolakan batin. Karena saya kemudian bertanya, tadi dikaitkan dengan etika publik. ‘Kalau orang bisa secara terus menerus berpura pura, dan media memuat. Dan tidak ada satu kelompok pun yang menyatakan itu adalah kepura-puraan. Maka kita bertanya-tanya apalagi, siapa lagi yang akan menjadi guidance Yang mengingatkan pada kita tentang apa yang disebut norma kepantasan?’

Dan itu sungguh berat. Karena terus saya mengatakan, ‘jika saya jadi pejabat publik, ongkos menjadi pejabat publik, pertama. Kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo tidak ada masalah. Yang kedua saya khawatir saya akan menjadi  split personality. ‘ Waktu di dewan, saya jadi personality yang lain. Nanti di kantor juga demikian. Waktu di rumah lain lagi. Untung suami dan anak anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk seorang seperti saya untuk harus berubah ubah. Kalau pagi lain dengan sore, sore laindengan malam, malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalan kan secara konsisten.

Oleh karena itu, di dalam konteks inilah kita berbicara tentang etika publik yang seharusnya menjadi landasan, arahan, bagi bagaimana kita memproduksi tindakan, keputusan yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan situasi yang baik di masyarakat. namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik. Dimana menurut mereka, norma dan etika itu nampaknya tidak hanya double standard. Triple standard.

Bahkan, kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul betul terpana. Waktu saya menjadi executif director di AMF, pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara-negara maju. Hari pertama, saya diminta untuk tanda tangan sebagai eksekutif direktor, do dan donts. Di situ juga disebutkan konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang memproduksi suatu policy public untuk level internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat dalam proses politik atau proses kebijakan itu, harus menanggalkan konflik kepentingannya. Dan kalau kita ragu, kita boleh tanya, ‘apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat ini termasuk domain konflik kepentingan?’ dan mereka membeirkan consoul pada kita untuk bisa membuat keputusan yang baik.  Sehingga bekerja dalam institusi seperti itu, mudah. Dan kalau sampai anda tergelincir, ya kebangetan saja, Anda.

Namun, waktu saya kembali ke Indonesia, dan setahu saya tentang konflik kepentingan, saya sering membuat rapat, dan kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran. Entah belanja, intensif. Dan pihak yang ikut duduk kebijakan adalah pihak yang akan dapat kekuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan bahwa yang penting, pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa, itu urusan sekunder.

Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu backgroundnya pengusaha. Meskipun yang bersangkutan mengatakan, ‘telah meninggalkan seluruh bisnisnya.’ Tapisemua orang tahu bahwa adiknya, anaknya, kakaknya, semuanya masih run’ dan dengan tenangnya berbagi kebijakan. Bahkan yang kadang membuat saya terpana, -kalau dalam bahasa inggris, i drop my joy. Bengong. Kita bingung bahwa ada sebuah keputusan dibuat. dan ada banyak catatan pribadi dibuat. dan keputusan ini, besok lagi yang mengimport adalah perusahaannya dia.

Ini merupakan sesuatu hal yang barangkali tanpa perlu didramatisir, the most reason phenomena. Kita semua tahu itulah penyakit yang terjadi di zaman orde baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup. Tapi sekarang, dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia bisa mengkooptasi, decision making process juga. Kelihatannya melalui demokrasi, keliahatannya melalui proses check and balance juga. Tetapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut, pak.

Ada suatu saat saya membuat rapat. Dan rapat itu jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan. Kebetulan dari beberapa yang saya undang, komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan mengatakan dengan tenang,  ‘bagi yang punya afiliasi dari apa yang kita diskusikan, silahkan keluar dari ruangan.’ Memang itu tradisi yang kita coba dilakkan di Kementrian Keuangan. Kebetulan mereka teman teman saya, dan dengan bitter mereka mengatakan, “mba Ani, jangan sadis-sadis begitulah. Kalaupun kita suruh keluar, biar kami keluar diam-diam. Gak usah caranya begitu’

Saya ingin mengatakan ini kepada Anda bahwa bagaimana, konsep mengenai etika dan konflik kepentingan bisa dikatakan sangat langka direpublik ini. Dan kalau kita berusaha menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh.

Tentu adalah sebuah keresahan bagi kita, karena episode beberapa kali adalah di dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang seharusnya menjadi the ultimate share holder dari kekuasaan. Yang memilh, kepada siapapun menjadi CEO dari republik ini. Dan memilih yang menjadi pengawas atau check terhadap CEOnya. Proses ini tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang mengatakan untuk memegang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota, provinsi, membutuhkan biaya luar biasa. Apalagi presiden, pastinya. Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa dibayangkan. Untuk suatu beban seseorang.

Saya Menteri Keuangan, saya biasa mengurusi ratusan triliyun bahkan ribuan. Saya tidak kaget dengan angka, tapi saya akan kaget jika itu jadi beban personal. Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return on investment saja tidak masuk. Saya lihat, struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura tidak boleh menaikkan, karena nanti dianggap dianggap mau menyejahterahkan diri sebelum menyejahterahkan rakyat. Sehingga muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengatakan, ‘strukturnya harus diubah. Dibenahi lagi.’

Namun tetap, toh tidak bisa menjelaskan sebuah proses politik yang begitu sangat mahalnya. Sehingga, memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber financial. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin dibayar dengan gajinya, bahkan melalui APBDnya pun tidak mungkin, karena size dari APBDnya kadang kadang tidak sebesar atau tidak sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy. Policy  yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah hasil dari sebuah kolaborasi.

Pertanyaan untuk kita semua, ‘bagaimana kita menyikapi hal ini, di dalam konteks bahwa produk dari kebijakan publik melalui sebuah proses politik yang begitu mahal, sudah pasti akan distorted . dengan struktur yang membentuk awalnya. Karena kebijakan publik adalah hilir, hasil akhir. Hulunya, lebih hulu lagi, prosesnya dalam membentuk kekuasaan itu, sedemikian mahal. Dan itu, akan menjadi pertanyaan yang constant untuk sebuah sistem demokrasi.

Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu dari pemerintah, tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. Politik dimana saja adalah tentang kepentingan, dan kepentingan itu kawin di antara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Hasil perkawainan itu, siapa saja yang ingin kalau pada hari ini disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan, menangisi, ada yang gelo kenapa kok, Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan? Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap, sumbangan saya atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik, tidak lagi dikehendaki oleh sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan begitu dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu kartel, saya lebih suka itu kawin. Walaupun jenis kelaminnya sama. Karena politik itu sama.  Karena politik lebih banyak lakinya dibandingkan perempuan. Hampir semua ketua partai itu laki, kecuali satu.

Dan di dalam sistem politik tidak menghendaki lagi, atau dalam ha ini tidak memungkinkan etika publik itu dimunculkan, maka untuk orang seperti saya, akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tanggung jawab untuk menjadi pejabat publik saya sudah berjanji pada diri saya sendiri saya tidak angin menjadi orang yang mengkhianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak  mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mencucurkan atau meneteskan air mata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa. Anda mampu. Anda bahkan boleh. Anda bahkan diharapkan untuk mengabusenya. Oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi. Agar nyaman. Dan Anda tidak mau.

Pada saat yang sama, Anda tidak selalu diapresasi. P2D  kan baru muncul sesudah saya mundur.  Jadi ya, terlambat tidak apa, asal masih bisa menyelamatkan republik ini, lah.

Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suarahati kita. Bahkan mejaga etika kita dalam bertindak, berbuat serta membuat keputusan.

Mungkin saya akan mengatakan bahwa, pada bagian akhir kuliah saya ini, saya ingin menyampaikan pada semua kawan-kawan ini. Say abukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi bukan berarti bahwa saya tidak tahu politik. Selama lebih dari lima tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi.

Kita punya perasaan bergumul, bergelora, atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita bahwa, jangan jangan, banyak orang ingin berbuat baik, merasa frustasi. Atau mungkin saya mencoba less dramatic ..................... kompromi itu perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru. Karena saya tahu betul cerita para teknokroat jaman pak Harto,  untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema : apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau Anda out dan anda punya chance untuk berbuat atau paling tidak resiko utuk bisa getting associated with berkurang. Personal gain, public loss. Atau paling tidak . if you are stay, dan itu yang saya rasakan lima tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy. Karena no one yang sangat simpati yang tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita masih dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan kita pun tidak bisa karena kita bukan kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Dan itu bukanlah sebuah pengalaman yang mudah. Dan kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak. Sehingga kita bisa menemukan kesamaan.

Nah, kalau kita ingin kembali ke dalam topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum- forum semacam ini atau kelompok seperti Anda yang saya yakin adalah kelompok kelas menengah yang sangat sadar membayar pajak. Membayarnya pun tentu tidak sukarela, tidak ada orang yang patriotik yang mau mengatakan membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, Anda sadar bahwa itu adalah kewajiban yang dibuat untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti Anda, yang karena tahu membayar pajak adalah kewajiban adalah hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam bentuk sistem politik yang kita inginkan. Maka sebetulnya di tangan orang-orang seperti Andalah republik ini harus dijaga.

Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali kali di banyak forum ditanya, ‘kenapa ibu pergi? Bagiamana reformasi? Kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting, dibandingkan bank dunia? Seolah oleh negara ini menjadi tanggung jawab Sri mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini jika anda bertanya hal yang sama ke saya  Anda semua bertanggung jawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan. Sampai saya harus menyampaikan pada jajaran beacukai, jajaran perbendaharaan, jangan pernah putus asa mencintai republik. Saya tahu sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.

Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan, menjaga etika kita di dalam bertindak dan berbuat serta membuat keputusan.

Dan saya ingin membagi kepada teman-teman di sini. Karena terlalu banyak di media seolah olah ditunjukkan yang terjadi di aparat di Kementrian Keuangan,  yang sudah direformasi, masih terjadi kasus seperti Gayus.

Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly mereka adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta Republik sama seperti Anda. Mereka juga kritis. Mereka punya nurani. Mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit. Mungkin mereka tidak bersuara, karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak, tapi harus bekerja.

Sebagian kecil adalah kelompok rakus, yang dengan kekuasaan dan kewenangan, sangat senang untuk meng-abuse.  Tapi saya katakan, sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin, tolong dibantu. Berilah ruang untuk orang-orang ini, untuk dikenali oleh Anda juga, dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi difabrikasi dengan seolah-olah mengambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh.

Selama seminggu ini saya terus melakukan petemuan dan perpisahan di jajaran di kementrian Keuangan. Dan saya bisa memberikan, sekali lagi testimoni, bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan, ada di sana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu.

Dan jangan kemudian Anda semua di sini bicara dengan saya, ‘bisa diselamatkan, kalau Sri Mulyani tetap jadi Menteri Keuangan.’ Saya rasa tidak juga.

Suasana yang kita rasakan pada minggu minggu yang lalu, bulan bulan yang lalu, seolah olah persoalan negara disandera oleh satu orang, Sri Mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu, sedemikian, sehingga seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada suatu ketika dia harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah. Dengan berbagai pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia tetap harus membuat kebijakan publik.

Dia berusaha berusaha di setiap pertemuan. Mencoba untuk meneliti dirinya sendiri, apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok. Dan apakah dia diintervensi atau tidak? Apakah dia membuat keputusan ada tujuan yang lain? Berhari-hari, berjam-jam, dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang. Dan orang orang ini yang tidak akan segan mengingatkan pada saya, karena meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti pak Darmin. Siapa yang bisa bilang atau marahin pak Marsilam? Orang semua orang dimarahin duluan sama dia.

Mereka ada di sana hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan, dan pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan. Dan itu diaudit. Dan itu kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkerjakan di DPR.

Bagaimana mungkin itu kemudian, delapan belas kemudian, dia menjadi seolah oleh menjadi keputusan individu, seorang Sri Mulyani seorang. Proses itu berjalan dalam etika sunyi. Akal sehat tidak ada . Dan itu meunculkan suatu perasaan, ‘apakah pejabat publik yang bertugas membuat kebijakan publik. Pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah proses politik?’

Saya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim orde lama ke orde baru, orang semua di strigma komunis. Kalau sekarang khusus diera reformasi, Sri Mulyani identik Century.

Mungkin kejadiannya di satu orang saja. Tapi sebetulnya, analogi ....... Sebetulnya disitulah letak kita mulai betanya, ‘apakah proses politik yang didorong, dimotivair, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan, membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa pengadilan? Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah episode yang sebetulnya, sesudah berturut-turut kita memahami konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita, dibenturkan dengan realita-realita politik.

Dan untuk itu, saya hanya akan mengatakan sebagai penutup.

Sebagian dari Anda mengatakan, ‘apakah Sri Mulyani kalah? ‘Apakah Sri Mulyani lari’? Dan saya yakin, banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan.

Di antara Anda semua yang ada di sini, saya ingin mengatakan, bahwa ‘saya menang’. ‘Saya berhasil’. Kemenangan dan keberhasilan, saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya untuk tidak di sini. Saya merasa berhasl dan saya merasa menang, karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak mengkhianati kebenaran. Selama saya tidak mengingkari nurani saya. Dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya. Maka disitu saya menang.

Terima kasih. 



notulensi dari Kuliah Umum : Kebijakan Publik dan Etika Publik oleh Sri Mulyani Indrawati
dapat diakses di https://www.youtube.com/watch?v=PtjM73oNYuM 

30 Mar 2016

Jangan Ajak Aku Berlari

“mereka masih anak kecil,...” akhir-akhir ini, hanya kata itu yang coba kusematkan dalam benakku setiap kali mencoba menggerakkan sistem.

Sudah 2 bulan saya tinggal di sini. Semakin mencoba menyamankan diri dalam lingkungan ini. Nyaman nggak nyaman, harus tetap dibuat nyaman. Batinku sambil mengingat si pemilik petuah itu, rekan kerjaku setahun kepengurusan yang lalu.

Untuk apa repot-repot mengurus bocah labil, sementara tahun lalu kau sudah mengopeni anak kampus? Menyapa santri SMP yang luar biasa di kala seharusnya skripsi dan masa depan, engkau sapa dengan lebih matang.

Saya nyaris lupa esensi awal saya berpijak di bumi ini, kawan.

Hidup itu bukan sekedar teori dan normatif belaka. Bahwa setiap sistem punya tantangan yang berbeda. Saya masih perlu berlatih diri untuk menerima dan diterima di lingkungan manapun. Dalam beberapa masa transisi saya dalam lingkungan baru, tidak semuanya sukses. Tidak semuanya saya tetap jalin awet.

Keluarga. Teman seangkatan fisika. Lembaga kampus. Lingkaran halaqoh. Rekan KKN. Warga desa KKN. DS. Grup riset. Lingkungan pondok.

Semuanya punya sistem yang berbeda. Ada yang gagal kubangun. Ada yang masih kental saya jaga silaturrahimnya. Betapa sulitnya untuk menjaga sebuah jaringan dengan karaktermu dan prinsip untuk tidak membiarkan lingkungan mengubah sifatmu.

Dulu, mengurus anak kampus dengan anekdotnya. Mereka penuh warna, aku sikapi dengan penuh warna pula. Kadang kala pulang tengah malam mengurus anak orang yang butuh diantar. Menemani curhat gadis galau tentang hubungan ‘persahabatan’nya dengan senior. Atau ngebut menyusul staff yang sedang kumpul makan bareng di malam hari. Menyesuaikan, sambil masih memegang prinsip hidup untuk tidak bertidak kelewat batas. Mencoba membaur dan beradaptasi tanpa harus terwarnai.

Lama aku bermukim di lingkungan tersebut. Mencoba mengubah diri menjadi pribadi yang melebur diterima lapisan masyarakat yang penuh dengan warna dalam hidup dan visi tinggi bicara mimpi.

Sekarang. Saya tenggelam dalam kerumunan labilnya santri SMP. Yang masih berpikir dangkal soal hidup. Yang respektabilitasnya sangat minim terhadap norma dan etika karena memang masih butuh pengajaran. Yang sering menuntut tanpa pernah mau untuk dituntut. Yang banyak neko-neko. Yang masih butuh disadari bahwa hidup tidak hanya sebatas rumah dan pondok. Wawasan mereka masih cetek dan pandangan mereka masih sempit dalam melihat hidup dan warnanya.

May. Mereka masih anak kecil.

Belakangan saya menyadari. Bahwa ketika mencoba peduli pada mereka, maka butuh aksi nyata untuk memporakporandakan sistem supaya berjalan sesuai dengan koridornya. Namun, mereka tidak bisa diajak berlari, kawan. Dioprak-oprak, mereka akan bergunjing di belakang. Diketahui kelemahannya, akan menjadi bahan ejekan dalam pembicaraan tanpa Anda di sana. Banyak sekali tuntutannya. Luar biasa banyak.

Belakangan saya semakin harus menyadari. Bahwa rasa peduli saya besar. Namun, bahwa wujud kepeduliannya dilakukan dengan cara yang salah. Se hingga beberapa di antara mereka enggan berkomunikasi dengan saya, itu yang jadi masalah. Saya turunkan rasa kepedulian saya dan intuisi membantu. Saya longgarkan tali saya yang kalau-kalau mengikat terikat kencang. Saya tinggikan rasa apatis dan besarkan ruang untuk rasa ego. Saya terus tanamkan bahwa mimpi saya begitu indah, dan terlalu mennyedihkan jika hidup hanya dibuat memikirkan mereka dan semua tuntutan yang dapat mengubahmu dan seluruh rangkaian proyeksi masa depanmu. Hidupku terlalu sempit untuk hanya memikirkan mereka. Sungguh.

Saya harus ingat visi awal. Sungguh. Di sini saya semakin mengingat betapa pentingnya memiliki visi hidup. Anda akan mudah goyah dan tumbang saat tidak memiliki pegangan yang kokoh. Hidupmu tidak bisa terarah dan mengikuti ekspresi belaka saat titik klimaks warna membuncah dan anda terbawa arus. Hanya sesaat. Nanti juga hilang.

Sampai saya berlabuh pada satu kesimpulan. Kalau sayaberpikiran begini, saya yang tidak dewasa dan terbawa mereka yang berpikiran kekanak-kanakan. Sama-sama ngambek. Hasilnya : stagnan.

Di saat seperti inilah, logika harus berjalan dan kedewasaan perlu ditingkatkan. Rasa sabar harus diperkuat. Di bumi manapun, sabar itu adalah ilmu yang digunakan dalam semua lini kehidupan dan interaksi pada dunia sosial. Anda akan lebih kejam ditindas atasan tirani kalau Anda tidak bisa kebal. Nah, bagaimana cara menyikapi kesabarannya ini yang beraneka macam. Bisa bersabar menerima dengan pasrah, atau bersabar dengan berpikir solusi dan menyuarakan aspirasi.

Dalam hal ini, saya perlu bersabar dengan fakta bahwa mereka masih bocah yang labil. Luar biasa labil.

Ada yang suka marah dan sering sekali cemberut, dan saya belum jenuh mengingatkan untuk bisa tersenyum.

Ada yang luar biasa ekspresif dalam melenggak melenggok dan senang melengkingkan suara menggoda, sampai saya sering kali menegurnya. Dia semakin menjauh.

Ada yang gemar sekali hafalan sampai ketika kumpul berdiskusi pun, masih tetap menghafal. Untuk semangat menghafal yang salah situasi dan kondisi.

Ada yang ‘sering tersenyum tapi hatinya sakit’, katanya. Tiba-tiba meledakkan emosi satu kali dengan begitu dramatis.

Ada yang kebersihannya luar biasa harus diporak porandakan. Sampai cuciannya jamuran pun belum merasa ada masalah.

Saya harus lebih memahami saat ini, untuk lebih menyederhanakan masalah di depan mereka tanpa melupakan masalah besar yang engkau miliki secara individu. Untuk menanggapi tangisan dan kedramatisan mereka sewajarnya saja. Untuk tidak overact dalam memberikan perhatian, namun tetap berpikir rasional untuk membina mereka. Karena semakin lama mengenal mereka, semakin saya merasa hidup dalam dunia drama. Segala hal menjadi drama klasik. Ada banyak tangisan, ada banyak tawa, dan ada banyak nada. Setiap masalah, ada dramanya. Saya harus semakin berlatih. Untuk menyelesaikan sengketa perebutan kursi di jam pelajaran. Mendamaikan perdebatan antri kamar mandi. Mewajarkan santri yang pura-pura sakit atau memang benar sakit. Segala halnya penuh warna. Sungguh.

Yang penting seimbang saja. Karena bagaimanapun juga, mereka tetaplah anak kecil yang masih butuh bimbingan moril. Dan saya tetaplah seorang manusia yang sejatinya lebih banyak belajar dalam membina di sini.

Antara Akademisi dan Ahli Herbal

 Ada banyak retorika  yang berkembang di kalangan masyarakat pondok. Mulai dari menganut rasa ta’dzhim kepada ustadz. Meningkatkan rasa kepekaan dan rasa tolong menolong dalam kehidupan satu atap. Sampai dengan kemampuan untuk bisa manajemen waktu di antara rutinitas yang lebih padat dibandingkan anak sekolah umum favorit sekalipun. Dengan beban akademik, hafalan quran, dan tuntutan penguasaan bahasa mereka.

Yang saya ceritakan di sini adalah hal yang membangkitkan intuisi pribadi sampai-sampai tergelitik untuk menuangkannya. Ada satu paradigma yang membuat saya menepuk jidat dan mengelus dada berkali-kali. Sampai saya berkonsultasi pada rekan sejawat.

Tentang pengobatan herbal diutamakan di atas logika kesehatan.

Pertama kali saya menjadi musyrifah, pada malam kedua, pintu kamar saya diketuk oleh santri pada tengah malam sekitar jam setengah satu pagi. Untungnya saya masih tersadar mengerjakan tugas sehingga suara tapak kaki mereka yang ragu mengetuk pintu antara nyata dan redup, samar terdengar olehku.

“ada apa?” aku membuka pintu, melihat kedua santri berwajah cemas.

Mereka menoleh bernafas lega. “Hurin, ukhti,...”

Kemudian aku bergegas ke sana. Meninggalkan kamar dengan rekan saya yang masih tertidur pulas saat itu. Kesibukan kami berbeda, dan kondisi memaksa saya masih terjaga sampai tengah malam. Akhirnya, saya bergegas pergi ke kamar santri.

Gadis kecil itu termasuk kecil untuk usianya. Kelas 1 SMP. Cantik. Sangat cantik dan manis.

Beliau mengeluh sakit. Saya yang menjadi orang baru di sini, tidak habis pikir untuk menghadapi situasi yang begitu rumit, terlebih kala itu saya belum membaca apapun riwayat penyakit para santri. Sejurus kemudian, saya langsung mengambil handphone dan menghubungi teman saya, anak fakes yang kebetulan kami sekontrakan. Meskipun saya paham betul kondisinya beliau sedang pulang kampung ke tempat asalnya, Cilacap.

Satu dering beliau belum mengangkat.  Yang kedua masih belum. Sampai dering ke delapan. Beruntung sekali, tengah malam dan beliau masih terjaga..

“gif.. ini kalau sakit perut gimana, ya? katanya penyakit maag... dia sampai nangis perih banget.” Aku kalap sekali kala itu.

Suaranya masih terantuk setengah sadar. Rupanya dering handphone membangunkannya dari alam mimpi, “oh, Ay.. hm... pakai air hangat saja dikompres perutnya, atau yang hangat-hangat. Sambil dipijitin..”

“ada obatnya, gif? Anaknya sakit banget gif, ini lagi nangis...”

“promaag coba, Ay,..”

Kutanyakan kepada Hurin, apakah terbiasa mengkonsumsi promaag, beliau meggeleng sambil masih terus menangis. Ia duduk kaku sambil memegang perut yang kesakitan dan air mata berderai. Sementara teman teman sekelilingnya semua telah tertidur lelap selain dua orang santri yang membangunkanku. Ada yang berujar, “pakai habbatus sa’udah punyaku, ukhti...”

Saya terdiam sesaat. Tersenyum. Lalu kembali mengalihkan fokus pada si santri. Singkat cerita, malam heroik itu berakhir dengan saya yang tertidur lelap di samping Hurin. Memijit perut sebelah kirinya yang sakit sampai mereda. Tangisnya terbawa tidur. Dan tidurnya membawa saya bernafas lega.

Ini baru satu contoh kasus.

Kemudian, pada tanggal 02 maret tepatnya. Saya pulang dari kampus. Mendadak begitu banyak keluhan dari anak-anak. Apa ada yang salah dengan kondisi kamar santri atau makanan. Yang jelas ada ketidakberesan dengannya.

Pertama,

“ukhti.. Nadia tadi pagi muntah dua kali.. Mencret juga, bolak-balik kamar mandi terus..”

Saya memutar otak, bergegas bertanya pada anaknya yang kondisinya sudah cukup lemas. Meski wajahnya putih, namun kali ini putih pucat.

“sudah diminum obat?”

“sudah.. tadi pakai sarang semut punya noni..”

“sarang semut?”

“itu loh ukhti, obat herbal punya Noni,”

Saya hanya terdiam. Sejenak. Oh. Rasanya seperti nostalgia.

Kedua,

“Ukhti... Jihan pusing, ukhti,”

“oh iya?” sambil mencoba mengecek suhu badan dengan tangan. Suhunya normal. “sudah dikasih obat pusing?”

“nanti coba bekam, ukhti.. sama ibunya mba Ima.”

Saya hanya terdiam. Sejenak. Oh. Ada lagi ...

Ketiga,

“ukhti..mba Dani tadi, bab nya berdarah..”

Oh iya? “iya, Dan?”

“iya, aku ambein, ukhti..”

“punya ambeven?”

“nggak ukhti.. aku biasa pakai obat herbal..”

“obat herbal?”

“iya, spray herbal.”

“terus, gimana cara pakainya?”

“disemprot, dibagian belakang.”

Saya hanya diam. Sejenak. Oh. Sambil menepok jidat.

Dan yang lebih kerennya lagi, semua ini terjadi dalam satu hari. Satu waktu. Maka saya (kembali) mengambil smartphone sambil menanyakan pada salah satu grup yang –alhamdulillah saya berkesempatan berkenalan dengan beberapa anak fakes yang sangat membantu untuk ini.

Satu respon pertama yang saya ingat, ‘bawa ke dokter aja, Ay.’ Rupanya beliau mengira poin penyakit itu dialami satu orang. Padahal, saya tuliskan per poin karena setiap poin dialami orang yang berbeda.

Kemudian, seorang mahasiswi teman kontrakan yang saya kenal sedang menjalani koas segera menjapri saya dan menjelaskan solusi penanganannya.

“ammah Aya, kalau yang diare dan muntah terus, bawa  minum oralit. Kalau nggak ada, coba beli  pocari sweat. Diminta diminum, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Untuk kasus yang babnya berdarah, tanyakan, darahnya merah segar atau tidak. Jika masih merah segar, berarti ada luka di dinding saluran pembuangannya. Bisa jadi karena mengejan terlalu kuat saat defekasi. Kalau darahnya tidak segar, coba bawa periksa ke dokter. Bisa jadi ada penyakit dalam.’

Saya merasa menjadi manusia beruntung saat itu juga.

‘anaknya saya tanya darahnya gimana warnanya? Dia jawab nggak mau,.. nggak mau, ukhti...’
‘namanya juga bocah, Ay...’

Iya, ya. Saya bukan lagi mengurus anak kampus.

Kasus terakhir, terjadi beberapa hari yang lalu. Saat mata saya gatal, saya ditawari ‘pakai propolis saja, ukhti.. tapi agak perih, sih. Katanya juga menurunkan minus di mata,. Supaya ukhti gak perlu pakai kacamata lagi..’

Saya hanya tersenyum hambar.

Malamnya langsung kukumpulkan saja anak-anak. Memberikan sebuah pencerdasan wawasan. Bahwa kebutuhan obat herbal sejatinya merupakan kebutuhan komplementer. Bukan untuk pengobatan total. Eksistensinya untuk menjaga kesehatan dan bumbu tambahan dalam menjaga kesehatan jasmani. Namun bukan solusi yang cerdas untuk pengobatan dalam atau luka yang parah. Betapa paradigma ini ingin sekali kuubah.

Saya tidak menyesalkan ini. Karena dengan ihwal seperti ini, kapasitas ilmu saya semakin holistik menangkan sinyal tambahan sebagai ilmu hidup.

Bahwa jika seorang memiliki asma, mereka biasanya mengkonsumsi obat khusus dari dokter seperti sarbutamol, dan rutin tiap hari memakai bronkodilator beberapa kali semprot.

Bahwa pada maag kronis, bisa diatasi dengan makan temulawak untuk meningkatkan nafsu makan. Orang maag biasanya diakibatkan jarang makan. Boleh jadi karena malas. Hal ini perlu diminimalisasi dengan banyak makan misal mengisi perut setiap sekian jam sekali dengan biskuit. Dan mengkonsumsi antasid sebelum makan.

Bahwa ada obat yang namanya oralit, setara dengan satu gelas air putih ditambah satu sendok gula dan dua sendok garam untuk mengganti cairan tubuh dari orang yang banyak mengeluarkan cairan tubuh.

Bahwa ada obat namanya diazepam untuk menekan sugesti manusia pada kekhawatiran akan sakit. Lebih tepatnya, obat ini dibutuhkan untuk menangani mereka yang punya kekahawatiran berlebih misal punya penyakit kronis padahal yang sugestinya saja.

Bahwa untuk menekan rasa sakit berlebih, bisa karena dismenor atau maag, bisa dengan asam mefenamat.

Bahwa minum air putih harus lebih sering dirutinkan lagi, untuk menghindari konstipasi yang berpotensi merusak saluran pembuangan.

Saya bersyukur untuk segala wawasan kehidupan ini.


Yogyakarta, 09 Maret 2016.

10 Mar 2016

Kepada Ratih dan Ishfi,

Sekitar jam 2 pagi saya terbangun dari tidur. Senyap senyap mata mencoba meraba sekeliling, dan menjangkau yang bisa terjangkau. Kamar saya gelap gulita saat saya tersadar bahwa malam kemarin saya bergumul dengan kelelahan sampai akhirnya memutuskan untuk tidur ke kamar selepas kajian ustadz Sholih.

Saya memang tinggal di pondok, tapi khusus malam jumat. Dan untuk seterusnya, saya meminta izin kepada ustazah untuk mabit di kontrakan lama saya –yang dibangun bersama dengan anak2 pasca asrama saya yang dulu. Inilah kontrakan yang sudah terkondisikan dengan atmosfer  yang membuat saya bisa kerasan di sini.

Kemudian, bukan hal itu yang ingin kusoroti.

Semua karakter warga kontrakan ini unik-unik. Kalian tidak akan bisa membayangkan gambaran dari pribadi yang akan kukisahkan ini. Namun, bukan dalam catatan ini.

Ada dua orang rekan saya. Mereka sudah satu paket. Deal. Tidak bisa dipisahkan. Nama saya samarkan untuk sebuah privasi. Yang jelas, mereka ini ibarat kembar identik. Ada orang yang dalam hidupnya sering kali berinteraksi. Dan hal itu yang membuat mereka kerap dianggap kembar. Padahal, hal itu hanya merupakan konsekuensi logis akibat dari interaksi yang intens. Mengubah karakter mereka menjadi dua pribadi yang saling melengkapi.

Jangan bayangkan pribadi itu saling akur. Kadang akur, ya memang. Tapi kadang juga bertengkar untuk sebuah hal di luar logika saya pribadi. Membuat saya tersenyum saja dalam hati. Lebih sering saya abaikan, karena pertengkarannya agak konyol. Ya sudahlah. Itulah keunikan dalam diri mereka.

Mereka dulu satu kamar sewaktu kami asrama. Dipertemukan dalam ruang seluas 4x4 meter di Jabal Tsur 2. Sewaktu di asrama dulu, saya jarang berinteraksi dengan warga JT2. Saya tinggal di Jabal Nur (JN) yang lokasinya sudah berbeda gedung, meski satu asrama. Hal itulah yang membuat saya kurang akrab mengenal mereka. Dan karena sebuah kontrakan ini, saya jadi semakin mengenal mereka.

Yang satu adalah pejuang wisuda bulan Mei 2016. Beliau mengaku tidak suka terikat perjanjian atau hitam di atas putih. Biarkan beliau bebas memilih kemana intuisi mengarah. Meski sejatinya masuk jurusan pendidikan, beliau tidak suka ngeles dan lebih memilih pekerjaan yang mengembangkan kreatifitas dan seninya. Sebuah pekerjaan yang mengekspansikan pengetahuannya pada seluk beluk kota Jogjakarta.  Sebuah pekerjaan yang anti mainstream.

Yang satu lain cerita lagi. Beliau kelihatannya suka imajinasi dan kaya akan kreatifitas. Dengan usia beliau yang dituntut untuk segera wisuda, beliau bisa menyamankan diri dari tekanan berbagai pihak yang mencoba mendorongnya untuk berjuang bersama dalam barisan pejuang skripsi. Luar biasa. Beliau meninggikan eksistensi kebebasannya dalam hidup terlepas dari berbagai tuntutan eksternal. Sebuah pribadi yang anti mainstream.

Satu kesamaan yang membuat mereka semakin akrab di mata saya. Mereka sedang membangun sebuah usaha. Si pejuang wisuda sedang sibuk mengejar dosen untuk bimbingan. Si pejuang kebebasan sedang sibuk mengajar, ngeles. Dan di kala semua kesibukan itu, mereka berdua tengah membangun sebuah dinasti sendiri. Tempat dimensi mereka bisa bebas berekspresi dalam gulungan-gulungan kertas –yang boleh saja bagi orang tidak berarti. Namun mereka menyulapnya menjadi sumber penghasilan rezeki.

Mereka menyebutnya “paper quilling”.

Saya sedang tidak berpromosi, hanya melilhat refleksi dari kegigihan mereka. Karena di pagi buta saat saya terbangun, saya dapati mereka masih sibuk mempersiapkan untuk hari ini. Tepat jam 10 mereka harus mendirikan stand ke UMY, untuk mempresentasikan mimpi mereka kepada publik. Dunia harus tahu bahwa itu merupakan simbol dari perjuangan dan persahabatan mereka!
Semoga usaha mereka terbalas setimpal dengan perjuangannya.


*semua nama di sini disamarkan, termasuk nama ustadznya.

Lab Fismatel Dept Fisika UGM, 11 Maret 2016

9 Mar 2016

Bobot 'Wakil Ketua'

Rasa itu bernama ‘kekeluargaan’.

Sekarang, giliranku tersenyum sambil memutar otak. Hal baru yang mencoba kubiasakan saat ini. Senantiasa tersenyum sekalipun setumpuk beban dengan segunung tugas dan tanggung jawab menyerang dalam satu waktu. Ini bukan masalah sekompleks menyelesaikan problematika umat. Ini hanya perkara mengayomi 16 orang yang membawahi 236 staff dan 106 proker. Itu menjadi jargon yang selalu terngiang di akhir 3 bulan kepengurusan.

Iri rasanya di kala orang lain sudah berpikir interdisipliner, holistik, ataupun act globally. Sementara aku tetap berada stagnan dalam posisi. Orang yang paling apatis ini dipaksa bertransformasi menjadi makhluk paling peduli dalam satu kepala membawahi 236 staff. Oh ya, sudah beranak 120 orang. Ada potensi yang harus digali pula.

Ada sebuah alasan yang mendasariku berpikir ulang untuk mengambil langkah mengejar idealitas. Memilih menjadi manusia yang hidup dalam realita sambil menyusun sebuah visi yang direalisasikan dalam sepaket buku kecil berisikan targetan-targetan. Sebuah pagar yang membatasi dari tindakan bodoh berupa : pengkhianatan mimpi hidup.

Sebelum membahas substansi pokok kondisi lembaga ini, perlu digarisbawahi kondisi rekan seperjuangan. Mereka adalah pejuang tangguh. Karenanya kami menjuluki diri kami sendiri sebagai “pejuang harian.” Kami berjuang setiap harinya. Berjuang akan tanggung jawab akademis. Berjuang akan tuntutan organisasi. Serta mengingat akan orang tua yang menggantungkan harapan begitu tinggi untuk kebermanfaatan pribadi. Kami berjuang dalam lingkungan kami masing-masing.

Ada posisi dimana harus memimpin. Dialah sosok pemimpin. Saya tidak meragukan jiwa kepemimpinan beliau dengan begitu sistematis dan teratur. Penuh strategi dan matang.

Izinkan kuceritakan satu hal, kawan. Ini bukan sekedar retorika.

Ada sebuah dinamika yang unik dalam setahun kepengurusan. Dan sepanjang itulah, kami yang memahaminya perlu mengenal masa dimana jalinan keakraban itu bisa mulai dirangkai, atau masa dalam menata hati dari perasaan egois untuk menarik diri dari lingkungan dan mengabaikan amanah. Atau masa saat kami harus menutup kisah dengan tangisan bercampur kelegaan luar biasa? Semuanya bercampur baur menjadi satu.

Memang pada akhirnya, dibutuhkan orang yang tetap stagnan. Dalam arti begini. Beliau menjadi sosok yang selalu ada. Senantiasa menjadi penyemangat, pendorong moral serta pemantik intuisi. Tidak perlu dituntut untuk bisa menjadi problem solver. Namun, dia sosok yang selalu bisa hadir saat kejenuhan itu melanda. Dialah yang memberikan perhatian lebih, seolah semua diistimewakan tanpa mereka saling tahu bahwa semuanya diperlakukan istimewa.

Dan dalam posisi ini, aku melihat refleksi dari bagaimana senior terdahulu bersikap. Dan mencoba belajar.

Mari berpikir. Ketika mengambil jalan untuk mengasah kompetensi dan terbang melangit sebagai sosok prestatif dengan segala inspirasi yang moga-moga terciprat, para rekan pun akan sulit untuk menyapa. Apalagi bergurau dan bercanda. Lain hal saat memposisikan diri sejajar dengan mereka. Sebagaimana orang yang memiliki waktu kosong dalam hidupnya untuk bisa nongkrong dan bercakap sambil mengomentari karakter orang.

Sedikit-sedikit aku mulai memahami bahwa konsep kekeluargaan membutuhkan proses yang lama. Waktu. Uang. Tenaga. Menguras otak. Emosi. Dan ekspresi. Itu bukanlah seperti PKM yang bisa dikerjakan seminggu penuh hingga kau absen jam malam asrama. Bukan pula seperti engkau menggarap skripsi yang menghabiskan puluhan gelas kopi dalam semalam suntuk selama satu tahun penuh. Atau bahkan paper yang bisa kau kerjakan sambil mendiskusikan tema bersama dosen dan rekan penelitian.

Itu membutuhkan kesediaan diri untuk menjadi sosok yang sederhana. Yang mau menunda sebagian dari targetan hidupmu untuk bisa duduk di sekre. Kadang kala berusaha memproduktifkan waktu. Lalu saat itu, kau lihat suasana keramaian satu-dua orang berdatangan. Ada yang main catur. Ada yang berdiskusi. Ada yang mengerjakan laprak. Ada yang ngenet. Sampai kemudian ada satu-dua orang datang menghampirimu. Mereka berkeluh kesah. Menyampaikan rasa dan meminta saran. Atau sekedar bercerita.

Akan banyak lagi warna yang ada. Dan aku mulai menikmatinya. Semoga bisa bertahan untuk 3 bulan berikutnya.


Yogyakarta, 24 September 2015

Namanya Erma

Namanya Erma. Putri Ermawati.

Adinda hanya satu dari sekian orang yang senantiasa berkorban. Berkorban untuk mengingatkan kepada mereka yang fana bahwa akhir itu pasti ada. Bahwa akan ada sebuah hari akhir dari rangkaian kisahmu di dunia nyata. Itulah alam yang kekal abadi. Yang katanya, hidup di dunia hanya dua setengah menit dibandingkan dengan pembalasan di hari kekal nanti.

Saya belum pernah bertemu dengannya. Jangankan bertemu. Mengenal orangnya saja belum pernah. Kami berbeda lembaga. Beliau berkontribusi di da’wah, konon katanya. Saya bekerja di ranah kelompok studi.

Beberapa minggu yang lalu tersiar kabar. Broadcast dari sesama pejuang tangguh sebuah grup sosial media. Menyiarkan kabar tentang kondisi beliau yang sedang diopname. Sebuah penyakit yang melumpuhkan seluruh fungsi tubuh. Adalah virus yang menyerang otak. Belum teridentifikasi.

Betapa hina, kali pertama saya membaca, saya mengabaikan. Semakin lama, berita tersiar semakin gencar. Saking seringnya, saya mencoba tanya pada salah seorang adik kelas. Begitu rupanya. Sampai satu hari, mereka membuat sebuah jadwal jaga Erma. Luar biasa. Saya bertanya, ‘separah apa kah kondisnya?’. Saat tersiap broadcast donasi pun saya hanya membaca sekenanya. Lelaki perempuan, semuanya bergerak.

Sampai satu saat, saya ikut menjaga beliau. Tepat selasa pagi. Saya menjapri salah seorang penanggung jawab yang saya tahu, betapa bertanggung jawabnya beliau. Saya berniat memberikan donasi ketika memang tahu betul kondisinya. Betapa luar biasa bodohnya saya.
Saya berangkat jam 7 saat baru membuka handphone. Betapa ramai grup. Membicarakan turut berduka cita. Saat itu, saya tahu saya sudah terlambat. 

Beliau telah tiada. Pada jam 05.00 shubuh, tersiar kabarnya.

Sejenak terhenti sesaat. Awalnya saya pikir adalah hal biasa. Begitu banyak informasi berlalu lalang. Itu hanya satu dari sekian banyak kejadian di sekitar saya. Namun, rasanya berbeda. Karena saat itu, kematian terasa begitu dekat dengan saya. Hanya selisih 3 jam sebelum saya bertatap muka melihatnya, dan beliau sudah tiada.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un... allohummaghfirlaha warhamha wa’afihaa wa’fu’anha,

Mendadak semua orang menyesal. Belum bisa memberikan yang terbaik. Dan saya menyesal, belum memberikan apapun. Namun beliau begitu besar memberikan pengertian pada kami. Pemahaman. Bahwa tiga jam saja langkah melihat sebuah kematian. Bahwa itu adalah sebuah keniscayaan.

Ada satu hal lagi yang paling penting. Kesadaran saya bahwa sebuah rasa ketulusan untuk menolong sesama begitu penting dibangun. Bahwa rasa kepekaan saya mulai tergerus, dan nurani saya mulai mengeras. Bahwa mata saya mulai buta dan telinga saya mulai tuli karena kebodohan. Bahwa saya semakin meninggikan ego dan merenggangkan tali silaturrahmi.

Luar biasa, bodoh sekali.  

Semoga beliau ditempatkan di tempat terbaik di sisiNya. Amin Ya Rabb,

Yogyakarta, 08 Maret 2016


Islam