29 Jan 2015

Cerpen : Ayah dan Anak Perempuannya Bila Sedang Berdua.
"Ayah, laki-laki yang baik menurut Ayah itu yang bagaimana?", tanya anak perempuannya, puteri semata wayangnya. Sambil menggandeng tangan puterinya yang tak lagi kecil itu, sang Ayah berhenti.

"Laki-laki yang layak dipilih mungkin adalah yang selalu khawatir tidak layak jadi pilihan", sang Ayah menjawab sambil matanya melihat ke langit luas.

"Mungkin?", selidik puterinya.

"Iya mungkin, karena itu hanya salah satu yang Ayah tahu. Selebihnya ayah tidak tahu, karena Ayah tidak pernah menjadi selain itu?", sang Ayah menatap wajah puterinya.

"Menjadi selain itu? Apa Ayah dulu merasa tidak layak?",tanya puterinya sambil mengajak ayahnya duduk di bangku taman.

"Iya, waktu ibumu memilih ayah. Ayah hampir tidak percaya bahwa akan ada perempuan di dunia ini yang bisa menerima Ayah kala itu", sang Ayah menjawab parau. Sambil mengeluarkan foto dalam dompetnya. Foto ia bersama sang Istri.

Puterinya merangkul bahu ayahnya. Ikut rindu pada ibunya yang telah lebih dulu tiada.
"Kalau perempuan yang baik itu yang gimana yah?", tanya anaknya untuk mengalihkan kesedihan.
"Perempuan yang baik bagi ayah adalah perempuan yang sulit dimengerti karena penjagaan dirinya yang bagitu rapi, hingga tak ada celah buat orang lain mengetahuinya", kata Ayahnya.

"Apa seperti Ibu?", canda puterinya.

"Iya kayak ibumu, susah banget dimengerti dulu ketika Ayah mendekatinya, haha. Kamu juga susah dimengerti kayaknya sama laki-laki diluar sana, mirip ibumu", jawab ayahnya.

"Hahaha kan yang bisa ngerti aku cuma Ayah", puterinya memeluk Ayahnya dari samping.

Rumah, 26 Januari 2015 | (c)kurniawangunadi

dikutip dari http://kurniawangunadi.tumblr.com/tagged/cerpen

Dia yang Namanya Tidak Disebut



di sini ada sejuta keheningan tempat Sang Maha Pencipta memberi ruang untuk kita. Ada sebuah dialektika dalam setiap prosa kita mengadu nasib pada Sang Kuasa. Melangkahkan kaki, mantap pada sebuah hidup seolah tanpa ujung saja, namun rindu pesona antuisme yang mampu -kapan saja membuncah. Menjadi saksi keliaran mimpi kita yang agresif. Penuh tantangan! Eksentris! Penuh sensai dan emosional!

Adapun,

akan ada suatu masa dimana mimpimu samar-samar meredup. di sana, kau akan sadari betapa berharganya dirimu dan segala semangatmu kala itu. di sana, akan kau tanggalkan berjuta doa bagi dirimu untuk mampu bangkit kembali. Kau sudah lemah. sudah tua. tak berdaya.

Adapun,

ini dunia maya, bukan realita. dia datang, membawa sepaket kebahagiaan. dialah yang akan menarikmu dari kegelapan. mengulurkan tangan kala kau sedih. dia yang mengingatkanmu bahwa betapa berartinya dirimu. Dia itu, saya tidak tahu.

rasanya, embun pagi begitu sejuk. bukan begitu, kawan?

6 Jan 2015

23 Nov 2014

16 Nov 2014

#Keluarga Ketiga

Saya selalu percaya bahwa hakikatnya, manusia memiliki hak2 untuk bisa hidup sendiri. Membangun paradigma sendiri, visi, dan ada kalanya kepentingan bersama itu mengusik waktu luang kita untuk bisa membangun segala mimpi dan cita cita.

Di bangku kuliah ini mengajarkan saya banyak hal. Pada hal yang terlalu banyak..

Untuk membuka mata melihat kehidupan. Untuk membuka rasa dan berbagi kisah. Untuk membuka wawasan bahwa kita adalah makhluk sosial. Pelabuhan akhir kita adalah keluarga. Pada keluarga tempat kita menghela nafas, menyenderkan pundak, berbagi keluh kesah, canda tawa. Pada keluarga keluarga kecil yang perlahan bisa terbuka. Pada keluarga baru yang perlahan bisa saling mengakrabi. Yang mulai merekatkan kisah dan cerita antar kita dalam sebuah ikatan satu atap.

Keluarga pertama saya adalah orang tua. Ya, keluarga asli. mereka tempat saya harus terus membenahi diri menjadi pribadi yang bisa membanggakan mereka.

Keluarga kedua saya adalah asrama. Asrama tempat saya terbina dan belajar membina. tempat saya belajar cara menjadi seorang yang saling menghargai, mencintai, berbagi. Dan yang terpenting adalah memuliakan mimpi menjadi seorang ibunda para ulama. Tempat saya menanggalkan mimpi menjadi seorang hafizah. Indah sekali, bukan?

Keluarga ketiga ini sederhana, namun bermakna. Ini bukan sekadar lembaga formalitas tempat sebuah alur birokrasi riset dan edukasi berlalu. Lembaga ini berpayungkan kekeluargaan. Bercirikan nuansa keakraban.

 Namanya Lingkar Studi Sains. Saya mengenalnya di awal kepengurusan maba. Awalnya pun, bergabung dalam lingkaran seperti ini tanpa banyak pikiran. sebatas intuisi seorang maba yang mencoba membuka wawasan, memandang dunia dalam perspektif yang luas.

Ini adalah tempat kami berkumpul, melingkar, membuka wacana, berdiskusi, bertukar pikiran, berbagi rasa. Atap kami sama. Atap yang rindang, yang amat meneduhkan. Mereka berasal dari beragam jenis. Ada yang inspiratif, ada yang prestatif, totalitas, sampai yang galau, rempong, atau konyol. Itu yang namanya suasana kekeluargaan, ya? Saling berbagi sifat dan sikap.

Saya rindu masa itu. pertama kali diperkenalkan dalam forum kecil beranggotakan 16 orang. Sore hari di lobi rektorat. Saat itu, saya menyebrangi zebra cross jalan, berlari kecil menyadari keterlambatan saya. Pertama datang bersama keluarga itu, cemas was was. mencoba menjaga sikap. Mereka akan menjadi rekan kerja saya selama satu periode penuh. Untuk sebuah cerita yang akan dibukukan dalam kisah baru dalam  notulensi kehidupan saya. Mengamati satu per satu pada wajah-wajah baru. Beberapa ada yang sudah dikenal, beberapa lainnya agak asing. Beberapa wajah tersenyum sumringah, ada juga yang serius khidmat mendengarkan. Saya bersikap datar, tapi hati membuncah senang.

Sang pemimpin bertugas sebagai protokol yang memimpin kami dalam satu dekade kepengurusan. Pada semangat dan totalitas beliau, pada pembelajaran karakter dari refleksi seorang ketua yang sabar dan totalitas. pada sebuah pengorbanan dan pengabdian. Pun dengan teman2 lainnya. pada kontribusi tiada henti. Pada sebuah cerita hangat di tiap proker yang kami lalui.



3 bulan terakhir menjadi agenda terpadat kami. Pada sebuah rangkaian program kerja yang memadat di akhir kepengurusan. Sedikti banyak, saya justru lebih bersyukur akan itu. Karena dari kepadatan itu, memaksa kami untuk lebih intens untuk bertemu. Lebih akrab untuk bisa mengakrabi rekan yang lama tidak disapa. Atau mempererat persaudaraan pada mereka, rekan seperjuangan. Berbagai agenda yang kami lalui semakin berwarna. Seperti ranger atau pelangi, yang penuh warna. Di akhir periode ini, kami semakin 

Pertengahan desember ini adalah sebuah momentum besar, ya? tempat seluruh cerita itu seharusnya berakhir. Sebuah ikatan kekeluargaan memang tidak selayaknya berakhir begitu saja. Namun, sebuah formalitas memaksa kami menghentikan seluruh rangkaian pertemuan dalam agenda program kerja. Sebuah alur kaderisasi memaksa kita untuk melengserkan sebuah jabatan dan mengamanahkannya pada mereka yang bertanggung jawab. Apakah itu akhir sebuah kisah kekeluargaan kita? Semoga tidak, kawan. Saya sedang sendu, memikirkan akhir cerita kita.


Ada satu hal yang menjadi masalah bagi saya. Sulitnya mengungkapkan perasaan pribadi. Jika rasa ini bisa ditumpahkan dalam luapan emosional kerinduan yang begitu membuncah, ingin rasanya bisa berbagi dengan yang lainnya. Hingga mereka bisa tahu kecintaan yang bercampur dengan rasa duka. Yang saya yakini, semua PH PI pun akan merasakan hal yang sama pada setiap periode kami menceritakan kisah kami. Dalam sebuah buku kecil. di Keluarga kecil bernama LSiS ini.

Bukankah, mimpi kita terlalu indah untuk bisa diabaikan? Atau ingatkan, kawan? Pada semangat kontribusi kita yang terlalu sayang untuk dihentikan?

Semoga doa dan perjuangan kami selama ini untuk sebuah keluarga kecil bisa terbang mengangkasa, hingga semesta mengamininya.
Semoga kontribusi kami bisa membumi, menerbangka asa asa, seperti bunga dandellion yang menyebar, menebarkan inspirasi untuk sesama.
Semoga ikatan kami tak lekang oleh waktu.
Sungguh.
Untuk sebuah keluarga kecil kami,...
Keluarga LSiS.

#salam KPK!

17 Okt 2014

/Dua Ibu/




Ada dua konotasi saat kita menyebutkan ibu.

Satu, adalah orang yang melahirkan dan memberimu kesempatan untuk hidup secara layak. Dua, adalah mereka yang membekalimu seperangkat properti kehidupan tempatmu bisa bercermin tentang akhlak.

Aku mendapatkan kedua hal tersebut dari ibu pertama.

Beliau adalah semesta kehidupan tempatku berlabuh di pangkuannya. Pada kehidupan dinamis kota metropolis yang serba hedon dan skeptis, Beliau adalah matahari bagiku. Aku ingat betul belaiannya yang dengan lembut menyisir rambutku. Senyum lelahnya setiap kali pulang mengajar dari kampus. Aku terkenang masa dimana beliau berdiri di podium mempresentasikan penelitian beliau. Aku berada di barisan terdepan, duduk tersenyum membesarkan jiwanya. Aku hafal betul tartil Beliau senantiasa mengiringi tidur malamku. Atau ceramah Beliau di pagi hari menjelang mengisi kajian di majelis ilmu. Aku duduk menyimak dengan baik, seolah tahu –meski hanya memberikan anggukan atau senyuman.

Sungguh. Beliau adalah matahari bagiku.

Tidak pernah terpikir bagiku untuk mencitrakan sosok Ibu sekaliber Beliau. Di zaman seperti ini, terlahir dari keluarga seperti ini saja sudah merupakan karunia luar biasa. Karenanya, belum pernah terpikir sedikitpun bagiku untuk mencari sosok ‘ibu’ lainnya.

Ini hanya segaris perspektif dari santri yang belum mumpuni, namun mulai terbuka hatinya untuk ta’dzhim pada guru.



Bu nyai adalah sosok yang qowy. Beliau pendidik dari kalangan terdidik tradisionalis. Dari gaya pengajarannya. Orasinya mengisi kelas. Totalitasnya dalam setiap kegiatan. Beliau pernah pulang ke pondok jam 2 pagi mengantar rombongan tamu dan bangun tidur jam 3 untuk membangunkan shalat tahajjud. Perfeksionisnya hingga menyambut majelis kajian hingga memperhatikan standar kerapihan susunan sandal hingga motor. Mengajarkan pada kami cara melipat sajadah, atau membersihkan kompor. Untuk bisa senantiasa tersenyum dan ikhlas. Menginternalisasi rasa kesyukuran dalam setiap peristiwa kehidupan.

Beliau adalah  pengasuh asrama tempatku bermukim sekarang. Darush Shalihat.


Ada banyak cerita di sini. Ini bukan tentang euforia hidup, tapi pada proses menuju sholihah. Tentang bagaimana sekelompok mahasiswa menjadi generasi terdidik yang berakhlak. Kurikulum hidup kami pun membahas pada pusara kehidupan. Bagaimana etika pada orang yang lebih tua, adab menuntut ilmu, fiqh kehidupan, hingga kode etik menjadi ibunda para ulama. Terlalu banyak cerita untuk dikisahkan di sini.

Ya. Terlalu banyak, ya.

Barangkali, cerita ini hanya segaris kisah hidupku yang bersinggungan dengan Beliau. Pada caranya berbicara, pada senyum sumringahnya, pada perkataannya yang menghujam siapapun untuk segera berbenah diri. Beliau adalah sosok yang akan menjadikan seseorang merasa istimewa di matanya. Begitu istimewa sehingga aku mencoba berproses untuk lebih menta'dzhimkan diri padanya.

14 Sep 2014

Cerita Masa Depan

 

Senandung lagu sinden terdengar, meliuk mengalun indah mengiringi proses pelaminan. Pasangan muda itu duduk berdua dalam kursi pelaminan yang disoroti banyak mata dalam penjuru pandangan. Memulai prosesi syahdu dalam suasana khidmat adat Jawa.
Mereka duduk seragam. Berbalut batik jawa berwarna merah bermotifkan kembang. Sang pria menganggalkan keris pada sarung yang diselempangkan pada sepanjang lingkar pinggang. Memakai tuksedo hitam licin ala Jawa. Sang pengantin wanita lebih heboh lagi. Pipinya tampak merona dibalut make up tebal dan rambutnya dihisasi bunga melati menggantung seperti kuncir rambut, dipoles dengan konde besar. Menata diri seelok mungkin di depan  suami pilihan.
Sambil beranjak bersamaan, beriringan melangkah menuju wali mereka. Membungkukkan diri, ta’dzhim di depan sesepuh. Sesekali memejamkan matanya, sang perempuan merunduk khidmat. Dibisikilah mereka wasiat sebelum membangun sebuah peradaban baru. Wasiat sesepuh untuk pasangan  yang masih hijau itu.
Lelaki tua itu adalah ayah dari sang istri. Beliau duduk bersahaja. Tubuhnya tegak dan tegang, berlama-lama menatap nanar sosok ayu berbalut kebaya merah yang duduk bersimpuh di hadapannya. Tangan lembutnya memegang sang ayah. Sementara sang ayah mengusap-usap kepala anaknya, seolah itu kali terakhir ia masih diberi kesempatan memiliki gadis kecil tempatnya menaruh semesta dan kehidupan.
Betapa mudahnya seseorang yang kau kenal bisa lepas dari hidupmu setelah melalui ikatan suci. Meninggalkanmu dan memori tentang masa kecilnya denganmu. Saat kau sedih, marah, tertawa. Tawamu adalah kebahagiaannya. Tangismu adalah kesedihannya. Hidupmu adalah jiwanya.Tentulah ada secuil pikirannya terbersit penyesalan melepasmu untuk diberikan kepada seseorang yang sudah kau pilih. Ia yang telah merebutmu. Membawamu pergi setelah lelah kau didik hingga dewasa.
Tidak. Atau barangkali tidak. Kulihat seksama. Air matanya memang menggenang, matanya memang memerah, atau isaknya memang terdengar samar. Tapi wajahnya cerah, tersenyum. Itu adalah air mata kebahagiaan, kawan. Itu adalah ungkapan dari perasaan lega dan keikhlasan menitipkanmu pada orang yang engkau yakini sebagai pilihan terbaikmu. Begitu lega rasanya sampai air mata itu mati-matian ia tahan dan senyum itu mati-matian ia kiprahkan. Seolah mengatakan, “berbahagialah sana... Kebahagiaanku ada dalam setiap kebahagiaanmu,...”

Tanpa sadar terbawa suasana. Lama aku memandang mereka lekat-lekat. Bukan antara sang Kekasih baru, tapi pada putri dan rajanya. pada dialektika mereka dan menerka memori pada linangan air mata yag tertuang.
Barangkali, akan tiba masanya kau  adalah dia, dan sosok tegar itu tak lain adalah orang yang kau kan kenal betul selalu tampak heroik dalam perspektifmu. Barangkali, kau akan melihatnya terharu biru.
‘Kapan’ itu, ada masanya. ‘Siapa’ itu, biarlah Paduka yang mengurus. Paduka adalah orang yang sangat bijaksana untuk menentukan nasib hambaNya.
Tapi aku tahu satu hal. Jika saat itu tiba, barangkali aku tak akan mampu melihat sosok di hadapanku untuk kali apapun itu.

11 Sep 2014




it needs a tons time for me just to remind that,

"ive my own story. my own way. let they are be themselves. let myself find my true colour. let each other shine. let my light be the one enlighten them one day."

Jangan Percaya Fisika




Ilmu fisika itu berangkat dari pemahaman segala pola yang ada di alam semesta. Pada keyakinan bahwa segala hal yang terjadi dapat direpresentasikan secara matematis. Dapat dikaji. Pokok kajiannya pun berangkat dari hal sederhana. Mengamati lingkungan sekitar. Sehingga pada dasarnya, objek pembelajarannya sama. Realitasnya sama. Yang berbeda dari kurun waktu ke waktu adalah bagaimana manusia memberikan sebuah konsep pemikiran yang berbeda.

Pada permulaannya, dogma masyarakat berada dalam fase mitologi. Munculnya berbagai kisah dalam mitologi Yunani memiliki sebuah alasan kenapa mitos tersebut kemudian muncul di tengah masyarakat. Sehingga kondisi masyarakatnya mencoba membuat sebuah alasan logis dalam terciptanya fenomena tersebut. Parameter logisnya demikian.

Tokoh Aristoteles muncul membangun lapangan logika. Pasca peradaban filusuf aristoteles, tokoh fisikawan lainnya muncul, memadukan filsafat dalam fisika. Membawa manusia pada serangkaian kerangka berpikir yang logis.

Konsep fisis pada akhirnya disajikan dalam dunia nyata. Hingga kemudian berkembang terinternalisasi pada kehidupan sehari-hari. Kenapa saya katakan  terinternalisasi?

Jikadiajukan sebuah pertanyaan, “mengapa batu lebih dulu jatuh ke bawah dibandingkan dengan burung?”. Wajar kemudian, jika orang dahulu akan menjawab bahwa kecenderungan batu pada unsur bumi lebih besar dibandingkan dengan burung yang punya kecenderungan unsur udara. Sebaliknya, masyarakat sekarang akan lebih memilih jawaban “karena ada gaya gravitasi”

Sederhananya begini. Untuk apa saya menjelaskan panjang lebar sejarah dan fase dalam perkembangan logika manusia dalam membentuk sebuah pola pikir.

Sebagaimana ilmu fisika mengulas berbagai fenomena –mikro hingga makroskopis pada berbagai pola yang terjadi di alam semesta. Tidak ada yang tidak bisa dijelaskan dengan fisika, jika kita perlu berkata naïf. Segala hal mampu dijelaskan dengan fisika.

Jika sekarang kita berani mengatakan barang jatuh karena unsur bumi yang lebih condong ketimbang unsur udara, kita lebih memilih alasan bahwa karenaadanya gaya gravitasi, dan itu masuk dalam nalar kita. Kita mampu menjelaskan fenomenapada pesawat terbang karena beda kecepatan dan tekanan antara penambang atas dan penampang bawah pada sayap pesawat terbang, dan itu masuk dalam nalar kita.

Sampai pada tataran kita menyelami lebih lama pada dunia fisika, boleh jadi kemudian kita berkesimpulan bahwa tidak ada yang tak mampu dijelaskan oleh fisika, termasuk kebenaran yang hakiki. Hal ini pula yang kemudian dilansir bahwa saintis kemudian lebih memilih atheis ketimbang beragama. Karena keyakinan mereka bahwa segala hal mampu dijeaskan dengan ilmu pengetahuan.

Jika kita disuguhkan fakta, mana yang akan lebih kita percayai. Apakah karena suatu kekuatan mistis yang menyebabkan benda jatuh ke bawah, ataukah karena adanya percepatan gravitasi? Bagaimana planet yang sedemikian besarnya mampu bergerak secara teratur mengitar matahari dalam sistem tata surya? Akibat dari gravitasi yang menyebabkan kelengkungan ruang-waktu dalam alam semesta, atau karena kehendak Tuhan yang menciptakannya sedemikian rupa sehingga mereka bergerak dalam harmonisasi dan keteraturan yang luar biasa indah?

Mereka lebih memilih berseru bahwa segala hal mampu dijelaskan dengan ilmu pengetahuan! Tak perlu campur tangan Tuhan dalam proses penciptaan alam semesta.

Analoginya begini.
Dalam fisika, terdapat postulat. Atau dalam bahasa matematikanya disebut conjecture. Suatu ketentuan yang jika ketentuan itu berlaku, maka berjalanlah hukum tersebut. Semisal pada relativitas umum, postulatnya adalah bahwa cahaya dengan kecepatan sebesar 3x10^8 m/s adalah kecepatan tercepat. Jika tidak berlaku, seluruh rangkaian pembahasaan dalam postulat berikutnya tidak akan berlaku. Begitu cara kerjanya.

Sama dengan konsep dalam keTuhanan. Bahwa dalam beragama, terdapat rukun Iman. Bahwa selayaknya kita mengimani keberadaan Allah sebagai Tuhan, nabi Muhammad sebagai Rasul utusan Allah.  Jika mengimaninya, Anda adalah seorang muslim.

Na’udzubillahi min dzalik.
Saya teringat dua ayat yang kemudian menjadi sangat esensial bagi setiap nawaytu saya dalam beribadah di jalan menuntut ilmu ini. Bahwa sekehendaknya, dalampergiliran siang dan malam, terdapat tanda-tanda kekuasaanNya bagi orang-orang yang berakal. Ini postulat kita. Termaktub dalam al-Quranul karim. Bahwa ketika Allah berkata inni jaa’ilun fil ardhi khalifah (menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi), kita diberikan sepaket amanah. Amanah akal untuk berpikir, jasmani untuk memimpin, dan ruhani untuk berdzikir (tafakkur dan dzikr [al-imran : 91]). Menjadikan setiap  perilaku alam semesta sebagai bahan observasi untuk dikaji dan difikirkan. Tafakkur.

Pertama.
Sekonyong-konyongnya kita berkata, “serangkaian proses belajar yang menguras usaha dan waktu. Berujung pada kesia-siaan belaka ika kemudian kita tetap berserah diri pada sesuatu yang Ghaib?”

Sama seperti rezeki berupa kesehatan.Setiap manusia sudah diatur hidup-matinya oleh Sang Pencipta. Sudah tertulis pula di lauhul mahfudz. Adalah kewajiban bagi kita menjaga kesehatan, baik jasmani maupun ruhani. Terus untuk apa, toh hidup mati tetap di tangan Tuhan?

Ini masalah usaha. mereka yang memang mau menjalani prosesnya, dalam bahasa Arabnya disebut ikhtiar. Nilai ikhtiarnya menjadi amalan tersindiri daripada orang yang enggan menjaga kesehatan sebagai nikmat. Berkah dari Tuhan. Karena saat tidak ada seorang pun yang beribadah pada Allah pun, Kanjengan tidak akan rugi! Jika suatu kaum kafir terhadap Allah, apakah kemudian akan ada kerugian pada diri Tuhan? Tidak! Yang Kuasa tidak akan rugi sedikitpun.

Kedua.
Bahwa hakikat manusia yang sesungguhnya adalah bertumpu pada suatu Dzat. Maka kesombongan manusia dalam mengatakan bahwa taka da segala sesuatu yang tak bisa dijelaskan dalam fisika, maka kembali pada hal esensial seorang manusia. Berlindung, bersandar. Kepada siapa? Mampukah sains memberikan jawabannya?

Pencapaian tertinggi dari akal dan kebenaran terdalam dari hati adalah pada Sesuatu Yang Mengatur. 

25 Agu 2014

Atonement

Atonement

Especially to whom i ignored.

First of all, I do apologize. Despite this rhetoric posting wont represent my deepest apologize.

Let me make some kinda intro. As it begins my elaboration from my friends statement. Once, she told me, that ive a numbers of talent and show me why. But none of them i focus to be, she told me so. At that moment i nodded and agree. But at the same time i didnt evaluate it.

Indeed, several times I often inspired by a great figures with an awesome achievement. Herwandhini, Iman Usman, Mariana Ulfa. They are fabulous person, arent they? Having such a tons of achievement, makes some people wonder how could they manage their own time while other focus on a single thing they’re tends to be? I saw and highly appreciate on them, so then i think that i can be like them! Surely it would show my own capacity and learn about time management.

Briefly, i intend to follow their footsteps. Rather be the one i should be, but i inclined to wonder be the one i intend to be, which it means i intend to be like them. Ridiculous thought. Which recently i notice thats the reason why i didnt like the event such as socialization of mapres or video self motivation, how to manage ur time. It was intended to motivate people. But at this point, I do not need to be motivated, but rather, resist the motivation for the sake of my own goodness.

I have join many organizations, actively participated in many competitions. I passionly intend to grab whole thing, endless nothing except a failure. Lingkar Studi Sains, Gadjah Mada Mengajar, Forum Lingkar Pena, Gama Cendekia. At the first Im so idealistic person, because my own intuition to give a contribution on every kinda aspect. I love the realm of authorship, especially social contributions, which continue my story in high school when i actively build social civil organization.

It's just a story about people who cannot manage their time and having such a consistent thinking. And at the end, I know that im the lowest. At least, one thing left,is  LSiS. At least I'm still considered to be the member of one organization.

Which i, occasionally making some kinda sin. By making my own goodness as my priority and leave their goodness to be nothing as an accessories.

At the exact date of 24th august 2014, I ignored the important agenda of LSiS (syawalan), by did not participate and nor making an excuses. I have a high priority in my own need, which surely i know its much more important, bu still, i didnt take a permission.

For the sins ive made, i deeply apologize. By any change –and at any rate, still i know its useless rather say it personally.

Whats exactly happen yesterday is by my own intuition. Several days before, i got an announcement of the finalist of some kinda competition. Social business competition helds by nsbc. We got a chance to be a finalist in such a great change. But right after the announcement, me and 2 of my friends which im sure they’re such a bussy person with tons of appointment compare to me, weve met and discuss this one. Which im not sure how could i spend much more time compare to my prediction before. Discussed our new concept, having a report and took a documentation in Bantul since about 8 o’clock right after adzan maghrib, building a concept to make a teaser which committee of that competition give us deadline up until 27th of august for the finalist as the requirement. In fact for the next 3 days we’ll have such a crowded business. My friends with her committe, others contribute in her place (KKN), and myself with my academic responsibility.

Im afraid if then by the time goes by, my intention changes day by day not to give such a contribution value, but in a useless action to win. Its such a useless worry since other able to handle it in such a good manner to express, or thing they act. Forgive me if i say a rude thing.

So, let me evaluate this one. This time I want to stop the old ideals embedded since i was newbie. I've been ignoring LSIs, disrupt my own academic activities, and betrayed my own willingness to be a writer.

How could i ask to God to be the better one whom always consistent and to not ignoring other by the sake of my own goodness only? Amin.

With a highly respect to LSiS itself. I do apologize for my lack of participation in every kinda –such a family event. At the exact date, (one of them) 24th august. The Social business camp –which i follow, is sort of building such a social business. Our intention at the very first time is to build a community thats able to employ marginalized communities, cover it with a unique concept which we summarize in our proposal. Unexpectedly, our proposal passes and become one of the finalist. Right after that, we were given a bunch of tasks and give us such an unexpected time to finish it.

For several times, i said. Im afraid if then, by the time goes on, then my intention change and i’ld become such a suck person giving no hope to other people which at out first intuition is will be our object. Forgive us, to remind ourselves, straighten out intentions.

A single day ve passed and I do felt such a suck person. For leave the moment, I do apologize. For aint having such a good responsibility, I do apologize. For the reason which I cannot express my sincere or melancholic node, i do apologize since it just looks my sincerity didn’t goes well. To be such a suck secretary, I do forgive.

And for my –unreasonable afraid to said personally my own sincere, I do apologize.

I do apologize for whole my sins. Forgive me by aint taking permission or give an excuses. Forgive me if i said a rude thing.


Regards,

7 Jul 2014

setiap orang punya kapasitas masing-masing




Orang jahat itu tercipta karena adanya orang baik. Orang zalim itu berkuasa karena ada yang kita sebut orang adil. Orang licik itu berkapasitas karena ada cendekia berintelektual yang kompeten. Mereka tercipta sebagai sebuah konsekuensi logis dari kultur yang terbentuk dalam masyarakat. Ini hanya masalah istilah dan konotasi, tempat kita menyebut Atas dan Bawah.

Bukan hanya kesalahan orang zalim jika mereka hidup dan turut serta dalam menyumbangkan kontribusi kelaliman kepemimpinannya pada semesta. Bukan hanya kesalahan pencopet jika suatu kondisi ia mencuri dompet seseorang, padahal kondisinya masih berkecukupan. Karena mereka mengimitasi latar belakang tempatnya dilahirkan. Yang berbeda adalah pemahamannya tentang baik itu berbeda dari perspektif umum. Sumir sekali jika kita hanya memandang dalam satu perspektif.

Izinkan pemikiran dangkal saya berkesimpulan bahwa bukan hanya kesalahan mereka yang salah dalam anggapan umum.

Yang salah juga ada pada si orang baik yang mengaku diri baik. Mengkalamasikan kebaikan dirinya meski hanya dalam hati. Melihat dengan jelas adanya kelaliman tapi tidak memerah mukanya. Mengaku sebagai seorang alim namun tidak tergerak hatinya saat melihat diskriminasi di lingkungan sekitar. Menganggap diri seorang sufi, namun menzalimi diri sendiri dalam membagi waktu beribadah dengan ihwal dunia.

Setiap orang punya kapasitasnya masing-masing, tak perlu diaklamasikan supaya semesta tahu peranmu.

Setiap orang punya kapasitasnya masing-masing, jangan bersolek dalam membuntuti orang lain supaya ikut menyempurnakan niat dan aspek dzahir perbuatanmu.

Setiap orang punya kapasitasnya masing-masing, cukup interaksi antara kau dan Yang Maha Kuasa yang tahu.

Setiap orang punya kapasitasnya masing-masing, tak perlu terusik jika orang lain berkata apa padamu. Toh, Yang Maha Esa lebih tahu kebutuhan dan keperluanmu,

karena setiap orang punya kapasitasnya masing-masing...

Yogyakarta, 26 Juni 2014

4 Jul 2014

Dorman




Saya sedang dorman.Dipaksa menjadi manusia yang tidak produktif.

Tanpa sadar, ada beberapa kenangan masa kecil saat saya punya berjuta waktu nganggur untuk bermain dengan tokoh khayalan, atau alat-alat rumah tangga. Sayangnya, waktu itu umur saya 4 tahun. Keluarga saya belum punya laptop. Komputer pun juga belum. Motor hanya ada satu, vespa biru tua kebanggaan ayahku sang guru teladan.

Saya sedang dorman. Dipaksa menjadi manusia konsumtif.

Namun saya tidak suka diam terbujur kaku. Kalau memang tidak bisa melakukan apa-apa, tegarkan suaramu supaya orang lain tidak merasa bersalah saat meninggalkanmu. Tersenyum saja dan bersikap baik.

Saya sedang dorman. Namun saya punya serangkaian agenda.

Ini hanya masalah permainan waktu kecil. Memainkan sakelar lampu sambil berusaha menyeimbangkan antara tombol nyala dan hidup. Ada dua lagi seharusnya yang menjadi sahabat setiaku. Kulkas dan pintu kamar. Saya akan bersuka cita untuk membuka-tutup pintu kulkas hanya untuk melihat lampu kulkasnya perlahan mati dan nyala. Atau memainkan knop pintu hanya untuk melihat knopnya masuk dan keluar secara perlahan. Tapi sayang, kulkas di sini tidak ada lampunya dan kamar saya tidak ada knopnya. Sakelar menjadi tempat favorit saya sekarang. Dan laptop saya yang semoga terjaga kebermanfaatannya.

Masa kecil saya itu bisa mendapatkan kebahagiaan secara sederhana, ya. Nggak muluk-muluk minta dibelikan gadget. Boros. Mahal. Dan menyiksa mata.


Saya sedang dorman. Namun saya masih punya kawan sejati, sakelar lampu yang setia menemaniku. Dan al-Qur’an yang semoga saya bisa konsisten mengirimkan paket-paket pahala kepada yang tercinta J. 


19 Jun 2014

Antara Rasionalitas dan Kuantitas



Manusia punya serangkaian sistem yang mereka sepakati tanpa suatu tinta hitam di atas putih. Sistem yang terbangun tanpa perlu bermusyawarah dalam sebuah forum. Tanpa sebuah lembaga birokrasi sebagai payung yudikasi dalam memastikan segalanya tetap berada pada jalannya. Karena mereka memiliki sepaket rasionalitas.

Rasionalitas yang membuat mereka paham antara baik dan buruk tanpa perlu membuat pedoman garis besar haluan beretika. Bahwa menjenguk orang sakit itu perbuatan terpuji. Bahwa mencuri itu akhlak tercela. Bahwa menggunjing orang itu sikap tidak beretika.

Di sini rasionalitas yang bertindak mengkomparasikan dua hal tersebut. Baik, jahat. Atas, bawah. Kanan, kiri.

Karena ketiadaannya suatu amandemen tertulis, maka nilai tersebut menjadi sangat relatif dalam perspektif manusia. Yang ada hanya kuantitas yang bermain di sini. Masyarakat minoritas akan mengikuti kultur yang menghegemoni sistem. Masyarakat mayoritas bertindak sebagai pembuat peraturan. Kuantitas yang berkuasa. Dan karena diversitas adalah suatu keniscayaan, sebuah toleransi sering kali digantungkan. Fakta menjadi sebuah paradoks dalam bungkusan : “diversitas menjadi nilai yang sering kita pahami, kita ketahui. Namun jarang bagi kita untuk mencoba membuka ruang bagi mereka dalam menerima dan dibicarakan.”

Sebagai sebuah konsekuensi dari eksistensi ‘diversitas’, yang namanya orang jahat, licik, zalim itu pasti ada. Yang jelas, mereka semua adalah produk dari kultur tempat mereka dilahirkan. Melekatkan mereka dalam rangkaian takdir yang menentukan akan seperti apa mereka di masa depan. Mengikatkan dogma pada masyarakat bahwa kontribusi tempat dimana kita lahir menjadi sangat esensial, dan meluputkan pandangan bahwa dalam hidup ini, masih ruang untuk doa dan usaha dalam berperan. Ini pandangan masyarakat kolot.

Ini sistem. Jangan salahkan sistem. Sistem berkuasa di sini. Dan yang menjadi variabel penentu sistem adalah kontribusi dari kuantitas. Kuantitas adalah mayoritas yang berkuasa mengatur sistem.


Nah, saat ini lagi musim-musimnya pemilu presiden. Dari parameter yang tersedia, kita bisa lihat bagaimana kabar rasionalitas bumi pertiwi dari hasil kalkulasi kuantitas  pemilih ^_^ Mau dibawa kemana Indonesia 5 tahun ke depan?

17 Jun 2014

Mereka lebih beretika




Kadang, mereka lebih beretika dibandingkan dengan kita.

Data BPS menunjukkan bahwa persentase mahasiswa di Indonesia hanya pada kisaran 2% dari total penduduk di Indonesia. Akan jauh lebih sedikit jika dikerucutkan menjadi golongan masyarakat cendekia yang berakhlak  dan bermoral. Lebih sedikit lagi bagi golongan mahasiswa yang mau berkontribusi aktif di masyarakat. Yang sadar dan peduli akan perannya di ranah sosial. Yang tidak secara egois mementingkan pemuasan kebutuhan pribadi.

Perkenankan saya menggores pena, menulis kisah ini.

21:57 WIB.

Saya baru saja pulang. Baru saja. Dari tempat biasa saya mengajar pengajian ibu-ibu, memperbaiki bacaan Qur’an mereka di salah satu masjid yang berlokasi tak jauh dari asrama tempat saya berteduh. Bersama sekelompok teman-teman satu ukhuwah.

Asrama kami adalah asrama mahasiswa. Sebagaimana saya sebutkan pada introduksi. Kami adalah sekelompok mahasiswa yang alhamdulillah telah diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu sedikit lebih lama, mendapatkan kapasitas intelektual yang sedikit lebih banyak, dan kondisi iman yang sangat butuh pemfasilitasan *dan karena itulah kami bermukim di asrama hanya untuk meneguhkan iman kami.

Kami baru pulang dari pengajian, saat berlalu dalam perjalanan yang hanya memakan waktu beberapa menit dari asrama. Hendak menyebrang jalan, saat melihat sosok bapak berpakaian kusam. Tidak banyak mengamati, saya langsung saja berlalu. Entah dimana saat itu rasionalitas saya  pergi.

Sampai di seberang jalan, teman mengobrol saya menoleh menyatakan rasa ibanya. Baru saat itu saya dibuka matanya dan disadarkan nuraninya.  Saya mengamati di seberang jalan itu, bapak tersebut hanya berlalu.

“Muthi’ah,..” seruku pada seorang teman yang ada di depanku. “boleh kuminta makananmu?” aku menimpal tanpa logika, refleks berkata demikian. Ia langsung saja menyanggupi dengan ramah.

Begitu pula temanku yang ada di belakang, rupanya ia memiliki intuisi yang sama. Kami langsung kembali menyebrang dan mengejar si bapak yang tak jauh langkahnya, tertatih dibantu tongkat kayunya berjalan tanpa alas.

Ia berbalik, menoleh pada kami. Aku lebih miris memandangnya. Kami memaksakan kilah senyum kami, seraya menyerahkan beberapa bungkus makanan yang baru saja kami dapatkan dari pengajian. Ya Allah, semoga ini membantunya,.. Rezeki tetaplah di tanganMu.

Ini bukan kisah heroik dari sosok mahasiswa yang memberikan sebungkus makanan pada orang yang dianggap membutuhkan. Bukan pula kisah anak muda yang berlari mengejar pahala untuk berkontribusi secara sosial.  Sama sekali bukan.

Sama sekali bukan.

Tapi, ini adalah tamparan untuk saya. Termasuk untuk pembaca, barangkali jikalau sekali-dua kali pernah mengalaminya.

Kadang kita menganggap remeh hal kecil yang kita lakukan.

Merasa pernah untuk perlu diibakan orang lain? Sering meminta tolong sesuatu yang masih dalam batas kemampuan kita?

Sekali lagi, ini tamparan buat saya pribadi. Baik saya maupun pembaca.

Kadang kala kita merasa membutuhkan uluran tangan orang lain untuk hal sekecil apapun itu. Untuk menuntaskan hal sepele. Untuk mengerjakan hal yang mampu kita kerjakan. Mereka yang bertaruhkan antara kelangsungan hidupnya, enggan untuk meminta. Mereka lebih beretika. Meski mereka tidak lulus secara edukasinya, tapi mereka tampaknya lebih paham cara beretika.

Barangkali sang bapak melihat dengan jelas sekelompok anak muda yang berlalu, ngobrol dengan asiknya dalam jalannya mereka, menggenggam sebungkus makanan. Ia diam saat kami melewatinya. Memperkenankan kami. Dan bodohnya saya hanya selintas melihatnya, tanpa terbesit rasa apapun, kalau bukan teman saya tidak menyadarkan saya.

Aish, saya menuliskan ini dengan penuh emosi. Emosi yang sulit dilebur menjadi satu hingga menimbulkan berbagai kontradiksi dan konotasi yang barangkali membingungkan pembaca. Perasaan saya sedang kacau. Yang jelas, masih terbayang dengan jelas wajah bapak itu. Klise saat kami menyerahkan bungkusan tersebut. Jemari kaki beliau. Kemeja lusuh yang beliau kenakan. Celana pendeknya. Sorot lampu malam saat mobil-mobil berlalu. Ataupun suara ‘terima kasih’ berkali-kali yang beliau utarakan.


Ini bukan fiksi. Ini nyata. Tokoh bapak tersebut pun bukan sekadar retorika. Mereka adalah masyarakat marginal, kaum terdiskriminasi yang sering kali kita abaikan. Hikmah ini juga bukan sekadar teguran. Ini tamparan bagi mereka yang berakal dan merasa punya nurani. Ini tamparan bagi kita semua.

15 Jun 2014

gaji pertama


Belakangan ini, saya merasa bahwa idealisme saya semakin rontok termakan oleh realita. Ya, saya paham ini adalah dua oposisi. Yang saya yakini hanya gelap konotasi dari ketiadaan cahaya. Hitam berarti ketiadaan putih. Namun saya belum percaya jika memang idealisme adalah ketiadaan realita? Koreksi saya jika memang demikian sehendaknya.

Tepat kamis, 12th Juni 2014 adalah hari dimana saya mendapatkan gaji pertama saya. Bukan sebagai pegawai perusahaan. Atau juru ketik nasional. Atau tukang kalkulasi tugas kantoran. Hanya sebagai tentor. Mahasiswa yang merangkap menjadi seorang tentor. General, bukan? Sangat biasa, iya.

Hari itu, saya goreskan pena pada selembar kertas untuk ditanda tangani. Masam. Saya mendapat sejumlah uang dengan kilahan senyum dan ucapan terima kasih tak terhingga dari beliau sang orang tua. Saya balas tersenyum Menyesakkan.

Pesimisitik sekali?

Tidak. Sesungguhnya tidak. Yang saya rasakan hanya kala itu ada dorongan untuk mengatakan, "tidak. saya memang mengajar ini dengan ikhlas, bu,..." Itu yang sungguh ingin saya katakan. Namun, saya sadar diri, saya pantas menerima dari hasil usaha saya semalam larut mempelajari materi sebagai bahan ajar. Bersabar dan tersenyum selama proses itu. Dan memang benar saya sedang dalam kondisi membutuhkan itu. Selalu saja dapat menemukan sebuah alasan untuk menerima uang tersebut.

Bukan itu yang saya soroti, kawan. Namun ada esensi dimana, keberkahan itu dirasa tidak diterima. Meski harus saya akui, selama prosesnya, saya kerap kali disorientasi. Membayangkan pada apa yang akan saya lakukan dengan sejumlah uang tersebut.

Saya memang tidak seperti mereka. Iman saya masih sangat lemah. karena itu pula, saya mundur dari panggung ini, dan kembali menjadi orang biasa.

Islam