9 Okt 2015

PROLOG -Desa Mabat

#BukanNegeriLaskarPelangi
 
Rasanya, merupakan sebuah anugerah luar biasa besar untuk dapat memijakkan kaki di desa ini : Desa Mabat. Sebuah desa kecil yang ukurannya tak lebih dari tiga kali luasnya UGM, berlokasi sekitar satu jam perjalanan dari Kabupaten Bangka Induk, Sungailiat. Untuk pertama kalinya dalam hidup kami, diperkenalkan dengan sebuah desa –yang boleh jadi namanya tak tertulis dalam Atlas Indonesia. Namun, sungguh, Mabat memberikan sebuah kesan yang sangat berarti di hati kami. Dalam berbagai warna yang akan dituangkan dalam kaleidoskop catatan KKN BBL -01 UGM.

PROLOG –Desa Mabat

Saya punya keluarga besar di kota Jakarta. Karena enyak (panggilan nenek dalam bahasa Betawi) punya banyak anak, barangkali saya hanyalah satu dari puluhan cucu yang besar dan tinggal di Jakarta. Sudah 17 tahun tinggal di sana, tidak membuat lantas menghafal seluruh nama sanak saudara.

Namun, 2 bulan saya tinggal di desa kecil yang jaraknya hampir satu jam perjalanan dari Kota Sungailiat. Desa yang jumlah penduduknya tak kurang dari 300 orang –setidaknya menurut data dari perangkat desa, ada setidaknya seperdelapan nama penduduk saya hafal. Barangkali bukan hanya saya, namun rekan satu unit KKN menghafal nama dan wajah warga desa dengan segala kecakapan mereka membangun relasi dengan masyarakat. Mulai dari yang masih cilik –anak-anak PAUD, SD, Madrasah, SMP, SMA, ayuk-ayuk (panggilan ‘mba’ dalam bahasa bangka), abang-abang, emak, apak, hingga encik sekalipun. Dibungkus atas nama ‘akademik’, KKN sesungguhnya memberikan arti besar bagi kami untuk bisa terjun ke dunia sosial.

Barangkali bukan karena KKN saja. Namun, juga karena masyarakat Mabat-lah yang membuka cakrawala kami.
Pertama kali mendengar nama ‘Mabat’  sudah seperti hal asing yang menggelitik di pikiran. Cerita para senior fisika yang baru saja pulang dari negeri antah berantah, menjalankan tugas suci KKN, katanya. Mereka seakan mengagungkan sebuah peradaban penuh warna dari kondisi sosiologis negeri penuh euforia :

Pertama, peradabannya maju akan moral dan tata krama.

Perhatikan. Sekonyong-konyong saya bermukim di kota metropolitan, belum pernah saya rasakan keramahtamahan dari ketulusan sapaan sebagaimana yang saya rasakan dari masyarakat Mabat. Mereka menyapa tanpa pamrih. Hanya untuk singgah di rumahnya sesaat dan menyeruput segelas fanta (rasa melon) atau makan semangkuk pempek.

Mereka menyediakan untuk kami makan dan minum. Belum habis kami mengunyah bulat-bulat pempek, ditawarkannya kembali satu piring sesajian dengan menu berbeda. Sotong. Lepet. Kepiting. Kerang. Awal kami bersilaturrahim ke rumah warga, kami terdiam membisu. Jetlag. Biasanya, kultur di Jawa itu orang mempersilahkan mampir hanya sekedar wacana. Formalitas, kata mereka. Biar dianggap punya sopan dan santun. Untungnya, sebelum berangkat kami diberikan wejangan oleh kakak senior. Mereka berkata dengan nada bergurau, “kalau kalian ditawari singgah, harus benar-benar singgah! Kalau ditawari segelas teh, harus diminum! Apalagi makanan! Makanya, kalau musim lebaran, siapkan perut kalian kosong! Harus, itu!”. Saat itu saya hanya manggut-manggut mengiyakan. Sekarang, saya paham kenapa mereka terlihat bertambah gemuk selepas KKN.

Peradabannya sangat memanusiakan manusia. Kehangatannya memberikanmu kenyamanan terbaik hingga enggan rasanya untuk angkat kaki di penghujung masa bakti KKN. Keramahannya membuatmu menemukan keluarga kedua di sini. Tradisi yang berlaku di sini akan menggelitik siapa saja yang mengaku masyarakat kosmopolitan sekalipun.

Bagaimana tidak?

Kami mencuci di sungai yang jaraknya ribuan meter berlokasi di pinggir desa. Untuk berjalan kaki saja sudah menempuh waktu setengah jam perjalanan. Belum dihitung ongkar ongkir sambil membawa gerobak beroda tiga berisikan ember-ember penuh pakaian kotor. Kondisi jalanan masih sepi kala berangkat di waktu fajar. Dua minggu pertama kami tinggal di Mabat, kami sempat vakum dari program, sampai lupa diri akan eksistensi kami di sini untuk melaksanakan kegiatan pembangunan desa sebagaimana amanat universitas. Saat itu, kerjaan kami hanya main, makan, dan nyuci baju. Kalau di jogja kami berangkat jam setengah tujuh pagi untuk kuliah, di sini, kami berangkat jam setengah enam pagi untuk mencuci baju di sungai. Produktif sekali.

Rekan satu KKN saya ada yang seorang pengamat. Hobinya memperhatikan kondisi sekitar dan menciptakan berbagai konklusi dalam diskusi kami di cafe pohon (baca: tempat nongkrong anak KKN). Ia berkata, “trend yang ada di sini tu, mau motornya scoopy, supra x, vega-r, metic, gigi, kopling, honda. Pokok e, apapun motornya, tujuannya tetep aja dibawa ke sungai, kebon. Kalo pergi ke sungai, dandanannya pake handuk diselendangin, sama bawa ember isinya alat mandi sama kemben ato gak sarung.”

Segala aktivitas mereka awali dengan pergi ke sungai: sebelum berangkat ke sekolah, setelah ngebon, selepas pulang dari PT. Segala ritual itu mereka lakukan di sungai. Mandi, nyuci baju, piring, karpet, ikan, hingga gorden menjelang lebaran. Apalagi kalau ada orang yang baru selesai manen sahang. Bau busuknya mengudara, menyengat, memantik emosi siapapun yang ada di sana. Mereka hanya akan meneriaki sambil tertawa, “bau duit, og!

Di sanalah pusat kehidupan masyarakat. Dan menjadi katalis bagi kami, para perantau KKN untuk bisa melakukan pendekatan kultural dengan warga desa.

Kedua, atmosfer kekeluargaannya terbangun di sudut manapun.

Jujur saja, pertama kali mendengar kisah dari kakak kelas, saya menduga ini adalah karangan fiktif mereka yang konon pandai berdialektika. Mereka berkisah bahwa perlakuan masyarakat kepada mereka layaknya artis yang dielu-elukan. Bakti tulus layaknya bunda yang mengayomi anaknya, selalu diberikan di sana, hingga kami nyaris lupa kepemilikan sanak saudara di kampung halaman. Ini bukan kasih sayang semu yang terputus begitu periode KKN usai. Namun, kehangatannya masih tetap dirasakan hingga telekomunikasi ribuan kilometer jauhnya, dari warga desa yang selalu menelpon kami setiap malam.

Jadi begini, kawan.

Program utama KKN kami meliputi pendidikan dan pertanian. Sehingga, sudah menjadi rutinitas harian kami mengajar di PAUD, SD hingga madrasah. Di sini kami punya banyak fans yang mayoritas bocah-bocah petualang (baca: minion) berusia 4 hingga 12 tahun yang hiperaktif. Baru berjarak beberapa puluh meter, nama kami sudah dielu-elukan, “kakaaaaaak,... kakaaaaak,...”. Sekalipun saat disamperin, ada juga yang tidak kenal nama saya –sekedar memanggil siapapun dengan sebutan ‘kakak’.

Ada yang selalu mengekor kemanapun pergi –ke desa sebelah sekalipun. Ada yang sering menginap di pondokan laki-laki. Ada yang gemar berantem. Ada yang gemar main lompat tali. Ada yang gemar gelantungan di mobil pick up. Ada yang sukanya nyeduh mie di pagi hari. Ada yang ketagihan diantar pulang kalau main di tempat kami sampai larut. Ada yang datang bawa buku pelajaran, katanya mau belajar, nyatanya main-main saja. Ada yang kerjaannya malu-malu kucing hanya bisa duduk di bawah pohon menanti sampai ada yang menghampiri. Ada yang cuma bisa sms-an dalam sunyi. Ada yang gemar mengirim surat cinta. Sampai ada pula yang gemar main drama kisah cinta konyol antara dia dan rekan KKN saya.

Ada lagi untuk pemudanya.  Hampir setiap malam, cafe pohon di pondokan desa selalu dipenuhi pemuda desa yang turut meramaikan jadwal ronda anak-anak KKN. Sambil membawa sarung dan gitar, sekotak ceret rokok, mereka keluar masuk dapur kami sambil membawa segelas kopi ABC mocca seperti rumah sendiri. Kadang kala buka layar tancap pula. Kami tinggal menyediakan LCD, biarlah tembok jadi layarnya. Di bawah cafe pohon tinggal digelar terpal. Kami membuat bioskop pribadi beratapkan bintang di langit.

Bicara soal langit, pemandangan langit malam di sana luar biasa indah. Saya sering menengadah ke atas dalam perjalanan pulang seusai shalat taraweh di masjid, pada sebuah pemandangan yang nyaris sulit kau temukan di tanah Jawa. Kita ibarat terjebak dalam dome raksasa yang berlokasi di lapangan luas pada nadir sebuah desa terpencil. Di antara batas horizon dan titik alzimuth, terhampar lazuardi malam berselimutkan jutaan bintang yang mengisi suasana. Hingga goresan nyata dari segaris tipis galaksi bimasakti di langit selatan. Seperti mimpi indah saja mengingat itu.

Saya ingat betul satu waktu di bulan Ramadhan. Saat itu, para minion menemani kami pergi untuk berangkat sholat taraweh ke masjid selepas buka puasa bersama. Bilangnya sok jantan, “aku mau nemenin kakak!”. Nyatanya juga kami yang menemani mereka. Jemari mungilnya menggenggam lengan saya. Tangan kami saling bertautan dan berayun-ayun mengikuti irama langkah kaki. Kami berteriak menyanyi sepanjang perjalanan.

Rukunnya, iman itu. Ada enam perkara. Pertama, mengimankan pada Allah yang Kuasa. Kedua malaikat. Ketiga kitab-kitab. Keempat para Rasul. Kelima hari kiamat. Keenam mengimankan takdir baik dan buruk. Itu semua dari Allah.”

Di antara ratusan rumah yang ada di Mabat, semua memperlakukan pendatang baru sama saja. Pintu terbuka selebar-lebarnya, senyum merekah seramah-ramahnya, sambutan hangat tiada henti kami rasakan.

Ada setidaknya empat keluarga yang saya jumpai dan saya merasakan sudah seperti rumah sendiri. Makan tidur mandi di sana. Nyamankan dirimu, mereka tak kenal rasa takut menyertaimu menjadi bagian dari kehidupan mereka. Tidur di sana. Bangun di pagi hari, lalu memasak bersama. Sarapan satu meja dalam lingkaran yang penuh canda tawa. Ikut bergabung dalam barisan geng motor bersorban handuk untuk pergi mencuci ke waduk sungai. Keliling kampung dengan wajah bermasker tebal hanya untuk beli segelas jasjus rasa jeruk. Silaturrahim keliling kampung dan pulang bawa oleh2 hasil panen warga. Berceloteh berbagi kisah hingga malam larut sambil menunggu bayinya tertidur nyenyak beratapkan kelambu. Kebanyakan pertanyaan yang mereka ajukan tentang kehidupan di kampus maupun kota. Pertanyaan kami? Kisaran kehidupan harian mereka, hingga saat pasangan suami istri masih muda.

Setiap rumah ada kisahnya, dan setiap kisah ada orangnya. Boleh saja mereka tinggal di desa yang sama dengan rutinitas yang sama. Namun, mereka semua istimewa sebagaimana mereka mengistimewakan kami. Jika ingin dirimu dihargai setinggi-tingginya manusia, Mabat akan memberikan yang terbaik bagimu hingga merasa seperti artefak berharga.

Pada akhirnya, saya tak tahu apa yang lain juga akan ikut mengagungkan desa ini sebagaimana halnya gambaran di atas. Namun, saya pikir kami sepakat. Mabat menjadi sebuah nama yang sangat istimewa dalam benak kami semua. Sebagaimana saya melihat tangis haru, baik kami unit KKN, maupun warga Mabat sendiri di penghujung periode. Saat semua generasi berkumpul mengantar kepergian kami. Memeluk, merangkul, dan menjabat. Berfoto bersama dalam senyum pahit bercampur emosi rindu yang membuncah. Kami mengabadikan momen ini dalam empat kata penuh makna, “terima kasih, Sahabat Mabat.”

#catatan Setengah Tahun

Ada sebuah perspektif baru yang orang coba bangun, begitu kali pertama mendengar sebuah amanah. Apa itu amanah? Awalnya saya juga rancu dalam mendefinisikannya.

Kita boleh saja membangun sebuah dinasti baru dengan paradigma dan gaya khas kita dalam mengatur sebuah kultur tertentu dalam sistem. Boleh saja kita membawa sebuah peradaban sesuai dengan pemikiran dan gagasan cemerlang kita. Namun, sebrilian apapun ide kita, tidak bisa berlabuh di kekumuhan bumi sosial jika tidak diimbangi dengan sebuah pemahaman akan konsep kultur dan budaya setempat. Inilah yang kemudian disebut proses membumi.
*** 

Saya mengenal istilah ini sudah sejak lama. Namun sebagai sebuah teori, baru saya kenal di masa saya dididik di asrama. Sebuah asrama luar biasa dengan kurikulum kehidupan yang –boleh saja ditertawai oleh orang lain, namun ketahuilah, inilah hal-hal sepele yang banyak orang melupakannya dan luput akan hal itu.

Pada suatu hari, hidup saya berubah untuk satu tahun ke depan. Itulah hari dimana saya dibebani amanah baru. Untuk sebuah amanah yang saya yakin, bukanlah lingkungan tempat saya seharusnya. Dengan segala macam visi hidup yang sudah dibangun sedemikian rupa, saya yakin ada kurikulum hidup yang harus saya ubah, pun juga dengan cita-cita yang perlu ditunda untuk beberapa tahun mendatang.

Dalam kisah ini, ada hal unik bagi saya. Menjadi sebuah kekhawatiran di mata orang tertentu. Meski menjadi sebuah kelegaan tersendiri pada kacamata yang lainnya.

Saya bergelut bersama seorang tokoh. Saya yakin dia akan menjadi tokoh besar suatu saat nanti. Dengan brandingnya sang pengendali forum, semangat inspirasi luar biasa, visi tertata dengan motivasi tinggi yang terbangun untuk menjadi sosok berbeda.

Ada saat dimana saya mencoba memantaskan diri berdiri di sampingnya. Satu dua, sampai kapanpun, saya tidak bisa mengimbanginya. Dia punya caranya sendiri yang membuat saya kerap kali tersenyum sumringah, merasa keunikannya adalah anugerah. Sungguh, semakin lama semakin besar sekali rasa kesungkananku dengan beliau.

Amanah memaksa saya menjadi pribadi yang berubah. Pun demikian usahanya. Seorang apatis yang didesak untuk menjadi seorang yang  paling peduli. Dari seorang yang tak peka, dipaksa menjadi seorang dengan tingkat kepekaan tinggi. Sejatinya, ini bukanlah saya, bagaimanapun itu. Seorang yang selalu bergantung, bagaimana mungkin menjadi seorang independen tanpa ketergantungan apapun? berbagai stigma mulai bergentayangan, tergubris seluruhnya oleh usaha beliau tanpa banyak keluhan. Saya memantapkan diri, dari kali pertama sampai seterusnya akibat keyakinan belilau. Ini baru kisah awal, dan masih banyak inspirasi yang saya refleksikan dari diri beliau.

Bagaimanapun, ada satu dua hal yang membuat saya menjaga jarak. Mundur beberapa langkah dari beliau. Tentang perbedaan sebuah paradigma.

Sejatinya, saya tidak suka menjadi pribadi terikat. Hakikatnya saya independen tanpa ada tendensi pada apapun. Ketidaksukaan saya akan keberpihakan, secara sederhana didasari karena belum ada orang yang secara cerdas mau dan bisa menunjukkan pada saya tentang urgensi keberpihakan sesungguhnya. Katakanlah, seorang tokoh meminta saya dengan amanah yang saya pegang untuk mengendalikan forum dan berkata A. Saya hormati itu sebagai sebuah pendapat, namun akan saya pertimbangkan hal itu untuk kemudian diaktualisasikan.

Saya hanya khawatir menjadi pribadi yang menerima ini dan itu. Banyak dari mereka menjadikan itu sebagai sebuah proses penerimaan secara mentah. Sebuah gelas terisi penuh akan lebih sulit kembali menerima air lagi, jika bukan karena kondisinya kosong sedari awal.

Islam