9 Okt 2015

#catatan Setengah Tahun

Ada sebuah perspektif baru yang orang coba bangun, begitu kali pertama mendengar sebuah amanah. Apa itu amanah? Awalnya saya juga rancu dalam mendefinisikannya.

Kita boleh saja membangun sebuah dinasti baru dengan paradigma dan gaya khas kita dalam mengatur sebuah kultur tertentu dalam sistem. Boleh saja kita membawa sebuah peradaban sesuai dengan pemikiran dan gagasan cemerlang kita. Namun, sebrilian apapun ide kita, tidak bisa berlabuh di kekumuhan bumi sosial jika tidak diimbangi dengan sebuah pemahaman akan konsep kultur dan budaya setempat. Inilah yang kemudian disebut proses membumi.
*** 

Saya mengenal istilah ini sudah sejak lama. Namun sebagai sebuah teori, baru saya kenal di masa saya dididik di asrama. Sebuah asrama luar biasa dengan kurikulum kehidupan yang –boleh saja ditertawai oleh orang lain, namun ketahuilah, inilah hal-hal sepele yang banyak orang melupakannya dan luput akan hal itu.

Pada suatu hari, hidup saya berubah untuk satu tahun ke depan. Itulah hari dimana saya dibebani amanah baru. Untuk sebuah amanah yang saya yakin, bukanlah lingkungan tempat saya seharusnya. Dengan segala macam visi hidup yang sudah dibangun sedemikian rupa, saya yakin ada kurikulum hidup yang harus saya ubah, pun juga dengan cita-cita yang perlu ditunda untuk beberapa tahun mendatang.

Dalam kisah ini, ada hal unik bagi saya. Menjadi sebuah kekhawatiran di mata orang tertentu. Meski menjadi sebuah kelegaan tersendiri pada kacamata yang lainnya.

Saya bergelut bersama seorang tokoh. Saya yakin dia akan menjadi tokoh besar suatu saat nanti. Dengan brandingnya sang pengendali forum, semangat inspirasi luar biasa, visi tertata dengan motivasi tinggi yang terbangun untuk menjadi sosok berbeda.

Ada saat dimana saya mencoba memantaskan diri berdiri di sampingnya. Satu dua, sampai kapanpun, saya tidak bisa mengimbanginya. Dia punya caranya sendiri yang membuat saya kerap kali tersenyum sumringah, merasa keunikannya adalah anugerah. Sungguh, semakin lama semakin besar sekali rasa kesungkananku dengan beliau.

Amanah memaksa saya menjadi pribadi yang berubah. Pun demikian usahanya. Seorang apatis yang didesak untuk menjadi seorang yang  paling peduli. Dari seorang yang tak peka, dipaksa menjadi seorang dengan tingkat kepekaan tinggi. Sejatinya, ini bukanlah saya, bagaimanapun itu. Seorang yang selalu bergantung, bagaimana mungkin menjadi seorang independen tanpa ketergantungan apapun? berbagai stigma mulai bergentayangan, tergubris seluruhnya oleh usaha beliau tanpa banyak keluhan. Saya memantapkan diri, dari kali pertama sampai seterusnya akibat keyakinan belilau. Ini baru kisah awal, dan masih banyak inspirasi yang saya refleksikan dari diri beliau.

Bagaimanapun, ada satu dua hal yang membuat saya menjaga jarak. Mundur beberapa langkah dari beliau. Tentang perbedaan sebuah paradigma.

Sejatinya, saya tidak suka menjadi pribadi terikat. Hakikatnya saya independen tanpa ada tendensi pada apapun. Ketidaksukaan saya akan keberpihakan, secara sederhana didasari karena belum ada orang yang secara cerdas mau dan bisa menunjukkan pada saya tentang urgensi keberpihakan sesungguhnya. Katakanlah, seorang tokoh meminta saya dengan amanah yang saya pegang untuk mengendalikan forum dan berkata A. Saya hormati itu sebagai sebuah pendapat, namun akan saya pertimbangkan hal itu untuk kemudian diaktualisasikan.

Saya hanya khawatir menjadi pribadi yang menerima ini dan itu. Banyak dari mereka menjadikan itu sebagai sebuah proses penerimaan secara mentah. Sebuah gelas terisi penuh akan lebih sulit kembali menerima air lagi, jika bukan karena kondisinya kosong sedari awal.

Islam