21 Okt 2011

guruku, gurumu

pertama, posting ini gak mengandung unsur publikasi sekolah atau apapun itu, karena blogkku murni bukan banner tempat iklan numpang. makanya aku gak berminat menyebutkan sekolahku itu apa.

tapi, satu hal yang bener2 pengen buat aku peluk sekolahku (boleh kok pake perwakilannya :p ) adalah mereka menyediakan dosen UI yang jadi pengajar khusus di kelasku, kawan! hahahaaaa~

sekilas aku liat teman2 sekelasku memang beberapa kurang menghargai arti sebenarnya "kita diajari dosen loh!" terlebih beliau2 itu semuanya yang getol ngajar mahasiswa intelek di salah satu universitas favorit di Indonesia. respeknya sih kurang, makanya aku sering liat ekspresi anak2 sekelas selama pelajaran berlangsung sampe2 mega ngomong, "maya napa dah kok kebiasaan liat ke belakang?"

awalnya sih (meski sampai sekarang) aku masih kurang puas karena "yang mereka pelajari itu, materinya gak sesuai dengan yang di UN kan nanti, tapi materi yang bakal diujikan di bangku kuliah. dan semuanya keren! terutama bagi aku yang dari dulu suka fisika. yang lebih kerena lagi, Beliau pengajar fisika (yang sejujur2nya sampai sekarang aku kurang hafal namanya) itu juga turut serta jadi pemateri anak2 OSN fisika di Manado kemarin! hahahaa.... kaget aku pas serempak anak sekelas dikasih soal OSN. sayangnya lagi, beberapa anak banyak yang gak bersyukur akan kenyataan itu. cuma aku, yang duduk di baris kedua itu senyum2 semangat memandang soalnya.

soal pertama dan paling awal sampai akhir pelajaran yang beliau ajarkan itu tentang POLARISASI. kalau di materi sebelumnya tentang kisi berbagai celah, kalau guru PGku yang alumni UGM fisika itu mengajari dan aku cukup ngerti dengan penjelasan 30 menitnya, kalau sama Beliau, 4 jam pelajaran itu masih rada ngambang, tapi tetep aja ngerasa intelek! sampai soal SNMPTN pun dibahas beliau. dinamika juga bukan masalah besar lagi untuk ditelaah.

Paradoks mengenai Kejujuran

     Dewasa ini, dunia dengan segala perkembangannya telah merevolusi pola kehidupan manusia. Mulai dari hal primitif, kini telah berubah menjadi seluruh kegiatan struktural yang berporos pada manusia sebagai insan berakal. perubahan inilah yang membimbing berbagai dampak pada zaman kini.
     Pada dasarnya, era globalisasi dimaksudkan untuk menyederhanakan sistem sosialisasi yang ada di masyarakat. namun, dalam perkembangannya, hal ini justru membelokkan sebuah norma yang sudah lama terakar dan berkali-kali dikumbandangkan oleh para tokoh pemimpin bangsa. sebagai contoh, salah satunya adalah kejujuran.
     Sekilas melihat pada sejarah, tentang bagaimana perjuangan bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara untuk membangun kesadaran masyarakat agraris ini tentang pentingnya pendidikan, yang membawa para pelajar mengucap hormat pada sang saka merah putih setiap tanggal 2 Mei. Atau perjuangan Kartini dalam mempertahankan hak pada setiap gender untuk mengenyam pendidikan.
     Kalau kita harus mengaca pada kondisi pelajar saat ini, betapa menyedihkannya posisi kita sebenarnya. Mungkin, para tokoh yang bertanggung jawab akan keberadaan manusia berpendidikan di tanah ibu pertiwi ini akan bertanya, "Dimanakah hal yang selama ini kami perjuangkan?"
     Menyikapi kondisi ini, kecanggihan tekhnologi justru membuat pelajar memandang dunia sepraktis mengerjakan tugas dari browsing internet, atau seefisien saat datang ke sekolah tanpa niat papaun? Nyatanya, di zaman dahululah, saat pendidikan merupakan hal yang sangat mahal, berbondong-bondong kita bersatu padu untuk mendapatkannya meski adalah sebuah kemustahilan.
     Pola pemikiran ini membawa pelajar kurang menghargai arti usaha, saat lingkungan mereka menunjang untuk berpikir praktis. Bagi pelajar sebagian, justru norma kejujuran semakin terlepas, dan adalah sebuah paradoks jika mendapatkan sesuatu tanpa usaha apapun.
     Sebagai contoh, mencontek bukanlah hal yang asing lagi jika harus diterapkan pada budaya kini. ini ditunjukkan dari kondisi globalisasi di masyarakat. Usaha bagai hal yang menguras waktu mereka, padahal apa salahnya sedikit waktu untuk itu? Selain itu, minimnya kesadaran pelajar untuk menghargai usaha orang lain, juga patut untuk dipertanyakan.
     Dalam sebuah kasus, seorang anak sekolah dasar yang melaporkan tindak curang selama ujian berlangsung pada Departemen Pendidikan Nasional. Reaksi teman-temannya setelah itu ialah diasingkan. Maka, menangsilah para tokoh bangsa menyikapi hal ini. Seolah bukanlah tindakan patriotik saat seseorang menyatakan sebuah kejujuran.
    Permasalahannya kini, malukah kita jika menyikapi posisi kita kini? Seberapa pentingkah suatu penghargaan tanpa usaha, jika harus dibandingkan dengan hasil dari usaha kita sendiri? Atau, kemana lagi kita harus mengagungkan arti kejujuran sebenarnya?

15 Okt 2011

paradoks dunia

aku itu manusia. cuma memerankan peran kecil dalam kehidupanku. bukan apa2 di dunia ini, tanpa sebuah perjuangan, aku bukanlah apa2. ya, itulah aku yang merupakan tokoh figuran.

mungkin karena sebuah fakta itu, aku sadar betul. hidup itu memang tak adil, tapi lebih tak adil lagi jika kita menyikapinya tanpa sebuah perjuangan yang membuat kita masih bisa hidup sampai saat ini. aku setidaknya sadar betul seberapa nggak adilnya dunia. kalau bukan karena perjuangan itulah, aku nggak mungkin bisa berdiri di sini.

nah, permasalahannya, rupanya dunia sudah berubah. ya, memang, jauh sebelum manusia ada, sebenarnya. dunia yang sekarang lebih nggak adil. di masa inilah, yang namanya kejujuran itu sudah menguap. dan saat aku buta untuk membedakan yang salah dan yang benar.

kalau saja mereka bisa menghargai usaha, mungkin di masa depan nanti mereka bisa secerah mereka yang mendahului. meski aku tidak tahu seperti apa yang terjadi padaku nanti. tapi aku selalu menggantungkan usahaku di baris terdepan. dan siapa yang rela membiarkan usaha mereka direnggut dengan mudahnya oleh orang yang bahkan nggak mau mencoba mengerti itu? merekalah yang menjadi orang terendah.

Islam