3 Nov 2011

si matahari


cukup menakjubkan bagiku untuk apa yang terjadi hari ini. Ini tentang seorang teman, yang keberadaannya seperti matahari bagiku. yang cukup dengan beberapa kata sederhana, benar-benar bisa membuat orang lain yakin, "aku nggak salah loh di sini, aku sudah cukup bersyukur bisa berteman dengannya"

dia, temanku ini adalah salah satu dari dua orang teman paling berpengaruh yang bisa membuatku sadar, hidup itu penuh perjuangan, makanya kita harus berjuang. orangnya ramah, luar biasa. baik pun harus kuacungi dua jempol? nggak segan-segan acap kali orang lain menanyakan tiap soal, menyusahkan ataupun nggak, dia dengan senang hati bantu. dari segi fisik pun lumayan, dan kami tahu bahwa dia tergolong orang yang sangat mampu. namun, dari itu semua, nggak ada sedikitpun yang ia banggakan dari dirinya. hal yang terjadi malah kebalikannya, saat orang lain merasa "aku nggak bisa apa-apa,.." dia yang menyadarkan mereka, "kemampuanmulah yang bisa menggerakkan dunia, teman,"

belakangan ini aku sibuk berpikir, sampai sering aku menghayal tentang bagaimana aku bisa mengulang waktu, dimana sesungguhnya aku benar-benar punya kesempatan besar waktu dulu untuk bisa berangkat ke sekolah favorit. karena kekurangluasan pengetahuanku, hingga akhirnya kini aku terjebak di sekolah yang lulusannya cukup bisa tersenyum menduduki bangku UI.

"harapan besar bagiku bisa memakai almameter ITB, duduk dan berbaur dengan kaum terpelajar yang menghargai arti usaha, bukan pada lingkungan yang cuma bisa menggantungkan materialistisnya saja".

sekilas aku melihat passing grade fakultas yang kuminati. kebetulan, temanku dan aku sering mendiskusikan minat kami nanti.

"aku baru tahu, passing grade FTI tinggi banget. wah, sekolah kita udah punya relasi belum sih sama ITB buat snmptn undangan?"
"kayaknya sih belum, lulusan kemarin aja gak ada yang dapet ke ITB kan?"
" alumni sekolah kita yang pernah masuk pun, jurusan yang diambil yang passing gradenya gak terlalu tinggi. berarti kalau aku pilih di snmptn undangan cuma FTI, sama aja bunuh diri, ya?"
"aku coba masuk ITB fakultas apa aja juga sama aja kayak bunuh diri, maah,..."

sekilas langsung aku drop total. gimana mungkin masuk ITB? aku sadar diri akan kemampuanku loh. jangankan, peringkat maksimum yang bisa kuraih selama pelatihan OSN pun hanya sampai peringkat 10, aku sudah jungkat jungkit gak kepalang melihat bisa ngalahin beberapa anak penabur, sman 8, sampai 48 dan 54. aku juga sadar selama OSN itu, banyak orang pintar di luar sana. gak salah kan kalau selama pelatihan yang kutempuh dengan konsistensi tinggi, atau selama pelajaran dosen UI, aku selalu senyum kayak orang gila.

begitu kuadukan dengan maksud supaya si matahari itu harus sadar juga, passing gradenya tinggi. dengan sederet prestasi yang diraihnya dan nilai yang selalu di atas rata-ratanya itu, dengan membawa nama sekolahku, ragu bagiku untuk dia bisa lolos. meskipun dia adalah sosok jenius seangkatan.

"liat, passing grade FTI aja peringkat 2. kamu mau ngambil STEI yang peringkat 1, loh,.."
dia hanya membalas dengan anggukan dan senyuman seperti biasa.
"kamu yakin tetep mau masuk STEI? saingan dari sekolah kita aja banyak, apalagi dari luar loh sekolah-sekolah favorit,.."
"setau gue, alumni sekolah kita yang tembus ITB cuma baru 2 orang doang, may. satu ngambil geodesika, dan satu lagi keseniannya,"
"wah, itu kan passing gradenya yang nggak terlalu ekstrim. kamu tetep yakin mau ngambil STEI?"
"may, kita bisa buat perubahan. biar adik-adik kelas kita bisa liat, alumni sekolah kita, ada loh yang bisa tembus ITB, biar nanti adik-adik kelas kita juga bisa semangat. jadi kita kayak pioner mereka!" jawabnya menggebu-gebu.
aku tertawa sesaat.meskipun niatnya mulia, tapi ini dunia. kalau gak bisa bersaing, maka akan tersisih. mereka yang jadi pioner sepertinya bukan jenis orang sepertiku.
"may, lo tau gak juara 1 pemenang astronomi?"
aku berpikir sesaat, "er,... raymond anak ipeka sunter tuh,"
"nggak, seinget gue tu yang anak man 4,.."
saat itu juga kawan, aku langsung tersentuh. si matahari itu yang menyadarkan ke aku. aku punya kemampuan ya? aku bisa berprestasi rupanya? terlepas dari kenyataan tentang seberapa bodohnya nilai-nilaiku atau ketidakmampuanku menyerap pelajaran dengan mudah, dia loh yang support orang lain bahwa, "kamu tuh masih punya kemampuan. kembangkan potensimu dan ubah dunia!,"

untuk si matahari. terima kasih banyak ya. meski setelah itu aku nggak berani lagi ngomong sama dia. bukan karena sudah terbuka matanya setelah ucapan polosnya dia, tapi lebih tepatnya malu karena dia seolah lebih tahu dan menghargai diriku lebih dari aku sendiri yang selama ini selalu berpikir aku nggak punya potensi apapun.

kawan, matahari itu juga yang buat aku sadar. aku nggak salah di sini. karena sebuah keberuntungan punya teman sebijaksana dirinya.  terima kasih banyak!

Islam