14 Sep 2014

Cerita Masa Depan

 

Senandung lagu sinden terdengar, meliuk mengalun indah mengiringi proses pelaminan. Pasangan muda itu duduk berdua dalam kursi pelaminan yang disoroti banyak mata dalam penjuru pandangan. Memulai prosesi syahdu dalam suasana khidmat adat Jawa.
Mereka duduk seragam. Berbalut batik jawa berwarna merah bermotifkan kembang. Sang pria menganggalkan keris pada sarung yang diselempangkan pada sepanjang lingkar pinggang. Memakai tuksedo hitam licin ala Jawa. Sang pengantin wanita lebih heboh lagi. Pipinya tampak merona dibalut make up tebal dan rambutnya dihisasi bunga melati menggantung seperti kuncir rambut, dipoles dengan konde besar. Menata diri seelok mungkin di depan  suami pilihan.
Sambil beranjak bersamaan, beriringan melangkah menuju wali mereka. Membungkukkan diri, ta’dzhim di depan sesepuh. Sesekali memejamkan matanya, sang perempuan merunduk khidmat. Dibisikilah mereka wasiat sebelum membangun sebuah peradaban baru. Wasiat sesepuh untuk pasangan  yang masih hijau itu.
Lelaki tua itu adalah ayah dari sang istri. Beliau duduk bersahaja. Tubuhnya tegak dan tegang, berlama-lama menatap nanar sosok ayu berbalut kebaya merah yang duduk bersimpuh di hadapannya. Tangan lembutnya memegang sang ayah. Sementara sang ayah mengusap-usap kepala anaknya, seolah itu kali terakhir ia masih diberi kesempatan memiliki gadis kecil tempatnya menaruh semesta dan kehidupan.
Betapa mudahnya seseorang yang kau kenal bisa lepas dari hidupmu setelah melalui ikatan suci. Meninggalkanmu dan memori tentang masa kecilnya denganmu. Saat kau sedih, marah, tertawa. Tawamu adalah kebahagiaannya. Tangismu adalah kesedihannya. Hidupmu adalah jiwanya.Tentulah ada secuil pikirannya terbersit penyesalan melepasmu untuk diberikan kepada seseorang yang sudah kau pilih. Ia yang telah merebutmu. Membawamu pergi setelah lelah kau didik hingga dewasa.
Tidak. Atau barangkali tidak. Kulihat seksama. Air matanya memang menggenang, matanya memang memerah, atau isaknya memang terdengar samar. Tapi wajahnya cerah, tersenyum. Itu adalah air mata kebahagiaan, kawan. Itu adalah ungkapan dari perasaan lega dan keikhlasan menitipkanmu pada orang yang engkau yakini sebagai pilihan terbaikmu. Begitu lega rasanya sampai air mata itu mati-matian ia tahan dan senyum itu mati-matian ia kiprahkan. Seolah mengatakan, “berbahagialah sana... Kebahagiaanku ada dalam setiap kebahagiaanmu,...”

Tanpa sadar terbawa suasana. Lama aku memandang mereka lekat-lekat. Bukan antara sang Kekasih baru, tapi pada putri dan rajanya. pada dialektika mereka dan menerka memori pada linangan air mata yag tertuang.
Barangkali, akan tiba masanya kau  adalah dia, dan sosok tegar itu tak lain adalah orang yang kau kan kenal betul selalu tampak heroik dalam perspektifmu. Barangkali, kau akan melihatnya terharu biru.
‘Kapan’ itu, ada masanya. ‘Siapa’ itu, biarlah Paduka yang mengurus. Paduka adalah orang yang sangat bijaksana untuk menentukan nasib hambaNya.
Tapi aku tahu satu hal. Jika saat itu tiba, barangkali aku tak akan mampu melihat sosok di hadapanku untuk kali apapun itu.

Islam