15 Jun 2014

gaji pertama


Belakangan ini, saya merasa bahwa idealisme saya semakin rontok termakan oleh realita. Ya, saya paham ini adalah dua oposisi. Yang saya yakini hanya gelap konotasi dari ketiadaan cahaya. Hitam berarti ketiadaan putih. Namun saya belum percaya jika memang idealisme adalah ketiadaan realita? Koreksi saya jika memang demikian sehendaknya.

Tepat kamis, 12th Juni 2014 adalah hari dimana saya mendapatkan gaji pertama saya. Bukan sebagai pegawai perusahaan. Atau juru ketik nasional. Atau tukang kalkulasi tugas kantoran. Hanya sebagai tentor. Mahasiswa yang merangkap menjadi seorang tentor. General, bukan? Sangat biasa, iya.

Hari itu, saya goreskan pena pada selembar kertas untuk ditanda tangani. Masam. Saya mendapat sejumlah uang dengan kilahan senyum dan ucapan terima kasih tak terhingga dari beliau sang orang tua. Saya balas tersenyum Menyesakkan.

Pesimisitik sekali?

Tidak. Sesungguhnya tidak. Yang saya rasakan hanya kala itu ada dorongan untuk mengatakan, "tidak. saya memang mengajar ini dengan ikhlas, bu,..." Itu yang sungguh ingin saya katakan. Namun, saya sadar diri, saya pantas menerima dari hasil usaha saya semalam larut mempelajari materi sebagai bahan ajar. Bersabar dan tersenyum selama proses itu. Dan memang benar saya sedang dalam kondisi membutuhkan itu. Selalu saja dapat menemukan sebuah alasan untuk menerima uang tersebut.

Bukan itu yang saya soroti, kawan. Namun ada esensi dimana, keberkahan itu dirasa tidak diterima. Meski harus saya akui, selama prosesnya, saya kerap kali disorientasi. Membayangkan pada apa yang akan saya lakukan dengan sejumlah uang tersebut.

Saya memang tidak seperti mereka. Iman saya masih sangat lemah. karena itu pula, saya mundur dari panggung ini, dan kembali menjadi orang biasa.

Islam