17 Jun 2014

Mereka lebih beretika




Kadang, mereka lebih beretika dibandingkan dengan kita.

Data BPS menunjukkan bahwa persentase mahasiswa di Indonesia hanya pada kisaran 2% dari total penduduk di Indonesia. Akan jauh lebih sedikit jika dikerucutkan menjadi golongan masyarakat cendekia yang berakhlak  dan bermoral. Lebih sedikit lagi bagi golongan mahasiswa yang mau berkontribusi aktif di masyarakat. Yang sadar dan peduli akan perannya di ranah sosial. Yang tidak secara egois mementingkan pemuasan kebutuhan pribadi.

Perkenankan saya menggores pena, menulis kisah ini.

21:57 WIB.

Saya baru saja pulang. Baru saja. Dari tempat biasa saya mengajar pengajian ibu-ibu, memperbaiki bacaan Qur’an mereka di salah satu masjid yang berlokasi tak jauh dari asrama tempat saya berteduh. Bersama sekelompok teman-teman satu ukhuwah.

Asrama kami adalah asrama mahasiswa. Sebagaimana saya sebutkan pada introduksi. Kami adalah sekelompok mahasiswa yang alhamdulillah telah diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu sedikit lebih lama, mendapatkan kapasitas intelektual yang sedikit lebih banyak, dan kondisi iman yang sangat butuh pemfasilitasan *dan karena itulah kami bermukim di asrama hanya untuk meneguhkan iman kami.

Kami baru pulang dari pengajian, saat berlalu dalam perjalanan yang hanya memakan waktu beberapa menit dari asrama. Hendak menyebrang jalan, saat melihat sosok bapak berpakaian kusam. Tidak banyak mengamati, saya langsung saja berlalu. Entah dimana saat itu rasionalitas saya  pergi.

Sampai di seberang jalan, teman mengobrol saya menoleh menyatakan rasa ibanya. Baru saat itu saya dibuka matanya dan disadarkan nuraninya.  Saya mengamati di seberang jalan itu, bapak tersebut hanya berlalu.

“Muthi’ah,..” seruku pada seorang teman yang ada di depanku. “boleh kuminta makananmu?” aku menimpal tanpa logika, refleks berkata demikian. Ia langsung saja menyanggupi dengan ramah.

Begitu pula temanku yang ada di belakang, rupanya ia memiliki intuisi yang sama. Kami langsung kembali menyebrang dan mengejar si bapak yang tak jauh langkahnya, tertatih dibantu tongkat kayunya berjalan tanpa alas.

Ia berbalik, menoleh pada kami. Aku lebih miris memandangnya. Kami memaksakan kilah senyum kami, seraya menyerahkan beberapa bungkus makanan yang baru saja kami dapatkan dari pengajian. Ya Allah, semoga ini membantunya,.. Rezeki tetaplah di tanganMu.

Ini bukan kisah heroik dari sosok mahasiswa yang memberikan sebungkus makanan pada orang yang dianggap membutuhkan. Bukan pula kisah anak muda yang berlari mengejar pahala untuk berkontribusi secara sosial.  Sama sekali bukan.

Sama sekali bukan.

Tapi, ini adalah tamparan untuk saya. Termasuk untuk pembaca, barangkali jikalau sekali-dua kali pernah mengalaminya.

Kadang kita menganggap remeh hal kecil yang kita lakukan.

Merasa pernah untuk perlu diibakan orang lain? Sering meminta tolong sesuatu yang masih dalam batas kemampuan kita?

Sekali lagi, ini tamparan buat saya pribadi. Baik saya maupun pembaca.

Kadang kala kita merasa membutuhkan uluran tangan orang lain untuk hal sekecil apapun itu. Untuk menuntaskan hal sepele. Untuk mengerjakan hal yang mampu kita kerjakan. Mereka yang bertaruhkan antara kelangsungan hidupnya, enggan untuk meminta. Mereka lebih beretika. Meski mereka tidak lulus secara edukasinya, tapi mereka tampaknya lebih paham cara beretika.

Barangkali sang bapak melihat dengan jelas sekelompok anak muda yang berlalu, ngobrol dengan asiknya dalam jalannya mereka, menggenggam sebungkus makanan. Ia diam saat kami melewatinya. Memperkenankan kami. Dan bodohnya saya hanya selintas melihatnya, tanpa terbesit rasa apapun, kalau bukan teman saya tidak menyadarkan saya.

Aish, saya menuliskan ini dengan penuh emosi. Emosi yang sulit dilebur menjadi satu hingga menimbulkan berbagai kontradiksi dan konotasi yang barangkali membingungkan pembaca. Perasaan saya sedang kacau. Yang jelas, masih terbayang dengan jelas wajah bapak itu. Klise saat kami menyerahkan bungkusan tersebut. Jemari kaki beliau. Kemeja lusuh yang beliau kenakan. Celana pendeknya. Sorot lampu malam saat mobil-mobil berlalu. Ataupun suara ‘terima kasih’ berkali-kali yang beliau utarakan.


Ini bukan fiksi. Ini nyata. Tokoh bapak tersebut pun bukan sekadar retorika. Mereka adalah masyarakat marginal, kaum terdiskriminasi yang sering kali kita abaikan. Hikmah ini juga bukan sekadar teguran. Ini tamparan bagi mereka yang berakal dan merasa punya nurani. Ini tamparan bagi kita semua.

Islam