23 Nov 2014
16 Nov 2014
#Keluarga Ketiga
Saya selalu percaya bahwa hakikatnya, manusia memiliki hak2 untuk bisa hidup sendiri. Membangun paradigma sendiri, visi, dan ada kalanya kepentingan bersama itu mengusik waktu luang kita untuk bisa membangun segala mimpi dan cita cita.
Di bangku kuliah ini mengajarkan saya banyak hal. Pada hal yang terlalu banyak..
Untuk membuka mata melihat kehidupan. Untuk membuka rasa dan berbagi kisah. Untuk membuka wawasan bahwa kita adalah makhluk sosial. Pelabuhan akhir kita adalah keluarga. Pada keluarga tempat kita menghela nafas, menyenderkan pundak, berbagi keluh kesah, canda tawa. Pada keluarga keluarga kecil yang perlahan bisa terbuka. Pada keluarga baru yang perlahan bisa saling mengakrabi. Yang mulai merekatkan kisah dan cerita antar kita dalam sebuah ikatan satu atap.
Untuk membuka mata melihat kehidupan. Untuk membuka rasa dan berbagi kisah. Untuk membuka wawasan bahwa kita adalah makhluk sosial. Pelabuhan akhir kita adalah keluarga. Pada keluarga tempat kita menghela nafas, menyenderkan pundak, berbagi keluh kesah, canda tawa. Pada keluarga keluarga kecil yang perlahan bisa terbuka. Pada keluarga baru yang perlahan bisa saling mengakrabi. Yang mulai merekatkan kisah dan cerita antar kita dalam sebuah ikatan satu atap.
Keluarga pertama saya adalah orang tua. Ya, keluarga asli. mereka tempat saya harus terus membenahi diri menjadi pribadi yang bisa membanggakan mereka.
Keluarga kedua saya adalah asrama. Asrama tempat saya terbina dan belajar membina. tempat saya belajar cara menjadi seorang yang saling menghargai, mencintai, berbagi. Dan yang terpenting adalah memuliakan mimpi menjadi seorang ibunda para ulama. Tempat saya menanggalkan mimpi menjadi seorang hafizah. Indah sekali, bukan?
Keluarga ketiga ini sederhana, namun bermakna. Ini bukan sekadar lembaga formalitas tempat sebuah alur birokrasi riset dan edukasi berlalu. Lembaga ini berpayungkan kekeluargaan. Bercirikan nuansa keakraban.
Namanya Lingkar Studi Sains. Saya mengenalnya di awal kepengurusan maba. Awalnya pun, bergabung dalam lingkaran seperti ini tanpa banyak pikiran. sebatas intuisi seorang maba yang mencoba membuka wawasan, memandang dunia dalam perspektif yang luas.
Ini adalah tempat kami berkumpul, melingkar, membuka wacana, berdiskusi, bertukar pikiran, berbagi rasa. Atap kami sama. Atap yang rindang, yang amat meneduhkan. Mereka berasal dari beragam jenis. Ada yang inspiratif, ada yang prestatif, totalitas, sampai yang galau, rempong, atau konyol. Itu yang namanya suasana kekeluargaan, ya? Saling berbagi sifat dan sikap.
Saya rindu masa itu. pertama kali diperkenalkan dalam forum kecil beranggotakan 16 orang. Sore hari di lobi rektorat. Saat itu, saya menyebrangi zebra cross jalan, berlari kecil menyadari keterlambatan saya. Pertama datang bersama keluarga itu, cemas was was. mencoba menjaga sikap. Mereka akan menjadi rekan kerja saya selama satu periode penuh. Untuk sebuah cerita yang akan dibukukan dalam kisah baru dalam notulensi kehidupan saya. Mengamati satu per satu pada wajah-wajah baru. Beberapa ada yang sudah dikenal, beberapa lainnya agak asing. Beberapa wajah tersenyum sumringah, ada juga yang serius khidmat mendengarkan. Saya bersikap datar, tapi hati membuncah senang.
Sang pemimpin bertugas sebagai protokol yang memimpin kami dalam satu dekade kepengurusan. Pada semangat dan totalitas beliau, pada pembelajaran karakter dari refleksi seorang ketua yang sabar dan totalitas. pada sebuah pengorbanan dan pengabdian. Pun dengan teman2 lainnya. pada kontribusi tiada henti. Pada sebuah cerita hangat di tiap proker yang kami lalui.
3 bulan terakhir menjadi agenda terpadat kami. Pada sebuah rangkaian program kerja yang memadat di akhir kepengurusan. Sedikti banyak, saya justru lebih bersyukur akan itu. Karena dari kepadatan itu, memaksa kami untuk lebih intens untuk bertemu. Lebih akrab untuk bisa mengakrabi rekan yang lama tidak disapa. Atau mempererat persaudaraan pada mereka, rekan seperjuangan. Berbagai agenda yang kami lalui semakin berwarna. Seperti ranger atau pelangi, yang penuh warna. Di akhir periode ini, kami semakin
Pertengahan desember ini adalah sebuah momentum besar, ya? tempat seluruh cerita itu seharusnya berakhir. Sebuah ikatan kekeluargaan memang tidak selayaknya berakhir begitu saja. Namun, sebuah formalitas memaksa kami menghentikan seluruh rangkaian pertemuan dalam agenda program kerja. Sebuah alur kaderisasi memaksa kita untuk melengserkan sebuah jabatan dan mengamanahkannya pada mereka yang bertanggung jawab. Apakah itu akhir sebuah kisah kekeluargaan kita? Semoga tidak, kawan. Saya sedang sendu, memikirkan akhir cerita kita.
Ada satu hal yang menjadi masalah bagi saya. Sulitnya mengungkapkan perasaan pribadi. Jika rasa ini bisa ditumpahkan dalam luapan emosional kerinduan yang begitu membuncah, ingin rasanya bisa berbagi dengan yang lainnya. Hingga mereka bisa tahu kecintaan yang bercampur dengan rasa duka. Yang saya yakini, semua PH PI pun akan merasakan hal yang sama pada setiap periode kami menceritakan kisah kami. Dalam sebuah buku kecil. di Keluarga kecil bernama LSiS ini.
Bukankah, mimpi kita terlalu indah untuk bisa diabaikan? Atau ingatkan, kawan? Pada semangat kontribusi kita yang terlalu sayang untuk dihentikan?
Semoga doa dan perjuangan kami selama ini untuk sebuah keluarga kecil bisa terbang mengangkasa, hingga semesta mengamininya.
Semoga kontribusi kami bisa membumi, menerbangka asa asa, seperti bunga dandellion yang menyebar, menebarkan inspirasi untuk sesama.
Semoga ikatan kami tak lekang oleh waktu.
Sungguh.
Untuk sebuah keluarga kecil kami,...
Keluarga LSiS.
#salam KPK!
17 Okt 2014
/Dua Ibu/
In #DS

Ada dua konotasi saat kita
menyebutkan ibu.
Satu, adalah orang yang
melahirkan dan memberimu kesempatan untuk hidup secara layak. Dua, adalah
mereka yang membekalimu seperangkat properti kehidupan tempatmu bisa bercermin
tentang akhlak.
Aku mendapatkan kedua hal tersebut
dari ibu pertama.
Beliau adalah semesta kehidupan
tempatku berlabuh di pangkuannya. Pada kehidupan dinamis kota metropolis yang
serba hedon dan skeptis, Beliau adalah matahari bagiku. Aku ingat betul
belaiannya yang dengan lembut menyisir rambutku. Senyum lelahnya setiap kali
pulang mengajar dari kampus. Aku terkenang masa dimana beliau berdiri di podium
mempresentasikan penelitian beliau. Aku berada di barisan terdepan, duduk
tersenyum membesarkan jiwanya. Aku hafal betul tartil Beliau senantiasa
mengiringi tidur malamku. Atau ceramah Beliau di pagi hari menjelang mengisi
kajian di majelis ilmu. Aku duduk menyimak dengan baik, seolah tahu –meski
hanya memberikan anggukan atau senyuman.
Sungguh. Beliau adalah matahari
bagiku.
Tidak pernah terpikir bagiku
untuk mencitrakan sosok Ibu sekaliber Beliau. Di zaman seperti ini, terlahir
dari keluarga seperti ini saja sudah merupakan karunia luar biasa. Karenanya,
belum pernah terpikir sedikitpun bagiku untuk mencari sosok ‘ibu’ lainnya.
Ini hanya segaris perspektif dari
santri yang belum mumpuni, namun mulai terbuka hatinya untuk ta’dzhim pada
guru.
Bu nyai adalah sosok yang qowy.
Beliau pendidik dari kalangan terdidik tradisionalis. Dari gaya pengajarannya.
Orasinya mengisi kelas. Totalitasnya dalam setiap kegiatan. Beliau pernah
pulang ke pondok jam 2 pagi mengantar rombongan tamu dan bangun tidur jam 3
untuk membangunkan shalat tahajjud. Perfeksionisnya hingga menyambut majelis
kajian hingga memperhatikan standar kerapihan susunan sandal hingga motor.
Mengajarkan pada kami cara melipat sajadah, atau membersihkan kompor. Untuk
bisa senantiasa tersenyum dan ikhlas. Menginternalisasi rasa kesyukuran dalam
setiap peristiwa kehidupan.
Beliau adalah pengasuh asrama tempatku bermukim sekarang.
Darush Shalihat.
Ada banyak cerita di sini. Ini
bukan tentang euforia hidup, tapi pada proses menuju sholihah. Tentang bagaimana
sekelompok mahasiswa menjadi generasi terdidik yang berakhlak. Kurikulum hidup
kami pun membahas pada pusara kehidupan. Bagaimana etika pada orang yang lebih
tua, adab menuntut ilmu, fiqh kehidupan, hingga kode etik menjadi ibunda para
ulama. Terlalu banyak cerita untuk dikisahkan di sini.
Ya. Terlalu banyak, ya.
Barangkali, cerita ini hanya segaris kisah hidupku yang bersinggungan dengan Beliau. Pada caranya berbicara, pada senyum sumringahnya, pada perkataannya yang menghujam siapapun untuk segera berbenah diri. Beliau adalah sosok yang akan menjadikan seseorang merasa istimewa di matanya. Begitu istimewa sehingga aku mencoba berproses untuk lebih menta'dzhimkan diri padanya.
14 Sep 2014
Cerita Masa Depan
Senandung
lagu sinden terdengar, meliuk mengalun indah mengiringi proses
pelaminan. Pasangan muda itu duduk berdua dalam kursi pelaminan yang
disoroti banyak mata dalam penjuru pandangan. Memulai prosesi syahdu
dalam suasana khidmat adat Jawa.
Mereka
duduk seragam. Berbalut batik jawa berwarna merah bermotifkan
kembang. Sang pria menganggalkan keris pada sarung yang
diselempangkan pada sepanjang lingkar pinggang. Memakai tuksedo hitam
licin ala Jawa. Sang pengantin wanita lebih heboh lagi. Pipinya
tampak merona dibalut make up tebal dan rambutnya dihisasi
bunga melati menggantung seperti kuncir rambut, dipoles dengan
konde besar. Menata diri seelok mungkin di depan suami pilihan.
Sambil
beranjak bersamaan, beriringan melangkah menuju wali mereka.
Membungkukkan diri, ta’dzhim di depan sesepuh. Sesekali
memejamkan matanya, sang perempuan merunduk khidmat. Dibisikilah
mereka wasiat sebelum membangun sebuah peradaban baru. Wasiat sesepuh
untuk pasangan yang masih hijau itu.
Lelaki
tua itu adalah ayah dari sang istri. Beliau duduk bersahaja. Tubuhnya
tegak dan tegang, berlama-lama menatap nanar sosok ayu berbalut
kebaya merah yang duduk bersimpuh di hadapannya. Tangan lembutnya
memegang sang ayah. Sementara sang ayah mengusap-usap kepala anaknya,
seolah itu kali terakhir ia masih diberi kesempatan memiliki gadis
kecil tempatnya menaruh semesta dan kehidupan.
Betapa
mudahnya seseorang yang kau kenal bisa lepas dari hidupmu setelah
melalui ikatan suci. Meninggalkanmu dan memori tentang masa kecilnya
denganmu. Saat kau sedih, marah, tertawa. Tawamu adalah
kebahagiaannya. Tangismu adalah kesedihannya. Hidupmu adalah
jiwanya.Tentulah ada secuil pikirannya terbersit penyesalan melepasmu
untuk diberikan kepada seseorang yang sudah kau pilih. Ia yang telah
merebutmu. Membawamu pergi setelah lelah kau didik hingga dewasa.
Tidak.
Atau barangkali tidak. Kulihat seksama. Air matanya memang
menggenang, matanya memang memerah, atau isaknya memang terdengar
samar. Tapi wajahnya cerah, tersenyum. Itu adalah air mata
kebahagiaan, kawan. Itu adalah ungkapan dari perasaan lega dan
keikhlasan menitipkanmu pada orang yang engkau yakini sebagai pilihan
terbaikmu. Begitu lega rasanya sampai air mata itu mati-matian ia
tahan dan senyum itu mati-matian ia kiprahkan. Seolah mengatakan,
“berbahagialah sana... Kebahagiaanku ada dalam setiap
kebahagiaanmu,...”
Tanpa sadar terbawa suasana. Lama aku memandang mereka lekat-lekat. Bukan antara sang Kekasih baru, tapi pada putri dan rajanya. pada dialektika mereka dan menerka memori pada linangan air mata yag tertuang.
Barangkali, akan tiba masanya kau adalah
dia, dan sosok tegar itu tak lain adalah orang yang kau kan kenal betul
selalu tampak heroik dalam perspektifmu. Barangkali, kau akan melihatnya terharu biru.
‘Kapan’ itu, ada masanya. ‘Siapa’
itu, biarlah Paduka yang mengurus. Paduka adalah orang
yang sangat bijaksana untuk menentukan nasib hambaNya.
Tapi aku tahu satu
hal. Jika saat itu tiba, barangkali aku tak akan mampu melihat sosok
di hadapanku untuk kali apapun itu.
11 Sep 2014
Jangan Percaya Fisika
Ilmu
fisika itu berangkat dari pemahaman segala pola yang ada di alam semesta. Pada
keyakinan bahwa segala hal yang terjadi dapat direpresentasikan secara
matematis. Dapat dikaji. Pokok
kajiannya pun berangkat dari hal sederhana. Mengamati lingkungan sekitar.
Sehingga pada dasarnya, objek pembelajarannya sama. Realitasnya sama. Yang
berbeda dari kurun waktu ke waktu adalah bagaimana manusia memberikan sebuah
konsep pemikiran yang berbeda.
Pada
permulaannya, dogma masyarakat berada dalam fase mitologi. Munculnya berbagai
kisah dalam mitologi Yunani memiliki sebuah alasan kenapa mitos tersebut
kemudian muncul di tengah masyarakat. Sehingga kondisi masyarakatnya mencoba
membuat sebuah alasan logis dalam terciptanya fenomena tersebut. Parameter
logisnya demikian.
Tokoh
Aristoteles muncul membangun lapangan logika. Pasca peradaban filusuf
aristoteles, tokoh fisikawan lainnya muncul, memadukan filsafat dalam fisika. Membawa
manusia pada serangkaian kerangka berpikir yang logis.
Konsep
fisis pada akhirnya disajikan dalam dunia nyata. Hingga kemudian berkembang terinternalisasi
pada kehidupan sehari-hari. Kenapa saya katakan terinternalisasi?
Jikadiajukan
sebuah pertanyaan, “mengapa batu lebih dulu jatuh ke bawah dibandingkan dengan
burung?”. Wajar kemudian, jika orang dahulu akan menjawab bahwa kecenderungan
batu pada unsur bumi lebih besar dibandingkan dengan burung yang punya
kecenderungan unsur udara. Sebaliknya, masyarakat sekarang akan lebih memilih
jawaban “karena ada gaya gravitasi”
Sederhananya
begini. Untuk apa saya menjelaskan panjang lebar sejarah dan fase dalam
perkembangan logika manusia dalam membentuk sebuah pola pikir.
Sebagaimana
ilmu fisika mengulas berbagai fenomena –mikro hingga makroskopis pada berbagai
pola yang terjadi di alam semesta. Tidak ada yang tidak bisa dijelaskan dengan
fisika, jika kita perlu berkata naïf. Segala hal mampu dijelaskan dengan
fisika.
Jika
sekarang kita berani mengatakan barang jatuh karena unsur bumi yang lebih
condong ketimbang unsur udara, kita lebih memilih alasan bahwa
karenaadanya gaya gravitasi, dan itu masuk dalam nalar kita. Kita mampu
menjelaskan fenomenapada pesawat terbang karena beda kecepatan dan tekanan
antara penambang atas dan penampang bawah pada sayap pesawat terbang, dan itu
masuk dalam nalar kita.
Sampai
pada tataran kita menyelami lebih lama pada dunia fisika, boleh jadi kemudian
kita berkesimpulan bahwa tidak ada yang tak mampu dijelaskan oleh fisika,
termasuk kebenaran yang hakiki. Hal
ini pula yang kemudian dilansir bahwa saintis kemudian lebih memilih atheis
ketimbang beragama. Karena keyakinan mereka bahwa segala hal mampu dijeaskan
dengan ilmu pengetahuan.
Jika
kita disuguhkan fakta, mana yang akan lebih kita percayai. Apakah karena suatu
kekuatan mistis yang menyebabkan benda jatuh ke bawah, ataukah karena adanya
percepatan gravitasi? Bagaimana
planet yang sedemikian besarnya mampu bergerak secara teratur mengitar matahari
dalam sistem tata surya? Akibat dari gravitasi yang menyebabkan kelengkungan
ruang-waktu dalam alam semesta, atau karena kehendak Tuhan yang menciptakannya
sedemikian rupa sehingga mereka bergerak dalam harmonisasi dan keteraturan yang
luar biasa indah?
Mereka
lebih memilih berseru bahwa segala hal mampu dijelaskan dengan ilmu
pengetahuan! Tak perlu campur tangan Tuhan dalam proses penciptaan alam
semesta.
Analoginya
begini.
Dalam
fisika, terdapat postulat. Atau dalam bahasa matematikanya disebut conjecture.
Suatu ketentuan yang jika ketentuan itu berlaku, maka berjalanlah hukum
tersebut. Semisal pada relativitas umum, postulatnya adalah bahwa cahaya dengan
kecepatan sebesar 3x10^8 m/s adalah kecepatan tercepat. Jika tidak berlaku, seluruh rangkaian pembahasaan dalam postulat berikutnya tidak akan berlaku. Begitu cara kerjanya.
Sama
dengan konsep dalam keTuhanan. Bahwa dalam beragama, terdapat rukun Iman. Bahwa
selayaknya kita mengimani keberadaan Allah sebagai Tuhan, nabi Muhammad sebagai
Rasul utusan Allah. Jika mengimaninya,
Anda adalah seorang muslim.
Na’udzubillahi
min dzalik.
Saya
teringat dua ayat yang kemudian menjadi sangat esensial bagi setiap nawaytu saya
dalam beribadah di jalan menuntut ilmu ini. Bahwa sekehendaknya, dalampergiliran
siang dan malam, terdapat tanda-tanda kekuasaanNya bagi orang-orang yang
berakal. Ini postulat kita. Termaktub dalam al-Quranul karim. Bahwa
ketika Allah berkata inni jaa’ilun fil ardhi khalifah (menjadikan
manusia sebagai khalifah di muka bumi), kita diberikan sepaket amanah. Amanah
akal untuk berpikir, jasmani untuk memimpin, dan ruhani untuk berdzikir (tafakkur
dan dzikr [al-imran : 91]). Menjadikan setiap perilaku alam semesta sebagai bahan observasi
untuk dikaji dan difikirkan. Tafakkur.
Pertama.
Sekonyong-konyongnya
kita berkata, “serangkaian proses belajar yang menguras usaha dan waktu.
Berujung pada kesia-siaan belaka ika kemudian kita tetap berserah diri pada
sesuatu yang Ghaib?”
Sama
seperti rezeki berupa kesehatan.Setiap manusia sudah diatur hidup-matinya oleh
Sang Pencipta. Sudah tertulis pula di lauhul mahfudz. Adalah kewajiban
bagi kita menjaga kesehatan, baik jasmani maupun ruhani. Terus untuk
apa, toh hidup mati tetap di tangan Tuhan?
Ini
masalah usaha. mereka yang memang mau menjalani prosesnya, dalam bahasa Arabnya
disebut ikhtiar. Nilai ikhtiarnya menjadi amalan
tersindiri daripada orang yang enggan menjaga kesehatan sebagai nikmat.
Berkah dari Tuhan. Karena
saat tidak ada seorang pun yang beribadah pada Allah pun, Kanjengan tidak akan
rugi! Jika suatu kaum kafir terhadap Allah, apakah kemudian akan ada kerugian
pada diri Tuhan? Tidak! Yang Kuasa tidak akan rugi sedikitpun.
Kedua.
Bahwa
hakikat manusia yang sesungguhnya adalah bertumpu pada suatu Dzat. Maka
kesombongan manusia dalam mengatakan bahwa taka da segala sesuatu yang tak
bisa dijelaskan dalam fisika, maka kembali pada hal esensial seorang
manusia. Berlindung, bersandar. Kepada siapa? Mampukah sains memberikan
jawabannya?
Pencapaian
tertinggi dari akal dan kebenaran terdalam dari hati adalah pada Sesuatu Yang Mengatur.
25 Agu 2014
Atonement
Atonement
Especially to whom
i ignored.
First of all, I do
apologize. Despite this rhetoric posting wont represent my deepest apologize.
Let me make some
kinda intro. As it begins my elaboration from my friends statement. Once, she
told me, that ive a numbers of talent and show me why. But none of them i focus
to be, she told me so. At that moment i nodded and agree. But at the same time
i didnt evaluate it.
Indeed, several
times I often inspired by a great figures with an awesome achievement.
Herwandhini, Iman Usman, Mariana Ulfa. They are fabulous person, arent they?
Having such a tons of achievement, makes some people wonder how could they
manage their own time while other focus on a single thing they’re tends to be?
I saw and highly appreciate on them, so then i think that i can be like them!
Surely it would show my own capacity and learn about time management.
Briefly, i intend
to follow their footsteps. Rather be the one i should be, but i inclined to
wonder be the one i intend to be, which it means i intend to be like
them. Ridiculous thought. Which recently i notice thats the reason why i didnt like the event
such as socialization of mapres or video self motivation, how to manage ur
time. It was intended to motivate people. But at this point, I do not need to
be motivated, but rather, resist the motivation for the sake of my own goodness.
I have join many
organizations, actively participated in many competitions. I passionly intend
to grab whole thing, endless nothing except a failure. Lingkar Studi Sains,
Gadjah Mada Mengajar, Forum Lingkar Pena, Gama Cendekia. At the first Im so
idealistic person, because my own intuition to give a contribution on every
kinda aspect. I love the realm of authorship, especially social contributions,
which continue my story in high school when i actively build social civil
organization.
It's just a story
about people who cannot manage their time and having such a consistent
thinking. And at the end, I know that im the lowest. At least, one thing left,is
LSiS. At least I'm still considered to
be the member of one organization.
Which i,
occasionally making some kinda sin. By making my own goodness as my priority
and leave their goodness to be nothing as an accessories.
At the exact date
of 24th august 2014, I ignored the important agenda of LSiS (syawalan), by did not
participate and nor making an excuses. I have a high priority in my own need,
which surely i know its much more important, bu still, i didnt take a
permission.
For the sins ive
made, i deeply apologize. By any change –and at any rate, still i know its
useless rather say it personally.
Whats exactly
happen yesterday is by my own intuition. Several days before, i got an
announcement of the finalist of some kinda competition. Social business
competition helds by nsbc. We got a chance to be a finalist in such a great
change. But right after the announcement, me and 2 of my friends which im sure
they’re such a bussy person with tons of appointment compare to me, weve met
and discuss this one. Which im not sure how could i spend much more time
compare to my prediction before. Discussed our new concept, having a report and
took a documentation in Bantul since about 8 o’clock right after adzan maghrib,
building a concept to make a teaser which committee of that competition give us
deadline up until 27th of august for the finalist as the requirement. In fact
for the next 3 days we’ll have such a crowded business. My friends with her
committe, others contribute in her place (KKN), and myself with my academic
responsibility.
Im afraid if then
by the time goes by, my intention changes day by day not to give such a
contribution value, but in a useless action to win. Its such a useless worry
since other able to handle it in such a good manner to express, or thing they
act. Forgive me if i say a rude thing.
So, let me evaluate
this one. This time I want to stop the old ideals embedded since i was newbie.
I've been ignoring LSIs, disrupt my own academic activities, and betrayed my
own willingness to be a writer.
How could i ask to
God to be the better one whom always consistent and to not ignoring other by
the sake of my own goodness only? Amin.
With a highly
respect to LSiS itself. I do apologize for my lack of participation in every
kinda –such a family event. At the exact date, (one of them) 24th august. The Social
business camp –which i follow, is sort of building such a social business. Our
intention at the very first time is to build a community thats able to employ
marginalized communities, cover it with a unique concept which we summarize in
our proposal. Unexpectedly, our proposal passes and become one of the finalist.
Right after that, we were given a bunch of tasks and give us such an unexpected
time to finish it.
For several times,
i said. Im afraid if then, by the time goes on, then my intention change and
i’ld become such a suck person giving no hope to other people which at out
first intuition is will be our object. Forgive us, to remind ourselves, straighten
out intentions.
A single day ve passed and I do felt such a suck person. For leave the
moment, I do apologize. For aint having such a good responsibility, I do
apologize. For the reason which I cannot express my sincere or melancholic
node, i do apologize since it just looks my sincerity didn’t goes well. To be
such a suck secretary, I do forgive.
And for my –unreasonable afraid to said personally my own sincere, I do
apologize.
I do apologize for
whole my sins. Forgive me by aint taking permission or give an excuses. Forgive
me if i said a rude thing.
Regards,
7 Jul 2014
setiap orang punya kapasitas masing-masing
Orang jahat itu
tercipta karena adanya orang baik. Orang zalim itu berkuasa karena ada yang
kita sebut orang adil. Orang licik itu berkapasitas karena ada cendekia
berintelektual yang kompeten. Mereka tercipta sebagai sebuah konsekuensi logis
dari kultur yang terbentuk dalam masyarakat. Ini hanya masalah istilah dan
konotasi, tempat kita menyebut Atas dan Bawah.
Bukan hanya kesalahan
orang zalim jika mereka hidup dan turut serta dalam menyumbangkan kontribusi kelaliman
kepemimpinannya pada semesta. Bukan hanya kesalahan pencopet jika suatu
kondisi ia mencuri dompet seseorang, padahal kondisinya masih berkecukupan.
Karena mereka mengimitasi latar belakang tempatnya dilahirkan. Yang berbeda
adalah pemahamannya tentang baik itu berbeda dari perspektif umum. Sumir
sekali jika kita hanya memandang dalam satu perspektif.
Izinkan pemikiran dangkal saya berkesimpulan bahwa bukan hanya kesalahan mereka yang salah dalam anggapan umum.
Yang salah juga
ada pada si orang baik yang mengaku diri baik. Mengkalamasikan kebaikan
dirinya meski hanya dalam hati. Melihat dengan jelas adanya kelaliman tapi
tidak memerah mukanya. Mengaku sebagai seorang alim namun tidak tergerak
hatinya saat melihat diskriminasi di lingkungan sekitar. Menganggap diri
seorang sufi, namun menzalimi diri sendiri dalam membagi waktu beribadah dengan
ihwal dunia.
Setiap orang punya kapasitasnya masing-masing, tak perlu diaklamasikan
supaya semesta tahu peranmu.
Setiap orang punya kapasitasnya masing-masing, jangan bersolek dalam
membuntuti orang lain supaya ikut menyempurnakan niat dan aspek dzahir perbuatanmu.
Setiap orang punya kapasitasnya masing-masing, cukup interaksi antara
kau dan Yang Maha Kuasa yang tahu.
Setiap orang punya kapasitasnya
masing-masing, tak perlu terusik jika orang lain berkata apa padamu. Toh, Yang
Maha Esa lebih tahu kebutuhan dan keperluanmu,
karena setiap orang punya kapasitasnya masing-masing...
Yogyakarta,
26 Juni 2014
4 Jul 2014
Dorman
Saya sedang dorman.Dipaksa
menjadi manusia yang tidak produktif.
Tanpa sadar, ada beberapa
kenangan masa kecil saat saya punya berjuta waktu nganggur untuk bermain
dengan tokoh khayalan, atau alat-alat rumah tangga. Sayangnya, waktu itu umur
saya 4 tahun. Keluarga saya belum punya laptop. Komputer pun juga belum. Motor
hanya ada satu, vespa biru tua kebanggaan ayahku sang guru teladan.
Saya sedang dorman. Dipaksa
menjadi manusia konsumtif.
Namun saya tidak suka diam
terbujur kaku. Kalau memang tidak bisa melakukan apa-apa, tegarkan suaramu
supaya orang lain tidak merasa bersalah saat meninggalkanmu. Tersenyum saja dan
bersikap baik.
Saya sedang dorman. Namun saya
punya serangkaian agenda.
Ini hanya masalah permainan waktu
kecil. Memainkan sakelar lampu sambil berusaha menyeimbangkan antara tombol
nyala dan hidup. Ada dua lagi seharusnya yang menjadi sahabat setiaku. Kulkas
dan pintu kamar. Saya akan bersuka cita untuk membuka-tutup pintu kulkas hanya
untuk melihat lampu kulkasnya perlahan mati dan nyala. Atau memainkan knop
pintu hanya untuk melihat knopnya masuk dan keluar secara perlahan. Tapi
sayang, kulkas di sini tidak ada lampunya dan kamar saya tidak ada knopnya.
Sakelar menjadi tempat favorit saya sekarang. Dan laptop saya yang semoga
terjaga kebermanfaatannya.
Masa kecil saya itu bisa
mendapatkan kebahagiaan secara sederhana, ya. Nggak muluk-muluk minta
dibelikan gadget. Boros. Mahal. Dan menyiksa mata.
Saya sedang dorman. Namun saya
masih punya kawan sejati, sakelar lampu yang setia menemaniku. Dan al-Qur’an
yang semoga saya bisa konsisten mengirimkan paket-paket pahala kepada yang
tercinta J.
19 Jun 2014
Antara Rasionalitas dan Kuantitas
In Dunia

Manusia punya
serangkaian sistem yang mereka sepakati tanpa suatu tinta hitam di atas putih.
Sistem yang terbangun tanpa perlu bermusyawarah dalam sebuah forum. Tanpa
sebuah lembaga birokrasi sebagai payung yudikasi dalam memastikan segalanya
tetap berada pada jalannya. Karena mereka memiliki sepaket rasionalitas.
Rasionalitas
yang membuat mereka paham antara baik dan buruk tanpa perlu membuat pedoman
garis besar haluan beretika. Bahwa menjenguk orang sakit itu perbuatan terpuji.
Bahwa mencuri itu akhlak tercela. Bahwa menggunjing orang itu sikap tidak
beretika.
Di sini rasionalitas
yang bertindak mengkomparasikan dua hal tersebut. Baik, jahat. Atas, bawah.
Kanan, kiri.
Karena
ketiadaannya suatu amandemen tertulis, maka nilai tersebut menjadi sangat
relatif dalam perspektif manusia. Yang ada hanya kuantitas yang bermain di
sini. Masyarakat minoritas akan mengikuti kultur yang menghegemoni sistem.
Masyarakat mayoritas bertindak sebagai pembuat peraturan. Kuantitas yang
berkuasa. Dan karena diversitas adalah suatu keniscayaan, sebuah toleransi
sering kali digantungkan. Fakta menjadi sebuah paradoks dalam bungkusan : “diversitas
menjadi nilai yang sering kita pahami, kita ketahui. Namun jarang bagi kita
untuk mencoba membuka ruang bagi mereka dalam menerima dan dibicarakan.”
Sebagai sebuah
konsekuensi dari eksistensi ‘diversitas’, yang namanya orang jahat, licik,
zalim itu pasti ada. Yang jelas, mereka semua adalah produk dari kultur tempat
mereka dilahirkan. Melekatkan mereka dalam rangkaian takdir yang menentukan
akan seperti apa mereka di masa depan. Mengikatkan dogma pada masyarakat bahwa
kontribusi tempat dimana kita lahir menjadi sangat esensial, dan
meluputkan pandangan bahwa dalam hidup ini, masih ruang untuk doa dan usaha
dalam berperan. Ini pandangan masyarakat kolot.
Ini sistem.
Jangan salahkan sistem. Sistem berkuasa di sini. Dan yang menjadi variabel
penentu sistem adalah kontribusi dari kuantitas. Kuantitas adalah
mayoritas yang berkuasa mengatur sistem.
17 Jun 2014
Mereka lebih beretika
In Hidup

Kadang, mereka lebih beretika
dibandingkan dengan kita.
Data BPS menunjukkan bahwa persentase
mahasiswa di Indonesia hanya pada kisaran 2% dari total penduduk di Indonesia. Akan
jauh lebih sedikit jika dikerucutkan menjadi golongan masyarakat cendekia yang berakhlak
dan bermoral. Lebih sedikit lagi bagi
golongan mahasiswa yang mau berkontribusi aktif di masyarakat. Yang sadar dan
peduli akan perannya di ranah sosial. Yang tidak secara egois mementingkan pemuasan
kebutuhan pribadi.
Perkenankan saya menggores pena,
menulis kisah ini.
21:57 WIB.
Saya baru saja pulang. Baru saja.
Dari tempat biasa saya mengajar pengajian ibu-ibu, memperbaiki bacaan Qur’an
mereka di salah satu masjid yang berlokasi tak jauh dari asrama tempat saya
berteduh. Bersama sekelompok teman-teman satu ukhuwah.
Asrama kami adalah asrama
mahasiswa. Sebagaimana saya sebutkan pada introduksi. Kami adalah sekelompok
mahasiswa yang alhamdulillah telah diberikan kesempatan untuk menuntut
ilmu sedikit lebih lama, mendapatkan kapasitas intelektual yang sedikit lebih
banyak, dan kondisi iman yang sangat butuh pemfasilitasan *dan karena itulah
kami bermukim di asrama hanya untuk meneguhkan iman kami.
Kami baru pulang dari pengajian,
saat berlalu dalam perjalanan yang hanya memakan waktu beberapa menit dari
asrama. Hendak menyebrang jalan, saat melihat sosok bapak berpakaian kusam.
Tidak banyak mengamati, saya langsung saja berlalu. Entah dimana saat itu
rasionalitas saya pergi.
Sampai di seberang jalan, teman
mengobrol saya menoleh menyatakan rasa ibanya. Baru saat itu saya dibuka
matanya dan disadarkan nuraninya. Saya
mengamati di seberang jalan itu, bapak tersebut hanya berlalu.
“Muthi’ah,..” seruku pada seorang
teman yang ada di depanku. “boleh kuminta makananmu?” aku menimpal tanpa
logika, refleks berkata demikian. Ia langsung saja menyanggupi dengan ramah.
Begitu pula temanku yang ada di
belakang, rupanya ia memiliki intuisi yang sama. Kami langsung kembali
menyebrang dan mengejar si bapak yang tak jauh langkahnya, tertatih dibantu
tongkat kayunya berjalan tanpa alas.
Ia berbalik, menoleh pada kami.
Aku lebih miris memandangnya. Kami memaksakan kilah senyum kami, seraya
menyerahkan beberapa bungkus makanan yang baru saja kami dapatkan dari
pengajian. Ya Allah, semoga ini membantunya,.. Rezeki tetaplah di tanganMu.
Ini bukan kisah heroik dari sosok
mahasiswa yang memberikan sebungkus makanan pada orang yang dianggap
membutuhkan. Bukan pula kisah anak muda yang berlari mengejar pahala untuk
berkontribusi secara sosial. Sama sekali
bukan.
Sama sekali bukan.
Tapi, ini adalah tamparan untuk
saya. Termasuk untuk pembaca, barangkali jikalau sekali-dua kali pernah
mengalaminya.
Kadang kita menganggap remeh hal
kecil yang kita lakukan.
Merasa pernah untuk perlu
diibakan orang lain? Sering meminta tolong sesuatu yang masih dalam batas
kemampuan kita?
Sekali lagi, ini tamparan buat
saya pribadi. Baik saya maupun pembaca.
Kadang kala kita merasa
membutuhkan uluran tangan orang lain untuk hal sekecil apapun itu. Untuk menuntaskan
hal sepele. Untuk mengerjakan hal yang mampu kita kerjakan. Mereka yang bertaruhkan
antara kelangsungan hidupnya, enggan untuk meminta. Mereka lebih beretika. Meski
mereka tidak lulus secara edukasinya, tapi mereka tampaknya lebih paham cara
beretika.
Barangkali sang bapak melihat
dengan jelas sekelompok anak muda yang berlalu, ngobrol dengan asiknya dalam
jalannya mereka, menggenggam sebungkus makanan. Ia diam saat kami melewatinya.
Memperkenankan kami. Dan bodohnya saya hanya selintas melihatnya, tanpa
terbesit rasa apapun, kalau bukan teman saya tidak menyadarkan saya.
Aish, saya menuliskan ini dengan
penuh emosi. Emosi yang sulit dilebur menjadi satu hingga menimbulkan berbagai kontradiksi
dan konotasi yang barangkali membingungkan pembaca. Perasaan saya sedang kacau.
Yang jelas, masih terbayang dengan jelas wajah bapak itu. Klise saat kami
menyerahkan bungkusan tersebut. Jemari kaki beliau. Kemeja lusuh yang beliau
kenakan. Celana pendeknya. Sorot lampu malam saat mobil-mobil berlalu. Ataupun suara
‘terima kasih’ berkali-kali yang beliau utarakan.
Ini bukan fiksi. Ini nyata. Tokoh
bapak tersebut pun bukan sekadar retorika. Mereka adalah masyarakat marginal,
kaum terdiskriminasi yang sering kali kita abaikan. Hikmah ini juga bukan
sekadar teguran. Ini tamparan bagi mereka yang berakal dan merasa punya nurani.
Ini tamparan bagi kita semua.
15 Jun 2014
gaji pertama
Belakangan ini, saya merasa bahwa idealisme saya semakin rontok termakan oleh realita. Ya, saya paham ini adalah dua oposisi. Yang saya yakini hanya gelap konotasi dari ketiadaan cahaya. Hitam berarti ketiadaan putih. Namun saya belum percaya jika memang idealisme adalah ketiadaan realita? Koreksi saya jika memang demikian sehendaknya.
Tepat kamis, 12th Juni 2014 adalah hari dimana saya mendapatkan gaji pertama saya. Bukan sebagai pegawai perusahaan. Atau juru ketik nasional. Atau tukang kalkulasi tugas kantoran. Hanya sebagai tentor. Mahasiswa yang merangkap menjadi seorang tentor. General, bukan? Sangat biasa, iya.
Hari itu, saya goreskan pena pada selembar kertas untuk ditanda tangani. Masam. Saya mendapat sejumlah uang dengan kilahan senyum dan ucapan terima kasih tak terhingga dari beliau sang orang tua. Saya balas tersenyum Menyesakkan.
Pesimisitik sekali?
Tidak. Sesungguhnya tidak. Yang saya rasakan hanya kala itu ada dorongan untuk mengatakan, "tidak. saya memang mengajar ini dengan ikhlas, bu,..." Itu yang sungguh ingin saya katakan. Namun, saya sadar diri, saya pantas menerima dari hasil usaha saya semalam larut mempelajari materi sebagai bahan ajar. Bersabar dan tersenyum selama proses itu. Dan memang benar saya sedang dalam kondisi membutuhkan itu. Selalu saja dapat menemukan sebuah alasan untuk menerima uang tersebut.
Bukan itu yang saya soroti, kawan. Namun ada esensi dimana, keberkahan itu dirasa tidak diterima. Meski harus saya akui, selama prosesnya, saya kerap kali disorientasi. Membayangkan pada apa yang akan saya lakukan dengan sejumlah uang tersebut.
Saya memang tidak seperti mereka. Iman saya masih sangat lemah. karena itu pula, saya mundur dari panggung ini, dan kembali menjadi orang biasa.
I was born in the metropolitan city of Indonesia, Jakarta. I was living around educated people, in a comfortable family, which I called 'my comfort zone'. I was a senior high school student when my world gets wider and clearer. I’m able to see the differences between how I live and how those who swept the road, or sell newspaper in the road traffic live. Those people are fighters who work hard to make a living to ensure that they’ll have food in their stomach that day.
I was still attending grade 2 of high school when my
friends and I founded a charity organization “Pondok Matahari”, a
non-governmental organization which is located in a slum area in Pondok Ranji,
Bintaro, Tangerang.
It was on December 9th
of 2011, when we set our foot down on muddy footpath, through various steps of
land, and paddy field to reach a slum area amidst the densely populated capital
city. There were rows of houses with concrete floor. Each of its front yards is decorated with a
mountain of garbage. The food vendors
jammed their wares in between mud puddles. All of it is
a reasonable view of the metropolitan
city, where the sovereign society live off of the suffering of marginalized people.
The atmosphere of the
capital is always ablaze with dynamism, and discrimination, and ignorance.There 's a certain trend
flourishing amongst the metropolis in Indonesia. They build splendor buildings as though they cannot see a slum area just several minutes away.
The growing group of young people are
apathetic to charitable actions and
are more interested on their personal satisfaction, an inclination that makes their sense of charity to be pathologically ignored.
In an attempt to better
understand these issues, I’m wondering, “what’s wrong with the system?”
considering that as an archipelago, Indonesia has a very diverse population, as well as having the culture of tolerance and
community work.
Firstly, the realization that humans are social beings. It is impossible for an individual to stand alone without
relying on others, and it is simply
impossible to be a person who's not going to need others’ help.
Secondly, we realize that caring
for others is very substantial in life. Ignorance can be seen when parents’ disregard their
children’s need for education for the sake of helping
the family financial affairs. Ignorance also leads to
discrimination and intolerance in this world.
The interesting thing that I’m trying to highlight is, that we cannot conclude that Indonesia was hit
by a crisis of concern.
Fortunately, a batch of younger generation who actually
care and
willing to contribute begins to manifest. There are a number of social-humanitarian
organizations that have been established by young scholars, just
like Pondok Matahari. People who do and actuate an attempt. Those who
observe and not only criticizing rhetorically, but also actively involved as an agent of change. Those who are unwilling to become the 'casualties of today's
society'.
Pondok Matahari was
originally founded by four people. The first four
months are the most difficult phase for
us and other volunteers to try to give the best contribution. We wanted to facilitate them as best as
we could with meager financial aid that we, as students at that time, can provide.
All of the hard works we
did are finally paid back when we were finally able to launch a big event with
the help of other social humanitarian organizations. We were finally
financially independent after going through a time of hardship. I believe that
the contributors who help us also have their own inspiring story.
It proves that the culture
of community work has not disappeared in Indonesia. People are still concerned
with others, and it proves the lack of apathy in the society. People who do not
care and are not touched their conscience to contribute when they see the
circumstances around them will create discrimination. We can even say that
discrimination is the consequence of people’s ignorance.Thus, an initiator has an important role to make others aware of the
importance of contributing, stripped of their personal interests.
In conclusion, even if we are just
one of the few people who care and are able do something, take it as a personal role to ignite
the spirit of contributing in others.
14 Jun 2014
Maaf. Saya belum bisa menjawabnya.
Beberapa hari yang lalu saya
bertemu dengan seorang teman. Teman yang
suka saya ajak berdialektika, membentuk forum diskusi dalam membahas pergulatan
pikiran pada kondisi sekitar. Dia adalah satu dari beberapa orang yang memang
saya terbuka untuk berbagi wawasan. Saya belum cukup ilmu untuk menahan emosi
pada beberapa orang. Atau belum cukup kata untuk berdebat bagi yang lainnya.
Saya hanya mencoba membuka forum yang Sali bertoleransi satu sama lain.
Tafakkur, berpikir memandang alam
semesta pada bagaimana semesta bergerak secara dinamis dan mencoba berdiskusi
bagaimana menyikapinya secara bijaksana. Tafakkarun fi khalq as-sama wati
wal ardh (berpikir pada pergiliran siang dan malam).
Teman ini adalah teman lama. Lama
karena sudah beberapa bulan sejak aku berdiskusi dengannya. Dan di tengah pergulatan saya menguzlahkan
diri untuk mencari tempat nyaman bereksplorasi di dnia virtual,rupanya si teman
ini sedang mencari sosok saya untuk berdiskusi.
Dalam pandangan saya, dia adalah
sosok dengan pemikiran fleksibel. Hal ini pula yang diterka oleh beberapa orang
*dimana ia curahkan perasaannya kepada saya, bahwa pemikirannya pernah
dijustifikasi oleh sebagian orang sebagai* pandangan liberal. Soal apa? Saya
pikir pembaca bisa menerka sendiri mau dibawa kemana topik bahasan saya kali
ini.
Di tengah perbincangan kami dalam
siang yang lenggang, ia bertutur. Ada satu aklamasi yang membuat saya sungguh
tertekan, dan itu yang jelas, paling saya ingat betul.
Ketika ia melakukan perbincangan
dengan kiai di pesantrennya, “Kalian bangga sebagai orang Muslim. Bangga
berpayungkan Islam. Memang apa sih yang kalian tahu tentang Islam? Sudah berapa
kali syari’at yang kalian amalkan dan kalian langgar? Islam kalian itu
sesungguhnya hanya Islam turunan. Islam dari orang tua. Coba renungkan, jika
kalian lahir di lingkungan keluarga non-Islam, toh kalian pasti tidak
beragama Islam sekarang. Iya, kan?”
Na’udzubillahimin dzalik.
Saya tidak mencoba mengajak
segenap pembaca siapapun itu untuk melakukan evaluasi diri. Bergegas menuntut
ilmu di agama seberang sambil berguru pada pak kiai sebagai proses muhasabah
diri. Tidak, sesungguhnya tidak. Silahkan kalian berasumsi apapun.
Saya hanya berpikir. Coba
cermati, dan sikapi sebagaimana seorang berintelektualitas bersikap, menanggapi
perspektif yang berbeda.
Sering kali kita memperjuangkan
sesuatu tanpa suatu landasan yang kuat. Hanya karena terbawa arus dan emosi.
Terbawa kultural dan bawaan budaya. Saya sepakat jika kita harus bergerak, atau
tergantikan. Harus memperjuangkan prinsip kita hingga panji kemenangan itu
dalam genggaman. Atau konotasi lainnya yang mampu memberikan gambaran heroik
seberapa besar urgensi mempertahankan prinsip itu kita internalisasi.
Tapi kadang kita sampai luput dari
substansi yang seharusnya menjadi asas. Apa yang kita perjuangkan?
Benarkah itu layak diperjuangkan? Bagaimana dengan perspektif orang lain,
apakah tidak layak, coba untuk kita pahami dan didiskusikan secara baik-baik?
Kita ini negeri pancasila,
katanya. Yang bunyi sila ke-empatnya ; permusyawaratan perwakilan. Kalau Kiai
Musthofa Bisri sering menganalogikan agama seperti sebuah jenjang pendidikan.
Si kelompok SD SMP punya kontribusi lebih besar dari segi kuantitas. Selain
itu, mereka juga turut berkontribusi aktif dalam memperjuangkan hal yang
mengambang. Artinya, mereka masih belum cukup ilmu dalam memperjuangkan itu,
sehingga mengaklamasikan pernyataan retoris, yang hanya cukup mengubah intonasi
untuk terlihat seolah heroik.
Saat itu memang saya belum mampu
menjawabnya. Namun, jika kemudian satu malam pikiran ini terbesit dibenak saya,
barangkali saya akan menjawab,
“maaf, saya belum punya cuup ilmu
untuk menjawab pertanyaan itu. Namun yang saya tahu, sejak kecil lingkungan
mendidik saya untuk senantiasa bersyukur akan nikmat Islam. Karenanya setiap usai
shalat, berdo’a pada sang Kuasa, nikmat Islam ”
Inilah nikmat yang sering kita
lupakan. Kita terlalu tsiqah pada takdir, atau taqlid pada satu pendapat sampai
memuaskan ruhani kita pada fakta kita orang Islam hingga lupa bersyukur
padanya? Ini juga sebagai bahan refleksi kita bersama.
Menginternalisasi Keberkahan
Saya punya teman. Sebut saja Azza.
Azza itu unik. Ya, unik dari perspektif saya. Dia adalah produk imitasi dari bagaimana masyarakat dan budaya metropolitan membentuk karakternya, sedemikian rupa sehingga dari segala atribut kebanggaan, gaya bicara, dialektika tempatnya bergumam, maupun topik diskusi berbau metropolis. Tanpa sadar, saya yang kebetulan duduk bersebelahan dengannya terciprat kultural ini.
Saya paham dari ceritanya saat dia mengalir. Ada hal yang merupakan kelebihan darinya dan selayaknya ia banggakan. Hal yang akan meninggikan derajatnya begitu indah dalam pandangan akhirat. Ini bukan testimoni dari refleksi kiamat. Bukan. Tapi ini adalah pembelajaran bagi saya maupun pembaca, tentang cerita dari masyarakat yang mengabaikan keberkahannya.
Hafalannya banyak. Nyaris 30 juz jika iya konsisten menjadi seorang hafizah.Saya menghormatinya sebagai seorang teman. Namun saya sulit menyatakan pernyataan untuk meneguhkan kompetensinya tersebut. Iya suka memuraja'ahi lagu Taylor Swift, men-ziyadahi film Hannah Montana.
Refleksi kondisi lingkungan saya adalah sekumpulan dari orang orang yang mendekatkan dirinya pada al-Qur'an. Katakanlah Arif. Tidurnya mendengarkan rekaman murattal seorang syekh fasih. Bangunnya diringi kiprah senyuman dan kilasan waktunya mereka pergunakan untuk muraja'ah juz. Meski hanya awal-awal juz 30, 29, 28.
Yang saya pahami di sini adalah, banyak orang dalam dunia saya yang sebelumnya dihadapi. Mereka dengan kapasitasnya, belum mampu menganggap sebuah keberkahan itu ada. Mereka menggenggamnya, namun mengabaikannya. Belum mampu menginternalisasinya.
Saya tidak mencoba untuk meninggikan martabat sisi lainnya. Namun saya suka dengan cara mereka. Sedikit banyak, saya sepakat jika 'usaha' di sini adalah nilai yang ditinggikan. Bahwa seberapa sedikitnya hafalan kita, namun tetaplah masih ada semangat perbaikan.
Kadang juga menjadi bahan refleksi. Saya sadar betul jika harus diakui lahir dan tumbuh pada keluarga yang alhamdulillah mampu memahami agama dengan baik. Masa kecil kami dipenuhi tuntutan menjalankan syariat Islam ataupun bersikap selayaknya muslim. Namun, bagi seorang anak kecil, itu hanya menjadi kebiasaan yang belum bisa dinalarkan dalam logika kami yang masih rendah.
Baik si Azza ataupun Arif tetaplah menjadi seorang teman untuk saya. Teman yang konyol, bahkan. Namun, inilah komparasi dari bahan pelajaran yang dapat saya petik di sini.
Banyak orang yang kompeten, namun mengabaikan kapasitas mereka karena bukan menjadi bagian dari visi hidupnya.
Namun, ada juga yang bersungguh-sungguh meraih kompetensi itu, meski bukan bagian dari kapasitasnya. Terlebih, mereka mencoba menginternalisasinya dalam diri mereka :)
13 Jun 2014
11 Jun 2014
Keberkahan itu Dimana?
Saya sering dianggap skeptis. Senantiasa mengkritisi sistem yang ada. sampai pada titik dimana berpikir lebih baik diam, dan mengamati
bagaimana semesta di sekeliling kami beraksi dalam dalam porosnya
masing-masing. Dan saya pikir, inilah puncak dimana kita mempelajari ihwal
murni soal pelajaran kehidupan, tempat kita berkaca soal sikap yang benar dan
salah. Adil dan zalim. Kanan dan kiri. Dan segala konotasi yang sering kali
didikotomikan, seolah menunjukkan tidak adanya relasi ekivalen antara kedua
oposisi.
Sistem. Sederhananya, itu yang saya kritik. Lambat laun,
saya mencoba mengeneralisasi pada dua akar permasalahan. Apakah sistem yang
secara perlahan namun berkesinambungan memberikan doktrin pada kita soal
‘kanan’ dan ‘kiri’, atau ‘benar’ dan ‘salah’? atau memang kami adalah anomaly
yang terlalu meributkan hal yang sepele? Saya pikir tidak. karena itulah
manusia memiliki prinsip dalam hidupnya yang berkembang menjadi sebuah jati
diri.
Adalah mencari sebuah keberkahan.
Bagi saya pribadi, mencari sebuah keberkahan dari setiap
kegiatan yang kita lakukan adalah hal substansial yang ironisnya, sering kali
terabaikan. Atau merupakan sebuah beban moral yang sering kali dianggap enteng.
Ada hal yang rasional dan tidak, menurut perspektif saya.
Contohnya saja begini,
Terdapat dua aktor di sini. Sebut saja A dan B. Si A
meminjam modem B. Maka A harus menjamin kebermanfaatan modem akan terjaga
selama dipegang olehnya. Akadnya harus jelas, mengapa meminjam modem. “saya
ingin download materi kualiah di fb. upload surat. Posting notulensi.” Jika si
A menyepakati serangkaian agenda yang akan dilakukan B dengan modemnya, maka
dapat kita katakan sang keberkahan telah terjamin. Pun tidak dinyatakan, sebuah
rasionalitas manusia hendaknya mampu mengkomparasikan secara wajar hal baik dan
buruk. Lalu membuat konklusi sendiri bahwa, ‘saya meminjam modem ini, adalah
sebuah kemurahan hati dari A. Karenanya, balas jasa saya adalah memanfaatkannya
untuk tujuan2 yang baik.’
Sederhana. Dan saya pikir sangatlah rasional. Ironisya, hal
ini sering kali terabaikan.
Saat orang tua kita mengamanahi motor atau laptop bagi
seorang mahasiswa demi kelancaran proses kuliahnya, sudahkah setiap rute yang
kita lalui, atau setiap tuts keyboard yang kita tekan, mampu mengantarkan
paket-paket pahala bagi orang tua?
6 Feb 2014
aktor
diversitas/antimeanstream/kritis/berwawasan/unpredictable.
homogen/stagnan/bersama/mainstream/dogma.
saya mencoba memaknai lebih banyak tentang hidup. Kemudian, fakta untuk menjadi seorang observer of life sangatlah sulit,tanpa berusaha bertendensi pada golongan apapun. Barangkali, ini pemikiran radikal yang mengawal dari sitasi seorang politisi (baca: kawan). Saya hanya mencoba menjadi sang narator kehidupan, faktanya, saya tetaplah seorang aktor.
Bagaimanapun, saya tetap kagum dengan para "aktor" tersebut. Siapapun itu. Karena kita hanyalah manusia dengan segala keterbatasan wawasan.
homogen/stagnan/bersama/mainstream/dogma.
saya mencoba memaknai lebih banyak tentang hidup. Kemudian, fakta untuk menjadi seorang observer of life sangatlah sulit,tanpa berusaha bertendensi pada golongan apapun. Barangkali, ini pemikiran radikal yang mengawal dari sitasi seorang politisi (baca: kawan). Saya hanya mencoba menjadi sang narator kehidupan, faktanya, saya tetaplah seorang aktor.
Bagaimanapun, saya tetap kagum dengan para "aktor" tersebut. Siapapun itu. Karena kita hanyalah manusia dengan segala keterbatasan wawasan.
4 Feb 2014
those who memorizing quran
I do remember and miss the moment while i was young, full-of enthusiasm on memorizing every single ayat of Yours, the Glory who kholq samaa wal ard, wa ikhtilaaf fil lail wa an-nahaar. for those ulil albab.
For whom it may concern,
For whom it may concern,
People of the Quran should be like a mirror wherein people see the values and morals of the Glorious Quran and reflected. Ibn Mas'ud (may Allah be pleased with him) said, "The one who learn Quran by heart should be distinguished by his prayer and recitation at night while people sleep, his (earnest) works while people laugh, his silence whille people indulge (in nonsense), and his consciousness (of Allah) while people are conceited. One who memorized Quran, moreover, should be humble and tender-hearted. He should be not hard-hearted, disputant, vociferous, or harsh.(Yusuf Al-Qardhawi)
.sekat.
Ada sekat antara saya dan mereka
itu yang saya amat pahami di kali pertama masuk dalam dunia ini.
baik secara fisik -yang tak perlu kujelaskan apa itu, maupun secara ruhani.
Ada ilmu yang saya pahami,
wawasan yang saya ketahui,
kelebihan yang saya miliki,
...mereka tidak
Ada akhlak yang mereka ketahui,
ilmu yang mereka terapkan,
visi yang mereka bangun,
...saya tidak
apa itu menjadi dinding pembatas?
saya pikir, 'ya'
dalam beberapa kondisi, i dare to say.
namun, yang membuat saya terperangah. Adalah bagaimana lingkaran itu saling menjaga.
Dalam beberapa kesempatan, saya kerap melihat indahnya sebuah persaudaraan.
Atau beruntungnya memiliki sebuah relasi.
Atau dalam setiap guratan senyum yang menjadi khas mereka.
mereka homogen.
namun mereka membaur.
Aish, jangan memandang sebelah mata.
Ambil sisi baiknya.
kadang mengganggu. tentu saja.
mungkin itu hanya usikan negatif dari sang pengganggu.
..kata insan yang masih perlu banyak belajar dari mereka
Jakarta, 02 Februari 2014
29 Jan 2014
how's the "exact" meaning of time?
"How IS the exact meaning of TIME, based on "my" own perspective?"
note : 23rd August 2013
This question above begin my elaboration and contemplation in order on making this essay as the one who's having a place in social society (thats actually makes the writer seems choosing the wrong major -not to be the anthropologist one). It seeks to highlight the exact meaning of time based on others argument, then compare it to writer's own perspective. Consist of the case in everyday life of thinking from the simple-minded person. While it is interesting to be as an observer of life, as we are, the social human that unconsciously holding a role (whether its important or not) as a social-human person.
27 Jan 2014
menjadi *manusia* part 3
Tanpa sadar, dalam 3 hari ini saya
keranjingan menulis blog, rupanya. Sebuah intuisi yang jarang saya bangun *barangkali,
kebetulan saja karena di rumah ada akses internet, jadi terbayar sudah puasa hampir2
satu semester, nge-net, melsayakan hal2 tidak berguna seperti stalkerin
orang, dimana belakangan ini, saya pikir hal tersebut penting sebagai dalih
untuk standar kaderisasi.
Kemudian, saya mencoba
melanjutkan sebuah kisah yang mana, penting bagi saya untuk menuangkannya.
Sambil membayangkan ini menjadi sebuah memori indah yang akan terkenang, dalam
torehan senyum dari wajah saya nanti *futuristik mode on.
bismillahirrahmanirrahim,...
menjadi *manusia* part 2
bismillahirrahmanirrahim
"absurd"
Barang kali, itu kali pertama saya mengawali sebuah perenungan di tengah goresan malam dari lazuardi bertabur gemerlap rasi orion, kalau2 keberuntungan saya di tengah langit perkotaan bisa melihat messier 1. *kita cukupkan pembicaraan astronomi. Di sini kita tidak ingin membuka forum diskusi.
Saya ingat di satu malam, periode awalku memasuki sistem baru, teman saya menceritakan keluh-kesahnya pada saya. Kemudian, saya menjawab *selayaknya orang bijak yang dimintai nasehat*, untuk, "tidak menjustifikasi orang dari kali pertama kau melihat, atau bahkan dalam kali kesekiannya. Karena seberapapun kau mengenalnya, akan banyak hal menakjubkan yang mampu kau temui dari sisi lain seorang insan. Selayaknya kita memposisikannya sebagai objek dengan identitas beragam dan variatif, dan kita sedang memandang tinggi untuk nilai keunikan tiap individu tersebut,"
...bahasa sederhananya sih, kita gak bisa langsung berargumen, "gue gak suka dia... dia orangnya begini," dan sebagainya. Karena barang kali, yang kita lihat hanya refleksi permukaan dari bagaimana 'ekspektasi' dia untuk kita menganggap dia seperti apa? Jika dia berharap kita memandangnya sebagai orang bijak & kita memang betul kemudian berpikir dia orang bijak (nyatanya tidak sepenuhnya), artinya ia sukses membangun model karakter hingga paradigma kita seperti demikian adanya.
er,.. bagaimana? apa penjelasanku cukup jelas?
Kemudian, saya gemar memposisikan diri sebagai seorang observer of life, sebagaimana aku sering berujar pada teman sekamar saya yang senang saya ajak untuk berdiskusi. Bahwa manusia itu variatif. Masing-masing dari mereka unik.
dan poin pokok ke arah mana saya ingin bercerita adalah, bagaimana sistem -yang mana saya mengawali dari semester 3 kemarin, adalah sebuah tempat dimana (bagi saya pribadi) adalah murni didominasi orang2 yang saya memandang banyak pelajaran dari mereka. dan dalam memaknai betapa fitrinya perbedaan -meski sering kali saya merasa diri sebagai sosok minoritas yang tidak terdiskriminasi.
Saya baru mengawali cerita di sini, kawan.
"absurd"
Barang kali, itu kali pertama saya mengawali sebuah perenungan di tengah goresan malam dari lazuardi bertabur gemerlap rasi orion, kalau2 keberuntungan saya di tengah langit perkotaan bisa melihat messier 1. *kita cukupkan pembicaraan astronomi. Di sini kita tidak ingin membuka forum diskusi.
Saya ingat di satu malam, periode awalku memasuki sistem baru, teman saya menceritakan keluh-kesahnya pada saya. Kemudian, saya menjawab *selayaknya orang bijak yang dimintai nasehat*, untuk, "tidak menjustifikasi orang dari kali pertama kau melihat, atau bahkan dalam kali kesekiannya. Karena seberapapun kau mengenalnya, akan banyak hal menakjubkan yang mampu kau temui dari sisi lain seorang insan. Selayaknya kita memposisikannya sebagai objek dengan identitas beragam dan variatif, dan kita sedang memandang tinggi untuk nilai keunikan tiap individu tersebut,"
...bahasa sederhananya sih, kita gak bisa langsung berargumen, "gue gak suka dia... dia orangnya begini," dan sebagainya. Karena barang kali, yang kita lihat hanya refleksi permukaan dari bagaimana 'ekspektasi' dia untuk kita menganggap dia seperti apa? Jika dia berharap kita memandangnya sebagai orang bijak & kita memang betul kemudian berpikir dia orang bijak (nyatanya tidak sepenuhnya), artinya ia sukses membangun model karakter hingga paradigma kita seperti demikian adanya.
er,.. bagaimana? apa penjelasanku cukup jelas?
Kemudian, saya gemar memposisikan diri sebagai seorang observer of life, sebagaimana aku sering berujar pada teman sekamar saya yang senang saya ajak untuk berdiskusi. Bahwa manusia itu variatif. Masing-masing dari mereka unik.
dan poin pokok ke arah mana saya ingin bercerita adalah, bagaimana sistem -yang mana saya mengawali dari semester 3 kemarin, adalah sebuah tempat dimana (bagi saya pribadi) adalah murni didominasi orang2 yang saya memandang banyak pelajaran dari mereka. dan dalam memaknai betapa fitrinya perbedaan -meski sering kali saya merasa diri sebagai sosok minoritas yang tidak terdiskriminasi.
Saya baru mengawali cerita di sini, kawan.
Langganan:
Postingan (Atom)